Agen Judi Online Terbaik | Cerita dewasa terbaru ini merupakan cerita yang di kirim oleh salah satu sorang yang tidak mau di sebut namanya mungkin karena malu.
Cerita sex 2016 kiriman ini merupakan hal yang masih baru dan juga bisa dikatakan masih fresh dech karena juga baru di tulis dari sebuah pengalaman di saat bercinta dengan gadis desa yang memang dikatakan cantik juga anaknya.
Cerita Ngentot | Kalau kita melihat dia mungkin juga bisa ngaceng dech kontol kita karena selain cantik juga sexi bentuk tubuh dan wajahnya juga pkoknya menyenangkan. Kehidupan keluarga di desa yang kurang mampu membuat Fikri berniat pergi merantau ke kota, disertai izin orang tuanya Fikri pun menerima tawaranku untuk pergi ke kota dan bekerja di toko kaset tanteku di jakarta.
Sambil menunggu keberangkatan pegawai di toko tanteku yang ingin pulang kampung dan menikah, Fikri sementara tinggal dirumahku.
Fikri memiliki tubuh yang tegap,dengan tinggi 155cm dan usia yang baru 14 tahun.
Walaupun agak pendiam,Fikri tergolong anak yang penurut dan rajin.
Sikap Fikri yang santun, mau belajar dan bertanya membuat istriku senang dengan kehadiran Fikri dirumah. Apalagi terkadang sifat lugu si Fikri kerap membuat istriku tertawa.
Akupun simpatik dengan sikap dan sifat Fikri, sehingga aku tak sungkan untuk ikut menyiapkan keperluan Fikri sebelum nanti berangkat kerumah tanteku.
Baju kaos,kemeja, celana panjang, sampai celana pendek, entah baru dibeli maupun bekas dimasukkan ke kardus agar bisa Fikri bawa saat berangkat nanti.
Tak ada hal yang negatif yang muncul dari kehadiran Fikri dirumahku. Andaikata ada, mungkin itu adalah tatapan Fikri yang agak tajam saat menangkap belahan dada istriku yang kadang tak sengaja terlihat saat membungkuk.
Sering kutangkap moment itu yang kemudian membuatku akhirnya bertanya pada istriku.
Ternyata istriku pun tahu dan juga menceritakan kejadian di siang hari waktu Fikri naik keatas bangku untuk mengganti lampu dapur, dimana kala itu istriku yang memegangi bangkunya. Bisa kubayangkan apa yang dilihat Fikri, apalg kaos ketat dengan bagian dada rendah adalah kostumnya saat itu.
Tambah lagi dengan Senyum dan cubitan istriku saat bercerita, jadi tanda bhw hal2 tadi terkadang juga disengaja oleh istriku.
“Jgn marah ya,pa..abis lucu liat mukanya”,goda istriku.Aku cuma bisa mesem saja.
Hal itu membuatku juga jd iseng mau mengetes si Fikri.
Suatu malam,istriku sudah tidur duluan dikamarnya, seperti biasa Fikri dan aku msh menonton Tv.
“bosen ya, Fik..acaranya gini-gini aja”,ujarku santai.
“iya yah,mas..aku jg ga ngerti film’nya nyeritain apa”,sahut Fikri.
“kita nyetel DVD aja ya,Fik”,kataku sambil bangkit dr dudukku.
“emang pilem apa,mas ?”,tanya Fikri dengan nada bersemangat.
“pilem orang dewasa..”,jawabku sambil nyengir.
Fikri manggut-manggut saja, tp kulihat ada tanda paham dari wajahnya.
Ku setel salah satu koleksi Miyabi ku dan ambil posisi duduk bersampingan dengan Fikri.
Kusulut sebatang rokok berbarengan dengan adegan film yang sudah dimulai.
Maria Ozawa yang cantik mulai berlenggak lenggok di layar kaca, menunjukkan keseksiannya didepan dua orang laki-laki sebagai ‘lawan’nya di film ini.
Ada rasa lucu didalam pikiranku,sejak 20menit film berjalan, Fikri diam saja, matanya tak lepas dari Tv didepannya, apalg saat adegan blow job yang ditampilkan sang Miyabi, nafas Fikri kulihat agak berat, kedua kakinya menjepit rapat.
“pernah nonton pilem ginian ga, Fik?”,ujarku menyela.
“udah pernah,mas..dulu dirmh temen, tp artisnya orang barat”,jawab Fikri tetap dengan nada yang sopan.
“ooh,baguslah..gpp kok,udah gede”,jawabku cepat.
