Tuesday, June 14, 2016

Cerita Sex Anis Teman Akrabku


.
Agen Judi Online Terbaik Waktu diusiaku yg beranjak dewasa, aku merasa bangga terhadap diriku yg ceria, supel, riang, penuh canda dan memiliki keindahan yg ada di dalam diriku. Tdk jarang aku berkumpul dan berjalan-jalan dengan kenalan baru, untuk saling mengetahui hal-hal yg baru. Aku di sekolah memiliki teman yg cantik dan seksi, sebut saja namanya Anis, tetapi diriku memiliki lebih dari apa yg dimilikinya.
Cerita Sex Terbaru | Temanku memiliki tubuh yg ideal, tinggi diatas 165 cm, berat 40 kg lebih, kulit putih mulus, bokong yg padat, dan yg paling kami banggakan adalah keindahan kedua buah dada yg kami miliki (34B lebih ukurannya), terkadang kami suka memakai pakaian yg pedek dan ketat untuk dapat memamerkan apa yg kami miliki, dan tentu saja indahnya tubuh kami sering dipuji. Bangga rasanya dapat menarik perhatian orang, yg terkadang tdk berkedip melihatku.
Sebut saja namaku Putri, aku sangat akrab dan saling berbagi dengan temanku ini, walaupun itu hal yg kecil dan sepele. Di sekolah dan sepulang sekolah, rasanya seperti perangko saja, jarang berjauhan dan selalu terlihat bersama, dan tdk jarang kami menginap bergantian. Kalau sedang berdua, kami sering membandingkan sosok tubuh kami, apa yg kurang dan apa yg lebih. Kami membandingkan tubuh dengan berbagai macam jenis pakaian, dari yg dapat memperlihatkan indahnya tubuh dan pakaian yg benar-benar tertutup.

Dia sering bercerita apa yg sering dilakukannya dengan pacarnya, sampai ke hal-hal yg disukainya. Saat kami duduk berdua, dia menceritakan bagaimana dia merawat dadanya, dia mengajarkan bagaimana menghindari penyakit kanker payudara. Anis mengajarkan cara memijat dan lain-lain. Dia mengatakan kalau wanita menyusui sangat minim untuk terkena kanker. Dengan berbisik, Anis mengatakan kepadaku cara menjaganya dengan cara lain, tetapi lebih suka bila dibantu. Dia berbisik lagi,
“Dibantu dengan pacarku.” Lalu kubertanya,
“Bagaimana… ?”
“Sepeti ini (tanganya lalu meremas-remas dadanya) dan kadang dihisap, awalnya aku risih, tapi karena aku suka, jadi aku menyenanginya (pacarnya dan caranya).”
“Aku bingung… , seperti apa sih… ?” jawabku.
“Bodoh kamu… !” kata Anis, lalu dia melepaskan pakaiannya dan memang bentuknya indah, aku saja terkagum-kagum, apa lagi pacarnya, buah dadanya mulus dan terlihat padat.

Lalu dia melepaskan BH yg menutupi keindahan dadanya. Kedua dada yg padat dan kedua puting yg merah terlihat lembut. Lalu tanganya meraba-raba, meremas-remas kedua puting yg terlihat bulat, akhirnya kedua puting payudara itu mengeras dan kedua dadanya tegang.
“Seperti ini… ” katanya.
Dan dia memainkan puting yg merah itu sambil berkata,
“Dia menghisap ini dengan nafsu, dan lembut juga lidahnya memainkan ini, nikmat loh… !”
“Apa nikmatnya… ?” kataku.

Lalu dia menghampiriku dan tanganya meraba dadaku (yg ukurannya lebih besar dari miliknya),
“Seperti ini loh Non… , dadamu boleh juga ya… ?” kata Anis sambil tersenyum dengan peragaan kedua tangannya.
Rasanya aku tdk menyuka hal seperti ini, tetapi perlahan-lahan aku rasakan nikmat.
“Awalnya risih, tapi lama-lama rasanya lumayan, enak juga… !” kataku.
Kemudian kulihat tatapan matanya ke wajahku, rasa ingin berbagi pengalamannya terlihat.
“Bolehkan kubagi pengalamanku… ?” sahut Anis dengan rasa penasaran,
“Biar kamu tau yg kunikmati dari pacarku… ” sambungnya dengan rasa ingin memberitahunya yg tinggi.

Aku berpikir dan rasanya penasaran juga,
“Seperti apa sih… ?” tanyaku dengan sikapku yg ingin mengetahui lebih lagi.
Lalu Anis meremas, dan kemudian mengangkat kaosku, sehingga BH-ku yg berenda dan berwarna krem dapat ditonton. Anis melihat dan memujiku,
“Kalau kamu punya pacar pasti suka dengan yg satu ini… (dada berukuran 36 yg putih dan mulus)” Dia pun melepaskan kedua kaitan bra-ku, bra yg tadinya menutup dengan sesak kedua buah dadaku, akhirnya diangkat bersama kaosku, sehingga tiada sehelai kain pun menutupi dadaku yg tertutup sesak, dan seakan dadaku sekarang lepas dan terlihat mengembang.
Memang ukuran yg aslinya lebih besar dari bra yg kupakai.
Lalu tangan Anis merangkulku, tangannya meraba-raba dadaku sambil berkata,
“Kayak ini loh non… ” Kemudian dia memainkan putingku, wajahnya menghampiri dadaku yg satunya, lalu bibirnya mulai mencium putingku.
Setelah beberapa lama, kurasakan sesuatu yg nikmat.
“Nikmat Nis… ” sahutku kepada Anis.
“Lanjut ya… ?” sahut Anis sambil mulutnya melanjutkan tugasnya.

Putingku yg merah dan mengeras akhirnya masuk ke dalam mulut Anis. Kurasakan kelembutan dan kenikmatan, sehingga rasanya tubuh ini pasrah untuk dinikmatinya. Dadaku pun mengeras, kurasakan titik kenikmatan dari putingku yg menyebar dan mengalir ke seluruh tubuhku.
Sesaat kurasakan kenikmatan itu mengalir ke bagian tengah tubuhku, tepatnya diantara kedua paha tepat di bawah perut yg tertutup bulu-bulu hitamku yg lembut. Rasanya terbang tinggi tanpa sadar. Aku merasakan puncak pertamaku, walau itu hanya dari cumbuan. Rasanya ingin terulang kembali.
“Terima kasih ya… !” kuucapkan kepada Anis.
“Senang rasanya dapat berbagi dan memberi tau kamu… ” ucap Anis.

