Sunday, September 4, 2016

Cerita Sex Pembalasan Berbuah Kenikmatan

Tak lama menunggu pesawat pun akhirnya tiba, Vicky semakin tdk sabaran, ia selalu memandang ke arah pintu. Aku pun mendekati Vicky ketika para penumpang telah keluar dari pintu.
“Nik!” teriak Vicky ke arah rombongan penumpang yg keluar.
Seorang perempuan kira-kira berumur 25tahunan berparas cantik datang mendekati Vicky. Mereka langsung berpelukan, membuatku penasaran siapakah perempuan ini.
“Wan…”, sapaan akrab bos Vicky kepadaku, karena namaku Iwan.
“Ini Niken, teman SMP saya…”, Vicky memperkenalkan perempuan itu kepadaku.

Baru ku ingat memang dulu Vicky pernah cerita mengenai masa lalunya, nama perempuan itu adalah Niken, teman SMP yg pernah Vicky perkosa bergiliran hanya karena sebuah pelampiasan kekecewaan.
“Ini anaknya, Chelsea…”, Vicky jg menunjukkan anak perempuan yg dibawa Niken, mungkin umurnya sekitar 7 tahunan.
Cerita sex terbaru, Mukanya mirip dgn ibunya, putih dan oriental.
“Biar saya bawa saja mbak…”, aku menawarkan bantuan untuk membawakan tas Niken.
“Panggil Niken saja…”, balas Niken sambil menyodorkan tas bawaannya.

Kami pun segera menuju mobil. Vicky dan Niken terlihat akrab sekali, bahkan Vicky menggendong Chelsea layaknya ayah menggendong anaknya. Dalam perjalanan mereka pun terus bercerita, ternyata sebelumnya Vicky pergi ke Singapura bukan untuk liburan, melainkan untuk menemui Niken. Dan ternyatanya lagi, sejak hadirnya Vicky di sana, Niken malah banyak mengalami masalah, ia harus bercerai dgn suaminya dan pulang ke Indonesia.
Aku ingat cerita Vicky dahulu kala, Niken pernah dijodohkan dgn seorang pria kaya, sehingga memicu api cemburu Vicky. Dan semua itu membutakan Vicky, ia bersama teman-temannya, kalau tdk salah bersama Tono, Eko, Budi, Marwan dan Iskandar, mereka semua mengeroyok pria yg akan dijodohkan dgn Niken itu. Selain itu, mereka jg menculik Niken lalu diperkosa secara bergiliran. Bukan hanya itu, hanya karena perjodohan, watak Vicky menjadi rusak, menjadi perokok dan peminum. Yg ujung-ujungnya, Niken harus meninggalkan Indonesia untuk melupakan masa kelamnya.
Aku terkejut karena tiba-tiba mobil yg aku kendarai oleng. Apalagi sedari tadi aku memikirkan kisah Vicky yg membuatku tdk begitu konsen di jalan.
“Ada apa Wan?”, tanya bos Vicky yg duduk di belakang bersama Niken dan Chelsea.
“Ga tau bos, kayaknya kempes…”, aku pun menepikan mobil.
“Sial, ban bocor bos kena paku…”, aku menyampaikannya kepada Vicky, ia pun keluar untuk melihat.
“Waduh, mana jalanan sini sepi…”, kata Vicky.
“Biar gue telpon yg lain untuk jemput saja bos…”, saranku.

Tp belum sempat mengambil hp di saku celanaku, sebuah mobil box menghampiri kami. Dua orang keluar dari mobil box itu sambil membawa senjata api.
“Ayo ikut!!”, perintah mereka sambil mengarahkan senjata api mereka.
Yg satunya pun membuka pintu mobil dan menyeret Niken dan Chelsea keluar dari mobil. Mungkin paku yg menusuk ban jg adalah ulah mereka yg sdh terencana.
“Mau apa kalian?!”, teriak Vicky mencoba melawan. ‘BUKK’ pukulan keras ke pipi Vicky dgn menggunakan gagang senjata api.
Aku tdk berani melawan selain tubuh dua orang itu yg besar berotot dan membawa senjata api, aku jg khawatir keselamatan Vicky, Niken dan Chelsea. Kami pun dipaksa naik ke dalam box, bau sekali dan pengap, walaupun box isinya kosong, tp sepertinya sering digunakan untuk mengantar entah barang apa.
Pintu box pun ditutup. Vicky mencoba menenangkan Niken dan Chelsea yg mulai ketakutan dan menangis.
“Hp tertinggal di tas…”, kata Niken yg ingin menghubungi bantuan. Untung saja hp ku selalu taruh di saku celana.
“Biar gue telpon yg lain…”, kataku.