Fikri kembali lagi menatap layar Tv, kini terlihat sang artis sdg menikmati jilatan pada memek’nya sambil terus memberi blow job. Untuk melayani dua orang laki-laki, artis satu ini termasuk sudah sangat berpengalaman.
“suka ngocok, Fik?”,tanyaku langsung saja.
Fikri agak kaget mendengar pertanyaanku,tp ia tetap brusaha tersenyum.
“eh iya, mas..pernah”,jawab Fikri agak malu.
“kamu ampe ngempet gt”,ujarku pelan.
Fikri spontan membuka kakinya. Kulihat ia berusaha menutupi rasa malunya dengan merapikan posisi duduknya menjadi bersila.
“gpp, Fik..mas juga dulu gitu”,ujarku santai.
Fikri pun tersenyum lagi dan mengangguk pelan.
Selanjutnya kuciptakan obrolan akrab agar dia tak grogi, skalian mengorek kebiasaan serta berapa besar ketertarikan Fikri trhadap yang namanya seks.
Sengaja kuselipkan sosok istriku dalam obrolan untuk melihat respon si Fikri. Dan saat kubahas mengenai buah dada istriku yang montok,kulihat Fikri manggut-manggut sambil nyengir.
“pasti kamu pernah ga sengaja liat, Fik”, pancingku pada Fikri.
“iya,mas..emang montok”,jawab Fikri pelan.
Aku dan Fikri pun tertawa kecil.
“penasaran ya,Fik”, godaku sambil nyengir.
Fikri tak menjawab, tp cengiran’nya sudah jadi tanda bhw ia setuju dengan ucapanku.
Kulanjut obrolanku supaya Fikri bisa tambah berani mengungkapkan gairah seksnya.
Dari situ akhirnya aku tahu kalau dia sering onani, dan sering ngintip sepupu perempuannya waktu di kampung. Walau demikian,dia belum pernah ML dengan gadis manapun alias masih perjaka. Lain cerita kalau meraba payudara, biarpun agak malu-malu, ia mengakui pernah meremas payudara seorang gadis yang jadi temannya mengaji waktu di kampung ada hajatan yang menggelar layar tancap.
Dan yang terpenting dan terdengar agak menggelitik adalah saat ia menceritakan istriku yang pernah memakai tanktop tanpa bra sehingga puting susunya terlihat menantang.
Aku tersenyum mendengar cerita itu dan yakin sekali kalau kejadian itu pasti disengaja istriku.
“gpp,Fik..ga usah malu, yang penting kamu kan ga kurang ajar, yang namanya keliatan, ya nikmati aja”,ujarku dengan nada dewasa agar Fikri tidak kuatir dengan apa yang telah ia ceritakan kepadaku.
“kamu berarti hobi ngintip ya?”,kataku melanjuntukan obrolan.
“yah,itu juga kalo ada sela’nya,mas”,jawab Fikri yang nampak lbh santai dari sebelumnya.
Aku tersenyum dan otakku terinspirasi jawaban si Fikri.
“hbs nonton ginian juga pasti langsung ngajakin mbaknya maen”,ujarku sambil menyulut lg rokokku.
Fikri nyengir lebar,
”ya iyalah,mas”
Aku bangkit kearah Tv, kumatikan film yang sedang berlangsung, Fikri menatapku tak mengerti, apalg saat kumatikan semua lampu-lampu yang biasa padam diwaktu malam.
Setelah itu kududuk lg disebelah Fikri yang masih bengong.
“mas mau masuk kamar yah..nanti pintu kamar ga aku tutup semua”,ucapku setengah berbisik.
Fikri agak terkejut, jelas sekali ia tak menyangka dengan apa yang ku ucapkan.
“tapi,mas..”,jawab Fikri ragu-ragu.
“gpp, udah gede, biar tahu caranya”,sahuntuku dengan nada dewasa.
Fikri mengangguk pelan. Aku pun mengedipkan mataku agar Fikri bisa kembali rileks. Kumatikan rokok yang baru kunyalakan tadi di asbak dan bangkit berjalan masuk ke kamar tidur.
Kubangunkan istriku dengan kecupan lembut disertai dengan belaian dirambutnya.
“Mama,aku pengen nih”,bisikku sambil mencumbu lehernya.
Sambil menggeliatkan tubuhnya, istriku menoleh kearah pintu yang setengah terbuka. Aku tahu itu dan segera mengedipkan mata,memberi kode kepada istriku. Satu cubitan kecil jadi pertanda bhw ia mengerti maksudku. Perlahan diraih bahuku dan mulai menenggelamkan diri kedalam permainan.
Sambil mengulum bibir istriku kubuka kancing baju tidurnya satu persatu dan dengan perlahan kepalaku mulai turun ke dadanya
.