Lalu kami mengenakan pakaian lagi.
Hari pun terus berganti, Anis terus membagi pengalamannya kepadaku. Dia terus mengajariku banyak hal. Pernah dia bercerita tentang hal yg tdk pernah lepas disaat dia bersama pacarnya, yaitu berciuman. Dia bercerita kalau pacarnya sekarang bukan yg pertama, dia sudah mengenal beberapa bibir yg membuat kenangan padanya.
“Apa nikmatnya kissing… , kenapa kamu suka… ?” sahutku ke Anis dengan rasa penasaranku.
“Makanya pacaran biar tahu, kamu mau tau… ?” jawab Anis.
“Sebenarnya udah banyak cowok yg ngajak pacaran, tapi aku belum mau aja… !” balasku.

Aku terus mengungkapkan rasa penasaranku ke Anis, Anis pun memberi respon, dan dia berkata,
“Kamu mau kalo aku kasih tau, aku praktekin… ?” katanya sambil bercanda.
“Mau Nis, kamu bisa… ?” jawabku serius.
“Bisa… , ehm… cuma kissing kamu aja kan… ?” jawab Anis yg terlihat bingung.

Aku bingung campur penasaran, lalu kujawab,
“Aku ingin tau Nis.” Lalu Anis mendekatiku, dia menghampiri wajahku, bibirnya perlahan menghampri bibirku.
Aku merasa janggal, gemetar, tegang campur macam-macam perasaan. Perlahan-lahan memangnya aksinya, dan akhirnya bibirku tersentuh bibir Anis, kurasakan lembut dan nikmatnya sentuhan bibir Anis, dan itulah yg pasti disukai pacarnya. Lalu Anis melepas kecupan bibirnya, aku hanya terdiam dan tdk mengerti harus berbuat apa.
“Bibir kamu lembut, kalo kamu pacaran pasti cowok kamu ketagihan… ” sahut Anis.
“Masa… ?” jawabku.
“Kamu mau tau banyak tentang kisssing… ? Aku ajarin deh… !” kata Anis mulai agak bersemangat.

Dengan rasa masih penasaran, aku mulai menanggapi tawaran Anis, dan kujawab,
“Aku ingin tau banyak… , ajarin aku dong… !” Lalu Anis bercerita panjang lebar tentang pengalaman kissing-nya dengan tahap demi tahap, dan lalu kami mempraktekannya.
Entah mungkin karena kami berteman dan sama-sama sejenis, mungkin kami tahu dan mengerti apa yg harus dilakukan untuk berbagi kenikmatan. Akhirya kami sama-sama merangsang seluruh tubuh kami, ah… nikmatnya tiada tara.
Kami terus berbagi dan mengulanginya dari hari ke hari, tetapi itu hanya terbatas karena kami sama-sama sejenis, dan tdk ada rasa suka, yg ada hanya kenikmatan. Waktu pulang sekolah, aku tdk dapat pulang bersama Anis, karena dia sudah diajak pacarnya. Aku pun pulang bersama teman yg lain. Sesaat ditengah perjalanan pulang rasanya aku ingin main dan menginap di rumah Anis saja. Akhirnya aku menuju ke rumah Anis.
Saat aku sampai dan pintu rumahnya ternyata terkunci, aku pun masuk dengan kunci cadangan pemberian Anis. Rumahnya tenyata sepi, kukira dia ada di rumah. Sekilas aku mendengar suara Anis (entah seperti apa suaranya, hanya terdengar samar) di dalam kamar.
Akhirnya kamar Anis kuhampiri. Kubuka perlahan pintunya supaya dia tdk kaget. Astaga, alangkah kagetnya aku, kulihat Anis sedang berdua dengan pacarnya tanpa sehelai pakaian di badannya (kecuali pacarnya). Untung pintu terbuka sedikit sekali, aku hanya dapat mengintip. Aku hanya terdiam menatap Anis dengan pacarnya, maklum baru kali ini aku melihat insan berduaan dengan gairah seperti itu.
Awalnya mereka berciuman, lalu meraba-raba, dan yg dilakukan Anis dengan dadaku sama seperti yg dilalukan pacarnya, meraba, meremas, menghisap dan begitulah. Kulihat Anis menikmati dan terlihat pasrah untuk dinikmati. Tubuhnya pasrah, wajahnya terlihat melayg seperti aku waktu itu, tetapi tdk sehebat aku terbangnya. Aku heran melihat pacarnya yg tdk hanya mencumbu dada Anis, tetapi juga mencumbu belahan yg juga kumiliki yg ada di antara kedua paha. Anis pun kulihat melayg, dan sesaat kemudian dia mengeluarkan suara desahan yg kuat, aku pun samar-samar merasakannya juga.
“Ah, nikmatkah rasanya, seperti apakah nikmatnya… ?” pikirku dalam hati.
Sesaat kulihat beberapa jari tangan pacar Anis keluar-masuk di antara paha Anis yg tertutup bulunya. Kulihat kaki Anis melebar, seakan-akan serakah mengambil tempat. Tdk beberapa lama Anis terbangun dan memberi isyarat supaya pacarnya mendekatkan pinggangnya ke arah wajah Anis. Lalu kulihat Anis melepaskan celana pacarnya, aku heran melihat tonjolan di celana pacarnya. Seperti apakah tonjolan di balik celana dalam itu. Anis mengelus dan mencium tonjolan itu, aku berpikir sambil heran seperti inikah caranya pacaran. Tanpa basa-basi lagi Anis menarik dan melepaskan celana serta CD pacarnya.
“Ah, seperti itukah tonjolan yg selama ini yg samar-samar kuketahui… ?” kataku dalam hati.
Aku hanya dapat melihat dengan terpana dan heran, tetapi sesaat kurasakan aku menyukainya juga.
“Kapankah aku dapat mengetahuinya lebih jelas… ?” kataku lagi dalam hati sambil berusaha membaygkannya.