Keadaan box sangat gelap, nyala hp menjadi satu-satunya penerangan di sini.
“Ton, kami diculik… Ga tau mau dibawa ke mana… Mobil box warna kuning…”, belum selesai berbicara dgn Tono melalui hp, tiba-tiba sambungan terputus.
“Damn! Pulsa habis…”, aku kesal sambil membanting hp. Vicky pun sdh mulai gelisa. Ia mendekati pintu box, memukul-mukul dan berteriak.

Percuma saja yg dilakukan Vicky, mobil box malah bergoyang-goyang kuat, sepertinya sopir itu membawanya dgn kecepatan tinggi. Aku dan Vicky pun kemudian menyusun rencana, untuk melawan ketika pintu box di buka. Niken dan Chelsea jg disuruh bersiap-siap agar bisa segera kabur bila kami berhasil melumpuhkan dua pria besar itu.
Mobil box pun terasa melambat, sepertinya sdh mendekati tujuan, padahal sdh hampir sejam-an kami menunggu. Saat pintu dibuka, astaga, sangat terkejut sejali dengab sambutan dibalik pintu box. Kaki ku serasa kaku tak mampu bergerak melihat belasan orang berbadan kekar mengarahkan senjata api dari luar sana sehingga tak mungkin bagi kami untuk melawan. Niken dan Chelsea pun kemudian menangis dgn kencang melihat keadaan seperti ini.
Entah siapa mereka dan apa tujuan mereka menculik kami. Kami pun kemudian diseret keluar dari box dan dibawa ke sebuah ruangan yg gelap dan penuh dgn kotak-kotak kayu. Kami semua diikat secara terpisah. Kemudian orang-orang berbadan besar itu pun keluar dari ruangan tanpa mengatakan apapun. Aku lihat Vicky jg tdk berkutik, kami diikat dgn kuat di tiang-tiang dekat dinding.
“TOOLLLOOOONNNNGGGGGG……..”, teriak Niken mencoba mencari bantuan, siapa tahu ada yg mendengarnya.
Namun sepertinya usaha Niken percuma saja, ruangan ini tertutup sangat rapat, sehingga menjadi kedap suara. Chelsea malah menangis hingga pingsan. Niken melihat keadaan adaknya menjadi terdiam dan kemudian kembali menangis.
Tak lama dari itu pintu terbuka, sebuah sosok pria masuk ke dalam ruangan, kucoba liat dgn jelas, tp aku tdk mengenalinya.
“Reenddiiiii……”, seru Vicky terkejut melihat sosok pria itu.
“Apa mau mu Ren?!”, sambung teriakan Niken.
“Hahahaha, akhirnya kita reunian jg ya… Sdh bertahun-tahun aku menunggu kesempatan ini…”, kata Rendi.

Ia berjalan mendekati Vicky, ku lihat sebenarnya wajah Rendi ganteng sekalu, kulit putih oriental pun menambah nilai plus, hanya disayangkan ada goresan di pipinya seperti di film kartun samurai x.
“Ingat dgn goresan ini?…”, tanya Rendi kepada Vicky sambil menunjukkan goresan di pipinya itu. Belum sempat menjawab, Vicky langsung ditinju di perutnya,
“Arghhh….”.

Rendi kemudian membuka pakaiannya, seluruh tubuhnya penuh goresan, apa ini jg akibat dari perbuatan Vicky? Sungguh kejam sekali masa lalu Vicky.
“Lihat! Semua yg terbekas olehmu!!!” teriak Rendi yg kemudian langsung menendang Vicky.
Ia membuka seluruh pakaiannya hingga bugil.
“Gara-gara kalian, aku menghabiskan hidupku di lembah kelam… Bergaul dgn penjahat agar suatu hari datang kesempatan seperti ini…”. Aku sangat terkejut, padahal ceritanya dulu Rendi adalah orang yg berpendidikan, hanya karena perbuatan tdk menyenangkan, telah membuatnya berubah 180 derajat.
Kulihat Vicky meneteskan air mata, sepertinya ia sangat menyesali perbuatannya.
“Maafin aku Ren…”, Vicky meminta maaf pada Rendi.
“Hahaha, maaf?”… ‘BUKK’ sekali lagi Vicky mendapatkan tinjuan namun kali ini mengarah ke wajahnya.
“Kau pikir maaf itu bisa memperbaiki semua? Mengembalikan masa laluku? Mengembalikan keadaan tubuhku? Hahahah…”,