Kujelajahi daging kenyal yang montok milik istriku dengan menjilati kulit halusnya, pelan tapi pasti hingga akhirnya terpusat ke puting susunya yang tegang terangsang.
Belum kulihat ada tanda-tanda orang mengintip dari arah pintu kamar, sementara itu nampaknya istriku sudah mulai membalas rangsanganku dengan gigitan-gigitan kecil didadaku dan beringsut makin kebawah.
Kuambil posisi duduk bersandar pada tumpukan bantal saat istriku mulai menjilati peruntuku dan perlahan menurunkan celana pendek yang kukenakan.
Rasa gemas dan gairah membuatku tak sabar, kuloloskan saja sekalian celana yang kupakai hingga kini tampaklah penisku yang tegang menantang.
Merespon tindakanku, istriku pun mulai melancarkan serangannya pada batang penisku.
Diawali dengan satu jilatan kecil yang menyapu lendir bening dikepala penis, disusul dengan jilatan lembut pada bagian batang hingga kebawah, istriku memulas penisku dengan mulutnya sedemikian telaten hingga kemudian dengan lembut ia memasukkan penisku kedalam mulutnya.
Dengan perlahan kepala istriku pun mulai turun naik, jilatan-jilatan kecil diujung kepala penis didalam mulutnya,tambah lagi hisapan lembut dari mulutnya membuatku terlena.
Mungkin itulah yang membuatku baru tersadar bhw dipintu kamar sudah ada sepasang mata yang mengintip permainanku dengan istri.
Kurasa istriku lebih dulu menyadari itu sehingga ia memberiku cubitan khasnya sambil terus melakukan blow job.
Lenguhan dari mulut istriku yang melumat penisku, diiringi rasa nikmat yang kurasakan mengembalikan fokusku pada permainan.
Kuangkat kepala istriku agar bisa kulumat bibirnya, tanganku kembali bermain di dadanya yang kini terbuka dan nampak begitu menggairahkan tertimpa cahaya lampu tidur yang remang-remang.
Desahan istriku pun terdengar hebat, apalg saat muluntuku kembali merangsang puting susunya yang kenyal. Nampak tangan istriku perlahan menurunkan celana tidurnya.
Tanganku cepat kebawah menyambut gairah istriku, belahan memeknya yang basah kini jadi sasaran jari-jari ku.
Dengan puting dihisap dan permainan jariku di memek’nya,istriku terus mendesah sambil meremas rambuntuku.
“pa, udah dong, kapan nih”,tiba-tiba istriku merajuk.
Tak segera menjawab, kusempatkan mataku untuk melirik kearah pintu, satu bayangan kepala kulihat disana. Aku yakin
Fikri sudah betah dengan apa yang diintipnya.
Dorongan kecil membuat tubuhku kembali tersandar di tumpukan bantal dibelakangku.
Istriku melumat bibirku dengan nafsu. Tubuhnya menyusun posisi, dan tekanan telapak tangannya didadaku seakan-akan melarangku bergerak. Perlahan dalam cumbuan istriku, kurasakan satu liang lembab dan hangat kini perlahan menelan batang penisku, memulas dengan denyutnya, terus kebawah hingga masuk seluruhnya.
Aku menarik nafas sambil bersiap untuk menerima penetrasi.
Dengan tatapan lembut dan menantang, istriku pun mulai menari. Naik turun pinggulnya benar-benar membuatku serasa jadi raja.
Tak segan tanganku meraih buah dadanya yang tersentak-sentak akibat gerakan tubuhnya.
Sesekali istriku terhenti dan menarik kepalaku ke dadanya sambil menekan penisku dalam-dalam ke memeknya, saat itulah didalam memek’nya, penisku seperti dilumuri lendir hangat. Beberapa saat istriku seperti melayang dalam nikmatnya untuk kemudian mengayun lagi.
Melihat peluh istriku yang menetes didorong juga oleh hasrat ingin membalas, kupeluk istriku, kuatur kedua kakinya dan perlahan kuarahkan ia agar berbaring. Dan akupun mulai bekerja.
Dengan irama yang teratur, diselingi sentakan dan tekanan pada memek istriku, kubuat istriku makin terlena.
“papa, ayo bareng-bareng?,ucap istriku merajuk.
“iya,sayang..bentar yah”,jawabku sambil mencium kening istriku.
Tetap kuteruskan ayunan pinggulku, ku lesakkan terus menerus penisku ke memek’nya.
Sampai pada satu titik, kurebahkan dadaku hingga menempel di dada istriku, kuatur kakiku lurus sejajar dengan istriku.