Anis mendekap tonjolan itu dengan jemarinya. Kelima jari Anis kemudian mengusap-usap milik pacarnya dengan nikmatnya. Kulihat pacar Anis menegang. Tdk lama kemudian wajah Anis menghampiri tonjolan yg didekap dan dielus-elus jemarinya itu.
Lalu bibirnya pun terbuka seperti goa, lidahnya keluar dan menjilat tonjolan yg pucuknya seperti jamur itu. Kulihat lidah Anis menyentuh dengan nikmatnya, dan bibirnya mulai terbuka lebar lagi. Milik pacarnya pun masuk ke dalam goa itu (mulut Anis) sampai dalam. Kulihat Anis memejamkan mata dengan perlahan sambil menikmati yg masuk ke dalam mulutnya. Mulut Anis dan bibirnya terlihat seperti menghisap permen dengan nikmatnya.
“Ah, kurasakan nikmat lembutnya bibir dan lidah Anis waktu di dadaku, pasti pacarnya menikmatinya seperti yg kurasakan di dadaku.” kataku dalam hati.
Milik pacarnya terlihat hampir keluar, dan akhirnya tertelan lagi di mulut Anis yg lembut. Mulut dan kepala Anis bergerak terus dengan nikmatnya. Kulihat adegan berikutnya, setelah masuk dan dinikmati mulutnya, kulihat Anis menarik milik pacarnya dengan perlahan (sambil merebahkan badan, kakinya seperti membuka stand) ke arah tepat di bawah perut, di antara kedua paha Anis.
Dibalik bulu Anis yg halus dan hitam, kulihat dari jauh itulah yg dituju milik pacarnya yg perlahan seakan hilang dan bersembunyi di tubuh Anis. Kulihat mereka berdua tegang, lalu milik pacarnya hadir dan terlihat lagi, kemudian masuk dan terus menerus seperti itu. Dan perlahan-lahan bergerak cepat. Suara Anis yg mendesah halus seakan perlahan-lahan dibesarkan volumenya sampai besar.
Cukup lama aku mengintip mereka berdua dengan perasaan heran dan ingin tahu. Beberapa waktu kemudian, milik pacarnya ditarik keluar dari tubuhnya, dan kulihat dia menegang. Anis terbangun dari terbangnya, dan kulihat wajahnya menghampiri milik pacarnya. Sesaat entah apa yg keluar dari milik pacarnya dan terbang ke arah mulut Anis yg terbuka. Kulihat pacarnya merasakan kenikmatan, tampaknya Anis terlihat tdk puas dengan sesuatu yg terbang masuk ke mulutnya, lalu dia terlihat kembali menghisap milik pacarnya sampai air yg keluar itu habis tertelan mulutnya.
Setelah itu mereka beristirahat, dan setelah beberapa lama pacarnya bergegas pergi dari rumah Anis. Saat itu pun aku bergegas bersembunyi di lantai atas rumah Anis. Terlihat dia naik ke lantai atas untuk mengambil sesuatu. Dia kaget, ternyata aku ada di atas dan bersembunyi, aku pun kaget sambil tersenyum.
“Sudah dari kapan kamu datang… ?” tanya Anis.
“Udah lama… ” jawabku.

Lalu dia mengajakku turun setelah mengambil yg dicarinya. Dia mengajakku ke kamarnya, dan lalu kami bercerita panjang lebar.
“Apa kamu liat pacarku tadi disini… ?” tanya Anis.
“Aku tdk sekedar ngelihat pacar kamu, tapi juga melihat kalian berdua… ” jawabku.
“Jadi kamu melihat kami… ?” kata Anis sambil penasaran.
“Emang, aku penasaran dan ingin tau, jadi maaf ya Nis… ?” jawabku.
“Tapi ini rahasia kita ya… ?” sahut Anis.
“Kita kan teman, ya saling menjaga dan berbagi. Seperti apa sih Nis rasanya, kamu ngerti ngelakuinnya ya… !” kataku kemudian sambil bercanda.
“Kamu mo tau ya… ? Enak… , aku suka, aku butuh, ini bukan yg pertama Yul, sebenarnya sudah sering aku ngelakuinnya, tapi ini yg pertama di rumahku.

Aku sering ngelakuin di rumah pacarku, rumahnya sepi, tapi sebenarnya bukan sama dia aja loh hubungan ini kulakuin. Kadang aku sama mantan masih berhubungan, soalnya kita masih ada rasa suka. Tapi kita udah punya masing-masing, mantanku ada dua. Dan aku pernah berhubungan bertiga, kita sama-sama butuh dan puas, dan kita sama-sama jaga rahasia, kecuali aku ke kamu. Kalo kamu pengen tau tentang gituan, nanti kujelasin banyak deh, kita kan temen… ” ucap Anis dengan panjang lebar.
“Aku jadi pengen, boleh liat lagi nggak… ?” sahutku sambil bercanda.
“Besok-besok kalo pengen tau kamu bisa ngintip kami kok… !” dijawab Anis dengan serius.