Rendi lalu tertawa terbahak-bahak. Darah terlihat menetes keluar dari mulut Vicky.
“Kau boleh balas aku, tp tolong lepasin mereka…”, pinta Vicky.
“Hahaha, aku sdh terlanjur begini… Kenapa harus berbaik hati?…”, jawab Rendi.

Rendi kemudian mendekati Niken,
“Hallo, mantan calon istriku…”, sambil memegang dagu Niken.
“Tolong lepasin kami Ren…”, Niken memohon sambil meneteskan air mata.
“Hahaha, semudah itu kah memohon padaku?”, balas Rendi dgn raut wajah sedikit kesal.
“REN!!! Gue bakal kasih lu duit berapa pun yg lu mau!” teriak Vicky mencoba menawar.
“Hey, gue gak perlu duit lu, BEGO!”, jawab Rendi ketus.
“Lepasin kami Ren…”, Niken kembali memohon.

Sedangkan aku tdk bisa berbuat apa-apa, bahkan aku tdk tahu harus berbuat apa, ini permasalahan antara mereka, tp seharusnya aku membantu Vicky, namun dgn kondisi terikat begini, sama jg sia-sia kalau aku berontak. Apalagi aku tahu perasaan Rendi bagaimana, tubuhnya yg telah ditorehkan bekas-bekas yg tdk akan hilang untuk selamanya itu, tentunya akan diingatnya hingga akhir hayat.
Muka Rendi mendekati muka Niken, ia terlihat menciumi aroma wajah Niken yg harum. Tubuhnya yg sdh bugil menunjukkan k0ntolnya yg mengeras.
“Hmm, harum sekali kamu Nik… Jadi ingin ku kentot…”, dgn senyum yg bringas kemudian Rendi berusaha menciumi Niken.
“BAJINGAN KAU REN!!!” teriak Vicky sekuat tenaga, tp sama sekali tdk dihiraukan oleh Rendi.

Ia terus menciumi kening, pipi, leher, dan bibir Niken yg tak bisa berontak karena terikat.
Vicky terus berteriak mencaci maki Rendi, tp Rendi malah semakin brutal menciumi Niken, ia pun memberikan cupangan di leher Niken hingga memerah.
“Aku akan bunuh anakmu kalau kamu tdk melayaniku!”, ancam Rendi kepada Niken sambil melihat ke arah Chelsea yg tengah tertidur.
Niken hanya menangis tak bisa menjawab, Vicky pun kemudian kembali memohon,
“Ren, ini salah gue, bukan salah mereka… Lu boleh siksa gue, tp jangan kepada mereka…”. Aku melihat Vicky meneteskan air mata, ia pasti sangat menyesal sekali dgn perbuatannya yg dulu.
Rendi tak menghiraukan Vicky, baginya inilah hukuman yg pantas Vicky dapatkan, melihat Niken disakiti tentunya merupakan pukulan berat bagi Vicky. Melihat kondisi ini, k0ntolku pun mengeras, aku yakin Rendi sdh pasti ingin menikmati Niken. Rendi kemudian melepaskan ikatan Niken,
“Ingat, nyama mereka semua ada ditanganku…”, Rendi kembali mengancam. Niken terlihat pasrah, ia menangis dan gemetaran, tanpa perlawanan kemudian pakaiannya pun dilucuti Rendi hingga lepas semua.
Sungguh indah tubuh Niken walaupun dadanya tdk begitu besar dan postur tubuhnya tdk begitu tinggi, tp lekukan tubuhnya yg langsing dan seksi dibarengi kulit yg putih mulus terlihat sungguh indah. Tdk heran, Niken diperebutkan seperti ini, bahkan aku sendiri hampir tdk bisa menahan, k0ntolku sdh tdk tahan, aku terus menelan ludah melihat indahnya tubuh seksi Niken.
“LEPASIN NIKEN REN!!!” Vicky terus berteriak,
“BAJINGAN!” semua teriakan Vicky tdk digubris Rendi. Niken gemetaran lalu dipeluk Rendi,
“Tenang saja Nik, nanti jg lu senang… Lagian kalau dulu si ‘anjing’ tdk memisahkan kita, mungkin kita sdh menjadi suami istri yg berbahagia…”, Rendi mencoba menenangkan Niken.
‘Anjing’? Apa maksud dia adalah Vicky? Berarti Rendi benar-benar sdh dendam sekali dgn Vicky. Rendi lalu kembali berciuman dgn Niken sambil memeluk erat dirinya.
“Layani aku sebentar saja Nik, mereka akan baik-baik saja…”, kembali Rendi mengingatkan posisi kami semua. Tanpa perlawanan Niken pun diciumi tanpa berhenti.