Istriku mengerti dan memeluk pinggangku dengan kedua tangannya.
Dengan gerakan yang seirama, kami berdua berjuang mencari satu titik yang sama.Titik yang jadi final dari tiap percintaan. Dan saat kami menemukan, kami berdua pun terbang bersama-sama, beberapa saat kami seperti lupa dan terus menikmati sampai akhirnya mereda.
Kecupan kecil dikening istriku sudah jadi kbiasaan yang kulakukan tiap selesai bercinta.
Perlahan ku turun dari tubuh istriku yang masih terkulai lelah. Sambil memberi selimut, kukedipkan mata kepada istriku sambil beranjak keluar.
“aku ke kamar mandi duluan ya,ma”,suaraku agak lantang mengiringi langkahku menuju pintu kamar.
Diluar kamar,ternyata Fikri sudah berdiri didepan pintu kamar mandi menungguku.
“gimana,Fik?”,tanyaku berbisik.
Fikri tak mau bersuara krn takut terdengar, dia hanya mengangkat jempolnya sambil menunjukkan wajah salut.
Aku mengerti dan pasang senyum,
”ya udah, tidur gih, besok aja bahasnya”,ucapku masih berbisik.
Fikri mengangguk, pelan-pelan dia masuk ke kamarnya sendiri.Tak lupa ia agak membungkuk sebagai tanda dia pamit masuk kamar.
Tak berlama-lama lagi kuteruskan niatku ke kamar mandi, disusul oleh istriku yang juga mau bersih-bersih. Baru kemudian kembali ke kamar dan tidur.
Selang seharian aku tetap berangkat kerja seperti biasa sehingga blm sempat menanyakan kesan dan komentar Fikri atas kejadian semalam. Namun saat jam makan siang lewat telpon istriku menjelaskan kalau sikap Fikri tampak biasa saja, malah jadi lebih malu-malu dibanding sebelumnya.
“pokoknya kamu tenang aja,pa..ini aku habis ngetes lagi nih”,ujar istriku ditelpon.
“ngetes apaan ?”,tanyaku heran.
“pokoknya nanti pulang aku kasih tau kamu”,jawab istriku singkat sebelum pembicaraan lewat telepon ini berakhir.
Sekitar pukul setengah enam aku sampai rumah,setelah mandi dan makan, istriku meminta diantar ke apotik untuk membeli antibiotik, sementara itu kulihat Fikri bersikap seperti biasa.
Setelah belanja obat,istriku mengajak aku mampir untuk minum es campur kesukaannya.
Sambil menikmati es campur, istriku pun bercerita bhw tadi siang dia sengaja memakai kaos ketat tanpa bra dan nonton Tv bersama Fikri.
Dan istriku pura-pura tertidur diatas kasur tipis didepan Tv,dimana ia sengaja mengatur posisi terlentang agar bagian dadanya yang tanpa bra bisa terlihat oleh Fikri.
Dan dlm posisi pura-pura tidur itulah istriku membiarkan Fikri yang ternyata berani membelai dada istriku. Menurut
istriku, Fikri cukup lama membelai dada dan memainkan puting istriku yang menonjol di kaos ketatnya.
Istriku bercerita dengan nada lucu, sehingga aku jadi ikutan tertawa.
“nah,kamu nakal yah”,godaku pada istri.
“habis anaknya ngegregetin”,sahut istriku mencibir.
“huuu, demen yah”,kataku sambil mencubit dagu istriku.
“kaya ga cemburu aja kamunya”,jawab istriku cepat.
“tergantung..”,ucapku sambil menatap wajah istriku.
“tergantung apaan?”,tanya istriku.
“tergantung kamu ngapain”,sahuntuku nyengir.
“alaaa,nanti kamu ngambek”,goda istriku.
“emang kamu mau ngapain?”,tanyaku.
Istriku tertawa kecil. Dan matanya menatap ke wajahku lamat-lamat.
“papa maunya aku ngapain?”,tanya istriku sambil senyum menggodaku.
“wah,ga tau ya,ma..”,jawabku bingung.
“emang kalo aku ngapa-ngapain,kamu ga marah?”,tanya istriku masih dengan nada menggoda.
“marah dong, apalagi aku ga tau”,jawabku cepat.
“kalo kamunya tau, boleh dong?”,tanya istriku makin berani.
Aku tak menjawab dan mengajak istriku bergegas pulang. Istriku tertawa menggodaku, aku pun ikut tertawa.
Sampai dirumah, Fikri seperti biasa membukakan pintu,menyambut kami dengan santunnya. Setelah kejadian tadi malam apalg tadi siang, Fikri nampak pandai dalam bersikap.