Ternyata Anis menepati janjinya. Aku dapat melihat dia berhubungan saat di rumahnya. Lama-lama kupikir aku juga suka. Kayaknya aku juga menginginkannya.
Suatu hari aku dan Anis berkenalan dengan beberapa anak pria dari sekolah lain. Wawan, Edwin, Aris, Sandi, Ari dan Heri, dan beberapa diantaranya sudah kuliah (Aris dan Heri). Kami akhirnya akrab dan kami sering berkumpul. Suatu saat mereka mengajakku dan Anis berjalan-jalan ke pantai. Tempatnya di luar kota, jaraknya pun cukup jauh, mungkin ada tiga sampai lima jam perjalanan lamanya. Kami berencana menginap di sana dalam acara liburan akhir minggu. Aku dan Anis dapat ijin dari keluarga, karena kami memberi alasan kumpul bersama teman-teman sekolah kami.
Aku dan Anis bersepakat untuk bersaing dulu-duluan menarik perhatian mereka, siapa yg paling mereka sukai. Awalnya kami kira kami hanya berempat dengan Aris dan Heri yg pergi. Tetapi ternyata berdelapan. Aku dan Anis menganggap suasana menjadi lumayan lebih ramai. Akhirnya kami janjian bertemu di tempat kost salah satu dari mereka. Sebelumnya Anis dan aku berganti pakaian terlebih dahulu di sana, dan akhirnya aku dan Anis memulai permainan. Kemudian Anis melepas semua pakaiannya sampai yg tersisa hanya celana dalam, begitu juga aku. Tubuh kami yg indah terlihat semua dan itulah rencana dari permainan kami.
Kami akhirnya mengenakan rok sedengkul dengan belahan yg lumayan, sehingga dapat memamerkan kemulusan paha kami sepenuhnya. Kemeja tanpa lengan dengan kancing di depan kami pakai, dan terkadang memperlihatkan pusar kami. Ah rasanya pakaian kami cukup seksi, karena sudah membentuk tubuh kami yg sudah indah menjadi lebih indah lagi. Ketatnya baju ini seakan-akan kami merasakan seperti dipeluk dengan dekapan erat. Kedua buah dada kami terlihat indah bentuknya, memang aku dan Anis sengaja untuk tdk memakai bra yg menyelimuti mahkota seperti biasanya.
Kemudian kami keluar dari kamar kost. Mereka yg melihat, langsung terpana karena tubuh indah kami, sehingga membuatku dan Anis merasa bangga. Akhirnya kami berangkat setelah menjelang selesainya siang. Kami berangkat dengan sebuah mobil minibus, supaya dapat beramai-ramai. Aku dan Anis duduk di tengah-tengah, diapit Aris dan Heri. Aku pun belum pernah duduk berdua dengan pria seperti ini.
Di perjalanan, untuk menghilangi rasa jenuh kami bernyanyi dan bercanda. Di tengah perjalanan kurasakan mata mereka menelanjangi tubuhku dan tubuh Anis. Senang rasanya, karena mata mereka lebih banyak menuju ke tubuhku ini. Dari celah-celah kancing pun, bentuk bulat dada kami kadang-kadang terlihat dengan jelas.
Kulihat Anis melepas beberapa kancing supaya agak terbuka sedikit. Aku tentu tdk mau kalah, akhirnya kulakukan juga. Kadang aku agak menunduk, sehingga belahan dadaku dapat terlihat jelas. Rupanya kenalan Anis (Aris) dengan Anis sudah benar-benar akrab. Mungkin karena pakaian kami, mereka tdk melepas pandangan mereka dari kami. Aris tampaknya mulai melakukan penjajakan ke Anis, sehingga Anis pun tertarik padanya. Aris mulai memegang tangan Anis dan perlahan dia mencoba merangkul Anis.
Awalnya Anis menolak, tetapi tampaknya dia tetap mencoba terus dan tdk menyerah. Dia terus memuji tubuh Anis. Yg kutahu, Anis sangat suka dipuji akan tubuhnya, dan itu merupakan suatu kelemahan Anis. Aris memuji wajah Anis yg cantik, kulit yg putih mulus, rambut yg indah, dada dan bokong yg indah. Anis pun senang dan bangga. Maklumlah, kami masih anak-anak yg beranjak dewasa, sehingga kami cepat salah tingkah.
Aris meremas dan mengelus-elus jemari Anis. Kulihat Anis menyukainya. Dia memuji paha Anis yg putih dan mulus.
“Paha kamu mulus dan indah ya… ?” sahut Aris.
“Kamu suka ya… ?” jawab Anis.
“Andai itu milikku, andai kubisa menikmati halusnya… ” sahut Aris.
“Seperti apa… ?” sambil tangan Anis menaruh tangan Aris di pahanya.