Vicky masih terus berteriak, namun suaranya sdh sedikit serak. Sedangkan Rendi sdh menciumi hingga ke bagian dada Niken. Dadanya yg tdk begitu besar namun putih itu terus diciumi dan diremas-remas oleh Rendi. Lalu ia pun sdh memulai menyedot puting susu Niken, memilin-milinnya hingga Niken terlihat kegelian. Aku sedikit malu melihat aksi Rendi, karena aku seharusnya tdk melihat adegan ini untuk menghormati bosku, Vicky, namun pemandangan langka ini tdk boleh ku lewatkan. Terus menelan ludah menahan k0ntolku yg mengeras, kulihat Vicky sdh tak bersuara, ia mulai lelah akibat teriakannya.
Puas menikmati susu Niken, Rendi pun kemudian meminta Niken berjongkok, sdh tahu apa niat Rendi, ia mengarahkan k0ntolnya ke muka Niken, ia bermaksud menyuruh Niken menyepong k0ntolnya. Awalnya Niken terlihat ragu, ia hanya memainkan k0ntol Rendi dgn tangannya. Rendi menjambak rambut Niken agar Niken tdk ragu menyepongnya. Adegan selanjutnya Niken sdh terlihat terbiasa menyepong k0ntol Vicky, bahkan kulihat gaya Niken sdh sangat profesional, tdk heran karena pengalamannya yg sdh menjadi seorang istri.
“Vick, lihat ini… Hahahaha…”, Rendi tertawa terbahak-bahak, ia senang mengolok Vicky.
Ku lihat Vicky tdk mampu bersuara, ia ngos-ngosan kecapekan.
Beberapa lama setelah itu, Rendi sdh ingin ke tahap selanjutnya. Ia menarik rambut Niken agar mengikutinya. Niken diseret hingga ke depan, lantai yg hanya beralas kardus-kardus bekas. Rendi kemudian berbaring terlentang, Niken ditarik agar menjongkok. Rendi meminta Niken melayaninya dgn gaya WOT. Adegan yg aku tunggu-tunggu telah tiba, ku lihat Vicky tdk mau melihat lagi, ia menundukkan kepalanya untuk tdk melihat perlakuan Rendi terhadap Niken, Vicky sdh sadar usaha berteriaknya hanya sia-sia, sedangkan Chelsea masih tertidur pulas.
“Oh… Andai kau jadi milikku Nik…”, desah Rendi menikmati k0ntolnya dikocok memek Niken.
Rendi meremas dada Niken sambil berbaring, Niken hanya menaik turunkan tubuhnya dgn mata yg tertutup, entah apa yg ia rasakan, kulihat antara sedih tp menikmati.
“Tp semua sdh telat Nik… Hidupku sdh berubah…”, kata Rendi.
Beberapa puluh menit kemudian terlihat Niken sdh sedikit lelah, Rendi kemudian coba bangkit memeluk Niken dan menekannya ke bawah hingga Niken terlentang, sekarang gantian Rendi yg berada di atas. Sambil menggenjot memek Niken, Rendi kemudian mengulum susu Niken. Dari sini terdengar jelas desahan Niken yg merintih keenakan. Walaupun matanya tertutup karena malu diperlakukan begini, namun aku yakin dia telah menikmati sensasi seks ini. Badannya terus bergoyang mengikuti irama sodokan k0ntol Rendi di memeknya. Permainan mereka pun berlangsung cukup lama, hingga Rendi mencapai ejakulasi, ia membiarkan k0ntolnya menyemprotkan sperma di dalam memek Niken. Niken berusaha mendorong tubuh Rendi,
“Jangan Ren…”, Niken memohon sampai menangis, namun Rendi memelukknya dgn erat sampai beberapa menit hingga k0ntolnya mulai mengecil dalam memek Niken.
Niken pun menangis lebih keras, sperma Rendi sdh memenuhi liang memeknya.
“Thanks Nik…”, kata Rendi lalu menarik keluar k0ntolnya, ia tersenyum gembira, ini adalah kemenangannya. Vicky tdk berkutik dipermalukan seperti ini.
Rendi kemudian bangkit dan menjauhi Niken, ia pun keluar dari ruangan ini. Niken masih terbaring lemah sambil menangis. Aku tahu Niken sdh menderita dan Vicky jg sdh frustasi dgn keadaan ini, akhirnya aku buka mulut, “Nik, ayo bangkit Nik… Lepasin kita…”, aku berteriak pelan agar Rendi tdk mendengarnya, “Kita harus kabur dari tempat ini…”, aku berharap Niken bisa bangkit dan dan melepaskan ikatan kami.
Mendengar masukanku, Niken kemudian coba berdiri, walaupun badannya lelah tp ia terus berusaha, ia pun berdiri dan menghampiri kami, dgn berjalan terhuyung-huyung ia menuju ke arah Chelsea. Itulah yg memotivasinya untuk keluar dari tempat ini, dgn air mata yg masih menetes, ia melepaskan ikatan Chelsea. Anaknya itu masih terlelap, sehingga Niken membiarkannya sejenak berbaring di dekat sana, lalu ia menghampiri Vicky untuk melepaskan ikatan Vicky. Vicky terlihat masih menundukkan kepala, ia menyesal telah menyeret Niken ke dunia yg begitu kejamnya.
Selesai melelaskan ikatan Vicky, ia lalu mendekatiku untuk melepaskan ikatanku. Tubuhnya kulihat dari jarak dekat membuat k0ntolku terus mengeras ingin melampiaskan gejolak. Dadanya putih sekali, ingin rasanya aku lumat. ‘BRAKKK’ suara keras tiba-tiba membuyarkan imajinasiku. Niken pun berhenti melepaskan ikatanku, matanya lalu tertuju ke arah pintu. Gila, belasan pria berbadan besar tadi memasuki ruangan ini.
“Ayo Nik, lepasin aku…”, pintaku.
Namun sebelum Niken berhasil melepaskan ikatanku, seorang pria hitam besar berlari lalu menjambak rambut Niken, lalu ia menariknya ke arah mereka. Semua kemudian mengerumuni Niken, melihat demikian Vicky lalu berlari ke arah mereka berusaha menyelamatkan Niken. Namun apa daya, selain kalah postur tubuh, Vicky jg kalah jumlah. Ia dipukuli pria-pria besar itu, ditendang hingga Vicky tersungkur dan tak sadarkan diri. Sungguh malang sekali nasib mereka, karena sebentar lagi Niken diharuskan melayani pria-pria besar itu. Satu, dua, tiga… delapan belas, iya tdk salah hitunganku, mereka berjumlah delapan belas orang.
Mereka lalu melepaskan pakaian mereka masing-masing. Mereka terlihat sangat bringas, Niken ditampar dan digeraygi. Tak mau menunggu lama, mereka pun bergiliran menikmati Niken yg tak berdaya. Satu pria dgn k0ntolnya yg besar langsung menusukkan ke arah memek Niken, yg lain hanya meremas susu Niken, satunya lagi menancapkan k0ntolnya ke mulut Niken yg mungil. Niken menangis ketakutan,
“Hiks hiks hiks…”. Berjam-jam mereka tdk berhenti menikamti Niken, secara non-stop bergiliran menggenjot memek Niken.
Mereka pun tdk segan berlaku brutal, rambut Niken dijambak, payudaranya ditampar, bahkan memeknya ditusuk tanpa henti bukan hanya dgn k0ntol mereka melainkan tongkat baseball yg mereka bawa sebagai senjata.
“Perek ini bening sekali ya…”, kata mereka.
“Bagus habis ini kita jual saja…”, sambung yg lain.
“Iya, pasti laku nih…”, lanjut yg lainnya.
“Oh ya, lihat tuh anak perempuannya sdh bangun…”, kata yg lain melihat Chelsea sedikit bergerak karena terbangun.