Setelah menutup pintu pagar, Fikri langsung sigap menyapu teras rumah.Kususul istriku yang sudah masuk ke kamarnya.
Senyumanku dibalas cibiran oleh istriku. Kulihat ia bersiap untuk mandi. Baju tidur model terusan berbahan lembut sudah ia siapkan ditepi ranjang.
“ma, kamu nanti pura-pura mabuk bisa ga?”,tanyaku sambil senyum.
“pura-pura mabuk gimana?”,ucap istriku bingung.
“pura-pura mabuk obat perangsang gitu..jd kamu kaya fly, tp tetap ada respon”,jelasku tetap mengulum senyum.
Istriku tampak berpikir sebentar untuk mencerna kalimatku.
“maksud kamu buat…”,istriku berujar agak sangsi.
“ya iyalah, pokoknya kalo nanti kamu disuguhin teh manis, selang berapa menit, kamu awali dengan pusing aja”,jawabku cepat.
Istriku nyengir, cubitannya pun mulai beraksi.
“tapi kan susah juga lho,pa”,ujar istriku.
“ga usah ribet, targetnya juga ga ngerti kok soal mabuk-mabuk gitu”,jawabku.
“pokoknya kamu atur setelah minum teh manis,ok”,kataku sambil mencolek dagu istriku.
Istriku mencibir dan mulai bergegas untuk mandi. Akupun menghampiri meja rias di kamar untuk mencari botol obat tetes mata yang terakhir kulihat sudah hampir habis.
Dengan cepat kubawa botol kecil itu ke dapur, segera kucuci bersih dan kuganti isinya dengan air putih biasa.
Selesai itu, dengan langkah cepat, kuhampiri Fikri yang sekarang sedang mengepel lantai teras depan.
“Fik, bentar deh”,panggilku dengan nada santai.Fikri pun menghampiri.
“habis ini kamu bikinin teh manis buat mbak, bisa kan?”,tanyaku agak berbisik.
“bisalah,mas”,jawab Fikri cepat.
“Nah, kamu masukin ini kedalam teh manisnya”,tambahku sambil memberikan botol kecil bekas obat tetes mata kepada Fikri.
“apaan nih,Mas?”,tanya Fikri heran.
“obat perangsang,udah..lakuin aja,ok”,jawabku singkat.
Fikri masih ragu tapi senyum tipis terlihat saat mendengar jawabanku.
“oke deh,mas”,kata Fikri sambil manggut-manggut.
“tuang aja semua, biar makin mantep”,ujarku menambahkan.
Fikri mengangguk tanda mengerti dan memasukkan botol kecil tadi ke saku celananya.
Akupun masuk kedalam rumah dan duduk didepan Tv,tak berapa lama terdengar suara langkah istriku keluar dari kamar mandi yang kemudian menuju ke kamar tidur.
Dari teras depan, Fikri langsung ke dapur, tak lama kemudian terdengarlah suara sendok mengaduk pertanda Fikri telah membuat teh manis untuk disuguhkan ke istriku.Diletakkan teh manis tadi diatas meja makan sambil mengangkat jempolnya kepadaku. Aku mengangguk sambil tersenyum.
Tak lama kemudian, muncullah istriku dengan baju tidur terusan bertali kecil dan berwarna pink yang tadi ia sudah siapkan.
“wah,Fikri tau aja..belum diminta,udah dibikinin”,ucap istriku segar mengomentari segelas teh manis hangat diatas meja.
“iya,mbak..”,jawab Fikri agak tersendat. Matanya melirik sebentar kepadaku.Kubalas lirikannya dengan satu kedipan mata.
Kulihat istriku pelan meminum teh manis buatan Fikri yang masih agak panas. Belum habis semua, dibawanya gelas teh itu dan duduk disampingku.
Kusetel Tv untuk memberi kesan santai.
“kita nonton Tv,Fik..”,ajakku dengan nada rileks.
Fikri senyum dan ikut duduk agak jauh dariku,matanya tertuju kearah Tv sambil sesekali melirik istriku yang juga menatap Tv sambil meminum teh manis sedikit demi sedikit.
Bra merah yang terbungkus baju warna pink menampakkan kesan seksi pada penampilan istriku malam ini.Kurasa itu juga yang jadi perhatian Fikri saat melirik istriku, apalg mengingat tadi siang ia sudah meraba dada istriku yang pura-pura tertidur, pasti sensasinya masih terbayang di benak Fikri.