Tanpa basa basi dan menunggu waktu, aris langsung mengelus-elus dengan nikmat paha Anis yg terlihat utuh karena belahan roknya. Tampaknya Anis mulai menyukai Aris.
Tanpa terasa waktu cepat berganti, Anis dan Aris mulai terlihat dekat. Aris berhasil merangkul Anis. Dan tdk itu saja, dia juga membelai rambut Anis, mencium pipi Anis, entah mengapa mereka cepat dekat seperti itu. Kulihat Aris berhasil mengelus paha Anis sampai ke pertemuan dua paha. Rok Anis terangkat tinggi sampai celana dalam Anis terlihat. cerita sex
Tampaknya Anis sudah terbawa melayg dengan sentuhan Aris, maklum gairah kami terlalu tinggi dan cepat datangnya. Aris menyiumi Anis mulai dari pipi, kuping, leher lalu ke bibir. Anis menikmatinya dan bibir mereka berperang. Tangan Aris mengelus paha Anis dengan nikmatnya, lalu perlahan pindah ke belahan di celana dalam Anis, pinggang, perut, lalu dada Anis. Awalnya Anis menolak, tetapi gairah Anis yg sudah muncul membuatnya melayg dan susah untuk berkutik dan menolak.
Tangan Aris meraba-raba dada Anis dan meremas-remas, lalu menuju kancing Anis dan melepaskannya satu persatu secara perlahan. Kancing Anis terlepas dan terlihat indahnya sebagian tubuh Anis. Lalu Aris meremas dada Anis secara langsung, sehingga keindahan tubuh Anis dapat dinikmati setiap mata di dalam mobil.
Setelah beberapa lama hal ini terjadi, Aris dan Anis menghentikan asmara mereka. Anis menutup kembali tubuhnya yg indah itu, walaupun tampaknya mereka belum puas. Kami terus berjalan, dan akhirnya sampai di pantai yg kami tuju. Kami bersenang-senang di pantai. Akhirnya kami berkumpul di dalam mobil. Kami bercanda di dalam, entah mungkin suasana yg sepi dan lembut merubah rasa-rasa yg ada di dalam jiwa. Anis dan Aris tampaknya melanjutkan permainan mereka yg belum selesai. Aku agak risih di samping Anis, karena aku belum pernah berhubungan, apalagi yg seperti ini.
Wawan yg duduk di depan tampaknya terangsang dengan tubuh Anis. Dia pun tampak ikut meraba dan menikmati tubuh Anis. Akhirnya Anis dan Aris bercinta tanpa peduli dilihat seisi mobil. Wawan pun tdk mau kalah, dia ikut bercinta dengan Anis bergantian dengan Aris. Tampaknya Anis tdk canggung dan menikmatinya. Entah mengapa kurasakan tangan Heri meremas dadaku. Aku menolaknya,
“Jangan… !” kataku tersentak, entah mengapa aku malah terangsang. Dia dengan nafsunya menyerang tubuhku, aku agak meronta dan menolak, tetapi aku tdk sanggup bergerak banyak, rambutku dijambak oleh Sandi dari belakang.
Edwin tdk mau kalah, dia segera menarik kedua tanganku ke belakang. Heri akhirnya dengan leluasa dapat menikmati dadaku, aku hanya dapat berkata,
“Tolong jangan… !” Mereka tampaknya tdk peduli dengan ucapanku, yg ada hanya nafsu untuk menikmati tubuhku.
Aku menangis pelan. Tampaknya Anis tdk mendengarnya, Heri, Sandi, Edwin terus menyergapku. Sandi menciumi wajahku, Heri meremas-remas dadaku dengan nafsu. Awalnya aku merasa takut. Heri meraih kancingku dan melepaskannya, sehingga dadaku terlihat jelas. Tanpa henti dia juga meraih resleting rokku, dan perlahan melepaskannya bersama celana dalamku.
Dia tdk menikmati dadaku lagi, tetapi yg ada di balik bulu halusku. Entah mengapa aku menikmati sentuhan jemarinya, ah mengapa jadi aku terangsang. Akhirnya jarinya keluar masuk di lubangku (hilang keperawananku) dan sesaat aku mendesah. Dadaku memang tdk disentuh Heri lagi. Sandi yg menjambak rambutku mengecup bibirku dengan nafsu, lalu tangannya menikmati dada kananku. Edwin yg memegang tanganku ikut menikmati dada kiriku.
Waktu terus berjalan, entah mengapa aku menjadi terbawa. Walaupun aku meronta, aku sebenarnya menikmatinya. Tubuhku yg indah ini akhirnya mereka nikmati secara bersamaan. Perasaanku bercampur aduk, aku disentuh oleh mereka. Karena waktu sudah agak malam, akhirnya kami ke rumah Aris yg kosong bersama-sama. Di sana kami bermalam bersama, tampaknya Anis bingung menghadapi teman baru kami. Tubuhku dan Anis tampaknya menjadi hidangan mereka malam ini. Mereka terus menyerang tubuh kami, Anis dan aku tdk bisa mengelak hasrat mereka.
Di dalam rumah aku menjadi bulan-bulan mereka, aku terus menolak, tetapi apa daya tenaga mereka lebih besar. Aku diboyong ke tempat tidur. Kedua tanganku dipegang dengan erat, sehingga aku hanya bisa pasrah dan mengalah. Bajuku dilucuti. Cahaya lampu terang pun mempertontonkan seluk beluk tubuhku, dan membuat mereka semakin terangsang.
Kali ini aku ditiduri langsung, tanpa ada rabaan dan cumbuan. Ah, entah mengapa aku malah merasakan kenikmatan, mereka bergantian memegangi tanganku, dan secara bergantian pula mereka memasukkan milik mereka ke liang memekku. Tampaknya aku hanya bisa pasrah, beberapa kali aku merasakan ada sesuatu yg menyembur di dalam liangku. Mereka melakukannya berkali-kali padaku sampai aku lemas tdk sadarkan diri. Dan entah apa yg terjadi pada Anis.
Pagi pun menjelang, aku mulai terbangun dengan tubuh lemas ini. Aris menyapaku,
“Pagi Yul… “, yg begitu juga jawabku dengan kesadaran yg bertahap. Kucari pakaianku, tetapi aku tdk mendapatkannya.
Heri menemuiku di kamar,
“Pagi Putri… ” sapanya sambil menghampiriku dan meraba-raba tubuhku kembali.
Kali ini aku tdk dapat menolak keinginannya. Ternyata tubuh ini terhanyut bersama nafsu mereka. Heri menganjurkanku mandi, aku rasa memang aku harus mandi. Akhirnya kumasuk ke kamar mandi untuk menyuci tubuhku, pasti segar rasanya.
Mulai basah tubuh ini tersiram air segar, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, terlihat Aris dan Heri di depan pintu dan bergegas masuk. Mereka segera melepas pakaiannya, lalu menyiram tubuh mereka dengan air seperti yg kulakukan.
“Kita mandi sama-sama ya… ?” sahut mereka.