Apa yg akan terjadi dgn Chelsea? Apalagi kalau ia melihat kondisi ibunya seperti itu.
“Hey, lu kan doyan anak-anak…”, olok salah satu pria ke pada satu pria lainnya.
Pria itu terlihat mempunyai kelaianan, ia kemudian bangkit dan mendekati Chelsea.
“Jangaannnnn……..”, Niken mencoba memohon, ia terlihat tak mampu lagi ber teriak.
Pria besar yg mendekati Chelsea itu lalu menarik Chelsea, anak itu kaget lalu menangis,
“Mamaaaa….”, teriaknya. Kasihan sekali, anak perempuan yg masih kecil itu sebentar lagi akan dinodai.
Vicky masih pingsan, dan aku terikat erat di sini tak mungkin menolong, namun walaupun aku tdk terikat, aku jg tak mungkin mampu menolong. Yg aku lakukan hanya bisa coba memohon,
“Hei, dia masih anak-anak… Teganya kalian… Coba kalian bayangkan kalau itu terjadi pada anak kalian?!…”, aku coba menyadarkan mereka.
Namun pria itu tdk menggubris, ia menangkap Chelsea lalu menarik koyak baju Chelsea.
Pria yg mengerumuni Niken malah marah padaku,
“Hey, bisa diam ga lu?! Atau mau gue bunuh?!”, ancamnya membuatku langsung terdiam.
“Jadi orang gak usah munafik!”, sambung satu temannya. Kemudian salah satu dari mereka mendekatiku dan meremas kelaminku,
“Wah, otongnya keras, dia konak broooo….”, teriaknya kepada kawan-kawannya.
“Hahaha, gak usah munafik, nih kita kasih jatah…”, sambut kawannya langsung menyeret Niken ke arah ku.