Istriku melirik kearahku saat segelas teh manis di tangannya telah habis ia minum.Sebentar ia bangkit ke dapur untuk menaruh gelas kosong ditempat cucian piring, dan kembali duduk disampingku sambil terus menatap acara Tv didepannya.
Kulirik Fikri yang kurasa juga melihat hal itu, dan kini yang kulakukan adalah menunggu istriku beraksi.
Kurang lebih 15menit kemudian, istriku pun memulai.
“kepalaku kok puyeng ya,pa”,ujar istriku
“kok bisa?”,sahuntuku pendek sambil melirik Fikri.Fikri pun menatapku.
Perlahan istriku menyandarkan kepalanya dibahuku.
“pijitin kepalanya,pa”,ucap istriku dengan nada merajuk.
Kuatur posisi agar bisa menunaikan permintaan istriku. Kupijat keningnya pelan dan sementara sengaja kuatur sedemikian rupa menggeser-geser tali kecil baju tidur istriku agar lolos dari pundaknya.
Sesekali kulirik Fikri yang dari wajahnya sudah mulai tegang.Apalg waktu tali kecil dipundak istriku lolos turun dari tempatnya. Dengan begitu belahan dada istriku yang dibalut bra merah jadi lebih terlihat daripada sebelumnya.
Pijatanku mulai turun ke tengkuk istriku, mata istriku nampak terpejam dan bergerak seperti gontai, kudekatkan wajahku ke telinga kirinya, agar ia bisa merasakan hembusan lembut dari nafasku.
Terdengar desahan manja dari mulut istriku yang kemudian semakin merapatkan tubuhnya kepadaku. Untuk seorang Fikri yang masih lugu, kurasa sikap istriku sudah cukup meyakinkan.
Kulirik Fikri yang tak henti-hentinya menatap istriku yang kini seperti lemah tak berdaya, senyum kecil terulas kearahku saat ia lihat istriku tak sadar waktu telapak tangan kananku mulai membelai dada montoknya. Tak segan sesekali kuremas dengan lembut dada istriku untuk meyakinkan Fikri bhw obat perangsang yang ia taruh dalam teh manis tadi sudah bekerja.
Kuberi isyarat agar Fikri mendekat, ia pun menurut, kini tubuh istriku berada tepat didepannya. Remasanku di dada montok istriku pun lbh jelas terlihat. Sedangkan istriku bersikap seperti orang ketiduran, sesekali saja desahannya terdengar pelan mengiringi rangsangan yang kuberikan kepadanya.
Melihat mata istriku yang terpejam, Fikri tak malu-malu lagi menatap tubuh istriku.
Kusingkap lagi bagian depan baju istriku, Fikri nampak makin bernafsu.
Kuarahkan belaianku lebih kedalam, istriku menggeliat pelan, bibirnya membuka mengeluarkan desahan lembut yang semakin membangkitkan gairah.
Kuberi kode buat Fikri memberi tawaran kepada Fikri agar ikut menyentuh dada montok istriku.
Fikri mengulas senyum tipis. Dengan pelan, tangannya pun mulai terulur kearah belahan dada istriku, kuturunkan jemariku membiarkan Fikri bermain di dada istriku. Sebagai gantinya, ku beri kecupan-kecupan kecil di leher istriku.
Istriku menggeliat lagi. Segera kutangkap bibir merahnya dengan bibirku, bersamaan dengan itu Fikri pun meremas dada istriku dengan telapak tangannya.
Remasan Fikri membuat buah dada istriku tergerak naik jadi hampir keluar dari balutan bra merahnya. Melihat itu Fikri makin semangat, nafasnya memburu, Fikri pun semakin berani. Tangan kirinya mulai membelai paha istriku sementara tangan kanannya sudah mulai bermain di puting istriku yang kini mencuat keluar dari bra merahnya yang turun akibat remasan tadi.
Desah istriku makin jelas terdengar, Fikri tambah bernafsu, apalg saat melihat istriku menciumi leherku dengan mata terpejam. Kukedipkan mataku skali lagi pada Fikri. Senyum tipisnya kembali terulas, namun kini bercampur aduk dengan gejolak gairahnya yang menyala.
Kulumat lagi bibir istriku sambil perlahan mengatur posisi agar Fikri lebih leluasa menikmati dada istriku. Benar saja, tanpa ragu lagi, Fikri pun menggerakkan kepalanya kedepan dan dengan gemas menangkap puting susu istriku yang menegang dengan mulutnya.