Setelah beberapa lama, kurasakan Heri mendekatiku dari belakang, lalu mendekapku dan meraba dadaku serta meremas-remas. Aris juga menghampiriku, dia mendekap salah satu buah dadaku yg tersisa dengan jemarinya. Aku canggung, sesaat Aris menghisap dadaku yg dipegangnya, lalu dia mengecup dan menikmati bibir lembutku. Tanpa menunggu waktu, jari-jarinya pun masuk ke lubang memekku. Aku tdk berkutik, entah cepat sekali diri ini bergetar lemas. Jari-jarinya keluar-masuk dengan leluasa.
Tdk puas dengan jemarinya, dia segera memasukkan miliknya ke tubuhku. Ah, aku tdk sanggup menolak, aku diapit dua lelaki dengan penuh nafsu dan birahi. Mereka pun bergiliran kembali, tubuhku dinikmati sambil berdiri. Kemudian Heri bergantian dengan Aris. Kemudian mereka bergantian lagi. Entah mengapa, karena tdk sanggup menahan birahi, Heri yg bergantian dengan Aris berusaha memasuki lubang anusku.
Awalnya kurasakan sesuatu yg aneh, kukira sakit. Awalnya miliknya tdk dapat masuk, tetapi karena usaha yg gigih dan dengan berbagai cara, akhirnya anusku dapat dimasukinya. Keluar-masuklah milik mereka bersamaan di semua lubangku. Sesaat beberapa lama suaraku agak merintih pelan, dan akhirya mendesah kuat. Aku tdk dapat berkutik, aku tdk mengerti harus berbuat apa, mereka terus mendekap dan menikmati tubuhku. Entah mengapa aku merasakan kenikmatan dan puncaknya.
Akhirnya kami selesai mandi. Tubuh ini segar tersiram air dan lemas terpakai secara bergiliran. Sehabis mandi pun aku dan Anis tdk dapat mengenakan pakaian, mereka terus menggeraygi tubuh kami tanpa ada rasa puas. Terkadang aku dan Anis meminta baju kami, tetapi jawab mereka,
“Tubuh kami yg menjadi baju kalian… ” Ternyata kata-kata mereka pun benar-benar mereka lakukan.
Merekalah yg menjadi baju kami. Terkadang mereka memuji aku dan Anis. Aku dan Anis agak canggung, karena baru kali ini kami tdk mengenakan pakaian sehelai pun dihadapan banyak lelaki. Mereka tampaknya berusaha supaya kami seperti ini, agar mereka dapat terus-menerus menikmati indahnya tubuh kami.
Akhirnya siang pun tiba, awalnya aku dan Anis dicumbu secara berpasangan. Aku tdk dapat menolaknya, aku mulai menyukai nikmatnya berhubungan. Setelah beberapa lama, aku mulai dicumbu dua orang, saat itu aku melihat milik Heri. Aku penasaran, karena aku mulai menyukai yg berbentuk itu. Aku ingin mengetahui seperti apa nikmatnya, apakah yg dirasakan Anis dan yg akan kurasakan dengan mulut ini.
Akhirnya tubuh ini mulai dinikmati milik mereka, aku tambah penasaran, akhirnya kudekap milik Heri yg belum menikmati tubuhku. Miliknya kudekap dengan jemariku dan kumasukkan ke dalam mulutku, kurasakan bentuknya di dalam mulutku. Kulakukan seperti yg pernah Anis lakukan. Kurasakan nikmatnya, dan entah mengapa aku mulai menyukainya. Lama-lama kurasakan agak asin, tetapi malah kusuka dan menambah gairahku, beberapa lama kurasakan tumpahan di dalam mulutku.
Aku berpikir,
“Tampaknya aku tambah menyukainya… ” lalu kutelan, rasanya seperti menelan telor penyu, tetapi ini benar-benar kunikmati. Birahiku memuncak. Akhirnya mereka menggilirku dan Anis secara bergantian, sehingga kami semua sudah saling bersentuhan, tiada satu pun yg tersisa.
Akhirnya kami selesai dengan liburan akhir minggu, dan lalu kami bergegas ke tempat asal. Di jalan pun kami masih tetap bersentuhan. Tampaknya birahi kami terus menguat. Setelah kejadian itu, mereka tampaknya tdk mau lepas dari aku dan Anis. Mereka mengisyaratkan rasa tanggung jawab terhadap kami atas apa yg telah terjadi, dan mereka berusaha mendapatkan kami seutuhnya. Aku dan Anis pun berhubungan terus dengan mereka tanpa ada rasa menyesal.
Sempat aku pernah terlambat bulan, dan mereka mau menikahiku, tetapi rasanya aku tdk mau di usia sekarang ini. Akhirnya salah satu diantara mereka, yaitu Aris dapat membuatku datang bulan. Dia mengundangku ke rumahnya, dan dia memberikan alat test untuk kucoba, dan ternyata aku positif. Tetapi dia membuat semua ini seakan-akan tenang-tenang saja. Lalu dia memberikan obat untukku, yg katanya dapat membuatku dalam waktu beberapa jam menstruasi.
Tetapi sebelum kupakai obat itu, dia meminta ijin kepadaku untuk mengecup bibirku. Awalnya kutolak, tetapi akhirnya karena tdk enak dengan kebaikannya, akhirnya kubersedia, dan kuberikan sebagai ucapan terima kasihku. Akhirnya dia senang dan mulai melahap bibirku, entah mengapa bibir dan lidah kami jadi berperang, birahi kami pun bersaing memuncak.
Adegan demi adegan berlanjut, sehelai demi sehelai kain pun tertanggal dari tubuh ini. Akhirnya tubuh kami menyatu penuh dengan birahi. Tampaknya dia tdk ada puas-puasnya untuk merasakan tubuhku, serasa hanya ini kesempatannya. Karena usia kami masih muda dan kondisi kami sangat fit, akhirnya ronde demi ronde pun terjadi. Semburan demi semburan kurasakan di dalam tubuhku. Tetesan demi tetesan yg keluar dari miliknya juga tertelan mulut ini, sampai tdk dapat dikeluarkannya lagi, dan kami berdua jatuh TKO. Setelah itu kupakai obat pemberiannya dan beberapa waktu kemudian rasa yg kualami setiap bulan kurasakan kembali.
Hari-hariku terus berjalan, persahabatanku dengan Anis berlanjut dan jiwa kami masih muda, kami ingin banyak mengenal sesuatu yg baru. Kami sering mendapat kenalan baru dan kami saling berbagi, dan juga bertukar pasangan. Pengalaman dan pengetahuan kami terus bertambah. Setiap lelaki yg tidur denganku dan Anis tdk mau lepas. Mereka berusaha memiliki kami. Tubuh dan wajah yg indah dan kemampuan kami di atas ranjang benar-benar membuat mereka ketagihan. Hubungan sex kami sangat aktif, hampir setiap hari kami bergiliran dengan setiap pacar kami. Rasanya makin diasah, gairah kami makin tajam, sampai-sampai tdk dapat dibendung lagi.