Pria yg tadi meremas k0ntolku langsung membuka resleting celanaku, ia menarik keluar k0ntolku,
“Ayo kulum…”, mereka meminta Niken mengulum k0ntolku.
Entah apa yg kurasakan lagi, semua gelora berkecamuk dipikiranku, ku alihkan pandangan ke arah Chelsea, ternyata anak perempuan itu masih menangis dgn kondisi tubuhnya yg sdh bugil tanpa satu helai pakaianpun, dada nya rata, ia hanya anak berumur sekitar tujuh tahunan, sunggub bajingan mereka.
Tak bisa berpikir lebih lanjut, tiba-tiba k0ntolku terasa hangat, Niken dgn terpaksa mengulum k0ntolku dgn posisi di-‘doggie’ oleh pria berbadan besar penuh tatto, pria lain memegabgi Niken agar ia tdk lelah dgn posisinya, yg lain sambil meremas-remas susu Niken. Sedangkan satu pria keluar dan kemudian kembali dgn membawa seember air penuh,
“Gue mau liat reaksi pria ini…”, ia lalu menguyurkan air itu ke arah Vicky, membuat Vicky tersadar dari pingsannya.
Pria itu menarik bangkit Vicky,
“Liat jing! Wanita yg lu cintai… Sedang melayani kami, bahkan melayani temanmu sendiri…”, ia memaksa Vicky memandang ke arah kami.
Aku sangat tdk enak, aku menggelengkan kepala, entah apalagi yg dirasakan Vicky kemudian. Ia menangis tanpa mau melawan, pria itu lalu mendorongnya jatuh. Namun ketika Vicky memandang ke arah Chelsea yg sedang dipeluk satu pria, Vicky terlihat marah, ia bangkit dan mau melawan, kemudian ia tetap dilumpuhkan dgn tendangan pria yg tadi menyiramnya.
“Lu nonton aja!!”, kata pria itu masih menendang Vicky agar Vicky tdk melawan.
Aku telah merasakan nikmat duniawi, k0ntolku benar-benar nyaman diemut oleh Niken. Sungguh hangat k0ntolku berada di dalam mulutnya, Niken hanya menangis dan mengikuti perintah. Dgn gaya doggie, Niken terus menyepong k0ntolku tanpa henti, sedangkan pria-pria yg men-doggie nya sdh silih berganti. Dan sebentar lagi aku jg akan mencapai tahap ejakulasi, kurasakan nikmat mencapai ujung k0ntol, akhirnya aku pun menyemprotkan sperma ke dalam mulut Niken.
“Bajii… nggaannnnn….”, Vicky tak mampu melawan, ia hanya bisa terus tersungkur karena dipukuli pria tadi.
Kami hanya bisa melihat adegan ini tanpa perlawanan. Yg paling menyedihkan adalah nasib Chelsea, ia sdh terlihat pingsan karena tak mampu menahan rasa sakit ketika memeknya ditembus k0ntol jumbo pria berkelainan seks itu. Pria tersebut terus mengenjot anak Niken yg masih kecil. Chelsea memang terlihat cantik, kalau sdh besar pasti akan menjadi pujaan lelaki, tp sangat disayang hidupnya telah hancur seperti ini. Rambutnya yg panjang dan hitam terus dibelai pria itu, bibirnya yg mungil dilumat, lalu jg ke arah susunya yg rata, kulitnya putih sehingga bekas cupangan sangat terlihat jelas.
Sedangkan nasib Niken masih belum berubah, walaupun ia sdh selesai menyepong k0ntolku, kini ia diharuskan menyepong k0ntol milik pria lainnya. Entah sdh berapa pria yg telah menggilirnya, tp permainan ini sama sekali belum berakhir, apa mereka akan menawan kami sampai waktu yg cukup lama? Apa yg akan terjadi selanjutnya? Apa kami akan dibunuh? Aku tak mampu memikirkannya lagi, sekarang aku hanya menyaksikan adegan ‘live’ yg sangat seru.
Kini kulihat Niken berada di atas salah satu pria yg berbaring dilantai, pria itu kemudian memeluknya dgn cukup erat sehingga pantatnya sedikit nungging. Dgn memek yg masih tertancap k0ntol, salah satu pria mendekati Niken dan ingin melakukan aksi anal. Tak mau lama-lama, pria itu dgn cepat dan kasar menusukkan k0ntolnya ke lubang anus Niken.
“Argggghhhhhhh!!!!….”, teriak Niken.
Kini lubang memek dan anusnya telah tertancap k0ntol, giliran mulutnya yg akan disumpal k0ntol pria lainnya. Aku tdk tega melihat Niken mengejang kesakitan seperti itu, tubuhnya mungil tampak terlihat seperti sedang berada dalam genggaman para monster.
Lama sekali mereka menggenjot Niken, lalu kualihkan pandangan ke arah Chelsea, ia masih terus digenjot pria tadi. ‘Apa enaknya?’ pikirku dalam hati, kok pria itu sangat menikmati, menggenjot tubuh seorang anak kecil dan melumat susu yg rata. Sungguh bajingan yg berotak gila, sifatnya tak jauh dari sifat temanku, Tono, yg mempunyai kelainan seks jg.
‘BUKKK!’ suara tendangan yg sangat keras mengarah ke perut Vicky. Ternyata Vicky masih mencoba bangkit untuk menyelamatkan Chelsea.
“Lu ini gak tau diuntung ya?! Syukur-syukur kalian gak kami bunuh…”, kata pria yg menendang Vicky itu.
“Hahaha, apa dia jg mau nyicip anak ini?”, gurau pria yg sedang menggenjot Chelsea.
“Tenang saja, tar kalo gue dah puas, lu bole nikmatin jg kok…”, sambungnya yg semakin membuat Vicky marah.