Istriku sempat tersentak menerima rangsangan itu. Rasa nikmat menjalari tubuhnya kian dalam, tangannya pun meraih kepala Fikri yang sedang terbenam didadanya. Fikri sempat melirik kepadaku, kurespon dengan mengangkat jempolku sesaat. Tampaknya Fikri yakin dengan iming-iming obat perangsang pemberianku yang telah ia tuang di teh manis yang diminum istriku. Ia pun kembali membenamkan wajahnya ke dada istriku dan membasuh kenyalnya dada montok istriku dengan lidahnya.
Tangan istriku meremas rambut Fikri, sementara itu bibirnya menciumi leherku. Tangan Fikri yang tadi membelai-belai paha istriku pun kini sudah mulai naik keatas, menuju daerah lembab di selangkangan.
“enak ga,ma?”,tanyaku mesra.
“uuh,papa jahat”,jawab istriku ditengah gairahnya. Matanya setengah terpejam dan kulihat ia sebentar melirik Fikri yang makin terlena didadanya.
Sekali lagi istriku tersentak, jari-jari Fikri ternyata telah sampai di tujuannya,perlahan masuk ke balik celana dalam istriku dan mulai bermain disana.
Menyesuaikan permainan Fikri, kuarahkan istriku agar berbaring, dengan begitu tangan Fikri bisa bebas bermain di memek istriku.
Dengan posisi terlentang begitu, berganti aku yang memberi rangsangan di dada istriku, sementara Fikri kubiarkan menjelajahi memek istriku dengan jemarinya.
Tak henti-hentinya istriku mendesah sampai satu pekikan kecil pun terdengar saat celana dalamnya disingkap dan jari Fikri menyeruak masuk ke liang memek’nya. Tanpa rasa malu lagi Fikri pun tak segan sesekali menggunakan mulutnya untuk memberi rangsangan di daerah itu.
“buka ya,ma”,ujarku lembut pada istriku yang cuma dijawab dengan anggukan pelan.
Kuberi isyarat pada Fikri, Fikri pun mengerti dan perlahan membuka celana dalam istriku.
Melihat liang kenikmatan didepan matanya, Fikri seperti gelap mata, tak ayal lagi kepalanya maju untuk mencicipi memek istriku dengan mulutnya.
Hal ini tentu diluar dugaan, lidah Fikri yang liar menjilati memek istriku dengan rakusnya. Istriku lagi-lagi tersentak menerima rangsangan yang dilancarkan Fikri di memeknya.
Rasa nafsu mulai menguasaiku, kukeluarkan penisku dari celana yang cepat diraih oleh istriku diiringi desahnya yang kian rapat.
Perlahan mulai kuatur lagi posisi dudukku, mendekatkan penisku ke wajah istriku. Merasakan gelagat itu,istriku sempat membuka matanya dan menatap ku tajam, tp ku tak terlalu menghiraukan, dengan lembut kubelai rambut istriku dan menempelkan ujung penisku dibibirnya.
Lumatan Fikri yang liar membuyarkan tatapan istriku, gejolak nafsu kembali melanda, dengan menoleh ke kiri,diraihlah penisku masuk ke mulutnya.
Kepala dan pinggul istriku terjebak dalam sensasi nikmatnya memberi dan menerima. Mungkin ia pun sudah lupa rencana awal yang mana dia harus bersikap seperti orang mabuk, yang kulihat kini nafsunya yang bicara.
Setelah puas menjilati selangkangan istriku, Fikri mengangkat kepalanya, cepat kuulur tanganku dan mengirim jariku untuk bermain di memek istriku. Hal itu sengaja kulakukan agar tak ada yang hilang dari sensasi yang dirasakan istriku, sementara kuberi isyarat agar Fikri berganti posisi.
Fikri pun pindah kini ke sebelah kanan tubuh istriku, kuberi isyarat lagi pada anak itu untuk membuka celananya. Pertama Fikri tampak ragu, namun tatapan mataku membuatnya memilih untuk menurut saja.
Fikri membuka celananya, tampak penis Fikri yang tak terlalu besar namun sudah sangat tegang.
“bentar ya,ma”,ucapku mesra sambil memundurkan pantatku agar penisku keluar dari mulut istriku.
Istriku mengeluarkan desahan merajuk, ku arahkan kepalanya dengan lembut kearah kanan, Fikri menatapku seakan tak percaya. Dengan mata setengah terpejam istriku memecah kebisuan dengan meraih penis Fikri masuk ke mulutnya. Kulihat Fikri mengejang. Nafasnya makin memburu. Kini lebih mirip orang megap-megap. Bersahut-sahuttan dengan lenguhan dari mulut istriku yang sedang melumat penisnya.
Melihat itu kurasa sudah waktunya aku bekerja, cepat ku ambil posisi setengah duduk diantara kedua paha istriku dan menggapai dada istriku dengan telapak tanganku, perlahan tapi pasti, ujung penisku mencari sarangnya.