Beberapa kali kami berkerkenalan dengan pria yg hampir setua orangtua kami, aku dan Anis bertahap mulai dekat dengan mereka. Mereka baik, lembut dan pengertian, selalu mau mengerti perasaan kami. Disuatu hari, Om Roy mengajak kami jalan-jalan, kami senang dan dapat bergembira dengan puas. Keesokan harinya, aku diajak Om Roy jalan-jalan ke Lembang. Di sana kami jalan-jalan ke beberapa objek wisata terdekat. Udara pun kurasakan dingin, gerimis membasahi bumi, aku tdk kuat menahan rasa dingin. Rasanya aku perlu penghangat untuk menghangati tubuh ini. Beberapa kali kupegangi telapak tangan Om Roy untuk merasakan hangat. Beberapa lama Om Roy akhirnya mengerti keadaanku, dia merangkulku untuk membagi kehangatan tubuhnya.
Sampai di suatu tempat yg tenang, di sana hanya ada kami serta tumbuh-tumbuhan saja. Awalnya kami duduk di antara pepohonan. Om Roy berada di samping sambil merangkulku. Aku menyukai hangat tubuhnya. Tampaknya cara duduk kami mengganggu, akhirnya kupindahkan tubuh ini ke depan Om Roy. Aku duduk di depan tubuhnya, dan kurasakan kehangatan di belakang tubuhku. Dia memelukku dari belakang. Salah satu tangannya kuajak ke atas pahaku dan lalu kuelus-elus. Tangan Om Roy memeluk pinggangku. Perutku dielus dengan pelan, tampaknya dia menikmati sentuhan tanganku, begitu juga denganku. Tampaknya kami berdua mulai merasakan sesuatu yg menghangat. Tangan Om Roy tdk mau kalah dengan tanganku, dia mengelus-elus pahaku, ah lembutnya yg kurasakan.
Tahap demi tahap tangannya mengarah ke lubangku, aku menikmatinya. Nafsu kami pun meningkat, Om Roy mencium dan menikmati telingaku, ah beku tubuh ini rasanya. Perlahan dia mencium pipi dan leherku dengan lembut, lalu perlahan ke arah bibirku. Akhirnya kami berciuman, alangkah lembutnya Om Roy yg kurasakan. Perlahan kulepas kecupannya, lalu kudekati telinganya, dan kubisikkan, “Yg lembut ya Om… !” Om pun menunjukkan kemampuaanya, dia membuai jiwa, batin dan tubuhku, serasa melayg diri ini. Kupasrahkan tubuh ini untuk Om Roy, dan kami pun sama-sama menikmatinya.
Bibir Om Roy mengecup bibirku kembali, tangan kirinya mengelus-elus celana tengahku dengan lembut. Perlahan telapak tangan kanannya yg memeluk perutku kuarahkan ke dadaku, kurasakan lembutnya sentuhan tangannya. Tangannya segera melakukan tugasnya dan kunikmati sentuhan lembutnya. Perlahan kancing dan resteling jeans-ku dibuka Om Roy. Tangan kirinya menyusup ke dalam celanaku. Rupanya lubangku sudah terangsang dan basah. Tanpa basa-basi, Om Roy menggosok daerah sensitifku, tanganya tdk terburu-buru masuk ke memekku. Perlahan tangan kanannya meraih kaitan bra-ku dan melepasnya perlahan. Tangan kanannya menyusup dan mengelus pundakku, lalu perlahan ke depan, ke dadaku.
Sesaat beberapa lama kemudian, dia mengangkat kaos dan bra-ku, sehingga mahkotaku terlihat jelas. Bibirnya perlahan berjalan, dari bibir, dagu, leher, pundak dan akhirya putingku masuk ke dalam mulutnya yg lembut. Dada, perut dan daguku reflek terangkat. Perlahan tanpa kusadari tanganku melepas kaos dan bra-ku, celana jeans-ku pun agak kuturunkan sedengkul, dan akhirnya kulepas semuanya dan kami buat menjadi alas.
Secara perlahan jari Om Roy masuk ke lubang memekku, ah daguku terangkat tinggi. Kedua tempat itu, yaitu dada dan memekku disentuh Om Roy. Perlahan jari Om Roy keluar-masuk di lubang memekku, awalnya aku tdk kuat menahan nikmatnya sampai aku tegang dan menahan nafas. Aku melayg jauh dan tdk sanggup bergerak, yg bisa hanya pasrah menikmatinya.
Sesaat kurasakan rangsangan yg kuat, dan kukeluarkan desahan yg tdk sanggup kutahan. Tampaknya Om Roy mengerti. Tanpa kusadari bajuku menjadi alas dan Om Roy perlahan memeluk tubuhku dari depan. Dengan rasa pasrah dan penuh dengan kenikmatan, kudekap tubuh Om Roy. Perlahan kurasakan ada sesuatu yg keras dan menonjol di dekat bawah perutku, lalu perlahan masuk ke memekku, daguku terangkat dan suaraku tdk sanggup kutahan. Desahan demi desahan suaraku yg tegang pun mengeras, sampai akhirnya kami merasakan puncak dari semua itu. Akhirnya dari sana kami berangkat menuju ke tempat Om Roy di daerah sana. Karena kami belum puas, kami pun melakukannya kembali di tempat Om Roy.
Setelah semuanya terjadi, suatu saat Om Roy mengajakku menikah. Maklumlah, dia ditinggal istri-istrinya (istri yg lalu) yg sudah tiada, dan dia tdk memiliki anak. Dia mengatakan butuh aku, tetapi kutolak, dan aku janji tetap membantu sesuatu yg kurang padanya, maaf jawabku, begitu juga dengan Om Roy, dia berkata sama. Mulai dari situ aku menyukai Om-Om, karena mereka memiliki cara berpikir dan emosi yg sudah matang. Pernah suatu saat kukatakan pada Om Roy kalau aku pernah hamil, dan untunglah tdk terjadi, lalu kuungkapkan aku tdk mau hamil di usia ini.
Lalu Om Roy mengenalkanku dengan alat-alt KB, lalu kucoba dan ternyata aku memilih spiral, karena lebih aman. Lalu kutawarkan Anis untuk memakainya, dan dia menyetujuinya. Akhirnya saat kami datang bulan, Om Roy mengajakku dan Anis ke dokter kenalannya, lalu kami dipasangkan spiral.
Akhirnya kami merasa tenang dalam setiap berhubungan. Tdk ada rasa was-was, yg ada hanya kepuasan. Setiap semburan dari k0ntol dapat kami rasakan dan nikmati di dalam permainan. Aku melakukannya bukan hanya dengan Om Roy, tetapi juga dengan Om yg lainnya, tapi hanya Om Roy yg terbaik. Suatu hari Om Roy ulang tahun, aku bingung harus memberi hadiah apa, dia sangat baik.
Sesampainya di rumahnya kami, (aku dan Anis) hanya merayakannya bertiga, dia, aku dan teman baikku Anis. Akhirnya kami jalan-jalan. Dan akhirnya sampai kami kembali ke rumahnya, aku bingung karena tdk ada hadiah. Terlintas aku ada ide, pastilah kami suka. Lalu aku bertanya pada Anis,
“Kamu mau nggak ama Om Roy… ?” Anis menjawab,
“Terserah kamu, boleh aja… !” Lalu aku mengajak Anis dan Om Roy ke kamar, di sana aku memancing Om Roy.