Masih beberapa pukulan dan tendangan mengenai Vicky, mulutnya sdh mengeluarkan darah, matanya pun bengkak sebelah.
Niken sdh mulai tdk sadarkan diri, sekarang hanya satu pria yg memperkosanya, sedangkan pria lain sdh puas mendapatkan giliran. Tubuh Niken penuh dgn cupangan, wajahnya belepotan dgn sperma, bahkan masih ada beberapa tetes yg mengalir keluar dari mulutnya. Setelah berhasil berejakulasi di dalam memek Niken, pria itu pun kemudian mencabut k0ntolnya, terlihat jelas sperma menetes keluar dari lubang memek Niken. Kemudian pria itu membopong tubuh Niken dan dilemparkan ke arah Vicky.
“Nik…”, seru Vicky ketika tubuh Niken didekatnya, Vicky lalu memeluknya dan coba membuatnya terjaga.
“Woi! Gue bukan suruh lu pelukin dia!”, kata satu pria, lalu pria lain pun menyambung,
“Kami mau liat lu ngentot sama tuh perek!”. Vicky lalu melotot ke arah mereka, seakan tdk percaya betapa malang nasib Niken.
“Napa? Mau lawan? Atau biar kami telpon kawan kami yg lainnya lagi biar lebih rame lagi ngentotin tuh perek?”, ancam satu pria.