Pada satu titik yang hangat, penisku pun menyeruak masuk, rasa hangat meliputi penisku yang makin dalam menyusup. Kuteruskan dengan perlahan, dan kuberi tekanan saat benar-benar masuk seluruhnya.
Lenguhan nikmat keluar dari mulut istriku yang tersumpal oleh penis Fikri. Dengan penuh perasaan akupun memulai tugasku. Kuayun pinggulku dengan ritme pelan sambil sesekali memberi sentakan.
Sensasi memberi dan menerima kembali istriku rasakan. Ia terus berusaha memberi kocokan pada penis Fikri dengan mulutnya, sementara itu penisku terus bermain mundur maju di memek’nya.
Tak lama kemudian tiba-tiba Fikri menengadah. Terdengar lenguhan istriku seperti terkejut. Tangan Fikri menahan kepala istriku dengan kuatnya, desis dari mulut Fikri terdengar parau. Hingga beberapa detik terlihat Fikri seperti melayang.
Kuperlambat ayunan ku, kulihat ada cairan putih kental yang tercecer dari sela bibir istriku. Dan kini dengan telaten istriku pun mulai memberi sentuhan akhir pada penis Fikri yang barusan muntah dimulutnya.
Dengan wajah malu, seperti tersadar dari mimpi, Fikri melirik ke arahku dan memberi isyarat pamit ke kamar mandi. Kujawab dengan anggukan cepat, bergegas ia mengambil celananya dari lantai dan melangkah cepat kearah kamar mandi.
Aku kembali pada tugasku, cubitan kecil istriku seperti mengembalikan gairah yang tersendat barusan. Kuayunkan lagi penisku kini dengan ritme yang lebih cepat. Sampai pada akhirnya bersamaan dengan istriku mencapai klimaks’nya.
Istriku tampak kelelahan, begitu pun aku. Tapi harus kuabaikan lelahku, setelah meraih celanaku yang tercecer dilantai, bergegas aku menuju kamar mandi.
Kudapati Fikri ada disana baru selesai bersih-bersih.
“Fik,kamu langsung tidur aja,biar mas ya urus..mumpung mbak’nya belum sadar bener”,ucapku sambil berbisik. Fikri mengangguk cepat.
Rasa malu, takut dan lelah memancar dari wajahnya, bergegas ia menuju kamar tidurnya dengan langkah tak bersuara.
Mendengar suara pintu kamar Fikri yang ditutup, istriku pun bangkit menuju kamar mandi. Dan kami pun mandi, membersihkan diri dari keringat dan lendir akibat permainan tadi. Karena lelah, kamipun segera masuk kamar dan tertidur.
Sudah tiga hari sejak malam penuh gairah yang kualami bersama istri dan Fikri.
Tak ada yang berubah dari sikap Fikri, malah kulihat ada malu yang amat sangat diwajahnya saat ku bertanya soal kejadian terakhir. Istriku pun kusuruh bersikap biasa saja. Karena Fikri benar-benar percaya kalau waktu itu istriku dalam keadaan mabuk berat dan kemudian menyangka permainan itu adalah hanya antara aku dan istriku.
Beberapa hari kemudian Fikri pun berangkat kerumah tanteku. Tak ada yang berubah saat suatu hari aku mampir ke toko kaset tanteku. Fikri tetap santun, malah seperti malu membahas kejadian terakhir dirumahku.
Kurang lebih 6 tahun Fikri bekerja di toko kaset tanteku, hingga akhirnya Fikri pulang kampung karena bapaknya meninggal, dan tidak kembali lagi karena harus menjaga ibu dan adiknya.
Selang beberapa bulannya, Fikri pernah menelponku dari kampungnya, mengabarkan bhw ia ingin melangsungkan pernikahan, ia berharap sekali aku hadir. Namun karena jadwal kerjaku, aku tak bisa memenuhi undangannya.
Dan terakhir kali kudengar, Fikri sudah beranak dua.
Kusampaikan kabar baik itu ke istriku. Satu cubitan kecil yang khas mendarat di peruntuku.
“ih, kok nyubit sih”,ujarku sambil menangkap pegelangan tangan istriku.
“semua gara-gara kamu tau..”,jawab istriku masih terus berusaha mencubit.
“iya, jadi si Fikri males kerja,malah kepengen kawin”,jawab istriku lagi.
Aku pun tertawa sambil mendekap tubuh istriku. Istriku pun ikut tertawa dan kembali mencubit peruntuku.
Dan kamipun larut dalam canda penuh kemesraa.

No comments:
Post a Comment