Akhirnya dia terpancing, dan kami bermain bertiga. Karena hebatnya Om Roy, nafsu kami (aku dan Anis) menjadi tinggi. Dia mencumbu kami secara bergiliran. Karena aku dan Anis tdk kuat menahan nafsu, jika ada kesempatan, milik Om Roy kami nikmati, dan seterusnya kami bermain sampai puncak.
Tampaknya Om Roy sangat berterima kasih kepada kami, terutama kepadaku. Segala sesuatu yg kami khayalkan selalu dijadikan kenyataan oleh Om Roy. Waktu aku di kelas akhir sekolahku, aku dan Anis sudah sering berganti-ganti pacar (cowok), tetapi tdk semuanya dapat merasakan tubuh kami, karena kami tdk memberinya sembarangan. Kebetulan aku dan Anis adalah teman sekelas, ya jadi kami sering bertemu. Saat itu kebetulan aku dan Anis memiliki pacar yg sekelas, ya kami jadi sering berjalan bersama. Hubungan kami sudah tdk ada batas lagi, kami sering berkumpul di rumah kami secara bergantian. Tentu saja jalinan hubungan kami sangat dalam, sampai ke dalam tubuh kami.
Hubungan kami tdk hanya di luar sekolah, di dalam sekolah pun hubungan kami dengan pasangan kami sangat aktif. Setiap keadaan yg memungkinkan, dan bila hasrat kami muncul, kami pun melakukannya. Maklum, pakaianku sangat memungkinkan, sesaat kuangkat rokku tinggi, kulepas sedikit CD-ku, maka milik pasangan kami dapat masuk dengan leluasa, tentu saja dengan gaya tertentu. Terkadang di kelas, di wc sekolah, atau tempat lainnya yg aman, kami terus melakukannya. Tentu kami harus bergiliran berjaga-jaga, supaya tetap aman. Tetapi aku dan Anis masih berhubungan dengan teman pria kami yg dulu, serasa diri kami rakus.
Akhirnya kami lulus dengan nilai yg cukup baik, dan kami mengadakan perpisahan sekolah. Aku, Anis dan kekasih kami pergi perpisahan bersama, kami berpasangan, dan tentu saja di sana kami mencari kesempatan untuk mencurahkan birahi kami. Tetapi rasanya perpisahan bukan hanya untuk kawan-kawan sekolah, tetapi juga kami (aku dan Anis) putuskan untuk kekasih sekelas kami. Awalnya mereka tdk menerima dan menolak, tetapi akhirnya mereka tdk dapat menolak, karena keputusan kami bulat, dan kami jelaskan bahwa kami masih bisa akrab seterusnya.
Liburan panjang pun kami rasakan, tampaknya Aris dan Heri akrab lagi terhadap kami, dan kami berjalan bersama. Aku dan Anis diajak berlibur bersama mereka, dan kami pun bersenang-senang bersama. Seusai berlibur dengan mereka, Om Roy pun memberi hadiah kepadaku dan Anis berlibur ke Bali, dan kami merasakan kegembiraan bersama.
Akhirnya kami kuliah, dan tempat kuliah kami di pinggiran kota Jakarta. Di sana kami dibelikan rumah oleh Om Roy sebagai tempat tinggal kami untuk kuliah. Kami memberikan alasan ke keluarga bahwa tempat itu adalah tempat yg murah dan baik buat kami. Akhirnya aku dan Anis tinggal di sana, dan kami berhubungan akrab dengan Aris dan Heri, tetapi mereka tdk mengetahui bahwa kami berhubungan dengan Om Roy yg kami katakan sebagai pemilik kost.
Awal kuliah kami masih berganti-ganti pacar dan kawan. Mereka sering menginap, begitu juga aku dan Anis. Akhirnya, di akhir semester, aku dan Anis mulai serius dengan Aris dan Heri. Sering Om Roy, Aris dan Heri bergantian bermalam, tetapi Aris dan Heri tdk mengetaui hubungan ini, kecuali Om Roy. Akhirnya kami lulus kuliah, dan kami mulai mengurangi aktivitas hubungan intim kami terhadap Om Roy, dan dia mengerti keputusan ini. Sampai akhirnya kami (Om Roy, aku dan Anis) dapat jodoh, sampai pada saatnya Aris dan Heri memiliki kami, akhirnya janur kuning menyelimuti salah satu jari kami.
Aku, Anis, Aris dan Heri terus berhubungan sampai dengan hubungan yg tdk akan pernah lepas. Kami sering ke luar kota bersama, di sana kami berpasangan. Terkadang kami jenuh berhubungan dengan suami, tetapi kami tetap berpasangan, pasanganku adalah suami Anis dan suamiku berpasangan dengan Anis. Kami melakukannya untuk mendapat gairah dan mempererat hubungan kami.
Kami terus menikmati ini sampai di atas rajang, dan tanpa ada rasa cemburu serta iri, kami terus berbagi. Mereka bangga memiliki kami, tdk jarang setiap bersama, tubuhku dan Anis ditelanjangi dan terus dinikmati suami kami secara bergantian. Terkadang aku dan Anis serta Om Roy masih berhubungan jauh, terkadang sebulan sekali atau lebih kami melakukannya tanpa diketahui pasangan kami.

No comments:

Post a Comment