Vicky lalu memucat wajahnya, pelan-pelan akhirnya ia membuka bajunya.
“Kalau gak mau, tar kita kentot tuh anak jg…”, tambahnya mengancam.
“Bole bro, gue dah selesai ne…”, kata pria yg memperkosa Chelsea.

Tubuh Chelsea yg lunglai ditinggalkan begitu saja dgn memek yg berdarah karena koyak ditembus k0ntol besar, sekitarnya terlihat cairan sperma yg tertinggal. Vicky tak berkutik, ia hanya bisa menuruti kemauan pria-pria itu, Vicky mulai menggenjot Niken yg sedang pingsan. Sinar cahaya air mata terlihat dari wajah Vicky, ia terus menangis sambil menyetubuhi Niken. Malang sekali, pria-pria jahanam itu malah bersorak-sorai, mereka pun kembali mengenakan pakaian mereka sambil mengawasi tingkah laku kami.
Akhirnya ku lihat Vicky mengejang, ia sdh berejakulasi dan menyemprotkan spermanya ke dalam memek Niken.
“Hebat! Lu ternyata jg doyan ma perek ini… Hari ini kami jual gratis, lain kali mesti bayar loh…”, ejek pria bertubuh gede itu. Aku hanya diam dan menundukkan kepalaku.
“Hei, lu mau ga? Gratis loh…”, seru pria itu ke arah ku, aku pun langsung diam dan berpura-pura tertidur.
“Biarin aja bro, anggap aja dia lagi ga mujur, hahahaha…”, olok kawannya mengira aku sdh tertidur.

Aku hanya pura-pura tertidur, namun aku masih jelas mengetahui aktivitas mereka. Mereka terus berbicara sambil merokok, mengawasi kami dgn cermat.
“Yuk cabut…”, aku mendengar ada pria yg berkata demikian, aku tdk berani mengangkat kepalaku, ku biarkan hingga ku dengar pintu terbuka dan tertutup kembali.
Saat ku angkat kepalaku, ruangan sdh tdk ada mereka, sebelah kiri hanya ada Chelsea yg tertidur pulas, sedangkan depanku ada Vicky yg jg tertidur memeluki Niken. Kondisiku yg cukup baik, walaupun terikat tp setdknya aku tdk disiksa mereka, malah mendapat sedikit kenang-kenangan, dgn kondisi terikat, k0ntolku masih bergelantungan di luar celana yg resletingnya terbuka.
Menunggu cukup lama, akhirnya aku pun tertidur. Dan suara gaduh kemudian membangunkanku, dgn mata sayup-sayup ku coba melihat keadaan sekitar. Sedikit lega, aku melihat ruangan ini ramai dgn polisi, mereka lalu mengevakuasi Vicky, Niken dan Chelsea. Kemudian salah satu polisi mendekatiku dan melepaskan ikatanku. Beberapa polisi terlihat menggeledah kotak-kotak yg ada di ruangan, ternyata isinya adalah botol-botol bir, dan beberapa memasang garis polisi. Kami pun dibawa ke mobil mereka dan meminta kami menjelaskan apa yg terjadi di kantor polisi.
Aku masih sedikit pusing, tp sesampai di kantor polisi, ku lihat Vicky dgn lancar menceritakan apa yg terjadi, walaupun wajahnya masih bengkak di mana-mana.
“Pokoknya Rendi harus ditangkap! Berapapun akan aku bayar!”, Vicky menegaskan. Sedangkan Niken dan Chelsea dibawa ke rumah sakit untuk divisum. Aku pun dimintai beberapa kesaksian, dan aku menceritakan semuanya yg terjadi. Cerita sex, cerita nyata, cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa hot berjudul “Cerita Sex Pembalasan Berbuah Kenikmatan” Terbaru 2016

No comments:

Post a Comment