Sunday, September 4, 2016

Cerita Mesum Mama Yang Digadaikan Padaku


“Dasar kau Anjing.”
Aku berteriak pada Didit, ayah tiriku.
“Kau tak bisa menjual orang. Bahkan kau tak akan pernah bisa menjual mamaku!”
Dia melihatku, matanya tajam seram, wajahnya tanpa senyum.
“Jangan naïf. Dengarkan sekali saja dlm hidupmu. Aku berhutang besar pada seseorang. Seseorang yg sangat kejam. Mamamu yg pelacur itu bisa membuat hutangku lunas jika aku menjualnya.”
Cerita sex terbaru, Aku bangkit dan akan memukulnya. Tp ayah tiriku, biasa hidup dlm kekerasan masih bisa memukulku bahkan aku tahu dia selalu membawa pisau.
“Duduk atau kupukul kau. Karena aku dermawan, kalau kau mau, aku bisa menjualnya padamu seharga 25 juta. Mau atau tdk? Jawab sekarang!”
Cerita dewasa terbaru, Aku tahu aku bisa membayar dgn uang warisanku. Tp aku tak percaya pada ayah tiriku.
“Knp aku harus percaya? Setelah kau dapat uangnya, kau bakal mungir perjanjiannya dan bahkan situasinya bisa lebih buruk.”
“Percaya sajalah padaku. Perjanjiannya meliputi surat cerai. Dan aku tak ingin melihat kalian lagi. Kutunggu hingga akhir minggu. Dan harus tunai, bukan cek, transfer atau apapun”
“Dan jika aku tak mau?”
“Mamamu bakal hilang. Bahkan meski kau lapor polisi, tak akan ada gunanya.”
“Apakah mama tau ‘perjanjian’ ini?”

Dia menyeringai sinis menyatakan bahwa ini akan mengejutkan mama seperti jg mengejutkanku. Bisa saja aku tak membayarnya. Tp aku tahu yg diucapkannya bakal terjadi.
“Ok Anjing, aku setuju!”
“Ok. Bawa uangnya jumat malam jam 7 dan kau bisa membawa pelacur itu dgnmu.”

Kutatap dia. Seharusnya kubunuh sekarang jg tp yg kulakukan malah mengangguk dan pergi. Esoknya kusiapkan uang. Lalu hari jumatnya kudatangi rumah Didit, ayah tiriku, sambil membawa uang 25 juta.
“Bawa uangnya?”
“Mungkin. Mana mama?”
“Oi pelacur, ada tamu!”

Aku tau mama tak suka disebut pelacur. Namanya adalah Yuni.
Mama keluar tanpa melihatku, tp berlutut di depan ayah tiriku. Wajahku menampakan keterkejutan atas apa yg kulihat, lalu ayah tiriku tertawa miring.
“Tak seperti yg kau harapkan hah?”
Sdh setahun tak pernah kulihat mama; Didit yg melakukannya. Mama terlihat berubah tanpa keyakinan; Mama terlihat suram, rambutnya terlihat berminyak, kulitnya pucat dan tak sehat dan kukunya patah – patah. Pakaian mama kotor, lusuh dan memakai sandal jepit. Terlihat sengsara dan penuh penderitaan.
“Dasar pelacur menyedihkan. Aku menemukan orang yg siap membeli tubuh tak bergunamu. Bilang ‘halo’ pada tuanmu yg baru.”
Mama berbalik dan melihatku. Melalui matanya terlihat kekalahan, bercampur dgn rasa takut. Saat mama menyadari siapa ‘pemilik’ barunya, matanya kian melebar; mama berteriak dan pingsan.
“Pelacur bodoh.”
Didit menendangnya tp aku berterika padanya.
“Anjing tinggalkan dia Dit. Ini uangmu, sekarang mana perjanjian cerainya?”
Dia mengambil secarik kertas dan menunjukannya padaku. Mama mendadak bangun dan yg mengejutkanku malah berlutut di kaki Didit.
“Tolong tuan, jangan lakukan ini. Dia anakku, aku tak tahan dia melihatku seperti ini …”
“Diam dan pergilah, kalian. Dasar pengecut. Aku pergi sekarang dan kalian takkan lagi melihatku.”

Tanpa bicara lagi, kubawa mama ke mobil. Kami menuju rumahku.
“Maaf bu, rumahku kecil dan berantakan.”
“Ya tuan. Maaf telah membuatmu dapat masalah.”

Mama berkata sambil berlutut menghadapku. Kuberdirikan mamaku.
“Ok. Yg pertama, berdirilah dan hentika soal per’tuan’an lagi. Aku Abet dan kau mamaku. Lapar gak?”
Mama mengangguk.
“Oke bu. Pertama, Abet ingin mama mandi lalu makan. Setelah itu Abet ingin ibu langsung tidur agar pulas dan cukup istirahat. Esok pagi baru kita ngobrol.”
Lalu mama pergi tanpa suara; kubayangkan mama mesti hati – hati di depan Didit. Kusiapkan nasi goreng untuk kami berdua. Mungkin mama sangat lapar. Setelah kami selesai makan, mama akan membereskan meja tp segera kucehah.

“Tak perlu ma, biar nanti Abet bereskan sendiri. Sekarang mama tidur saja.”
Ibu menurut dan seteleha duduk dlm diam sejenak, melihat tv dan melihatku, mama pergi ke kamarku sedangkan aku tidur di ruang tv. Esoknya kupikir aku mimpi indah. Artis favoritku sedang berlutut di depanku, nyepong penisku, lidahnya bermain di penisku. Tangannya jg memainkan testisku. Mulutnya meracau tak jelas seperti bernafsu. Aku tetap bermimpi, kurasakan bentar lagi aku akan keluar – lalu kusadari bahwa ini bukanlah mimpi.
Mamaku sedang berlutut di samping sofa, sementara penisu yg tegang sedang terbenam di mulutnya. Aku tersentak kaget.
“Apa – apaan ini ma?”
Mama mundur di lantai, wajahnya menampakan ketakutan yg amat sangat.
“Ma.. maaf tuan; pe… pe… lacuru ini mes.. mesti membangunkan tuannya dgn cara ini tepat jam delapan pagi. Kalau tdk dihukum. Pel… pelacur ini minta maaf kalau berbuat salah.”
Setelah bicara, mama lalu jongkok dan mendekatkan pantatnya kepadaku agar siap dihukum. Aku tahu kami mesti ngobrol tp mungkin tdk sekarang.
“Ma, pake baju mama, lalu ke sini lagi dan kita akan sarapan lalu ngobrol.”
Mama muncul lagi memakai daster tua yg sdh usang, lalu bersikeras.
“Tuan, membuat sarapan adalah tugasku; tolong biarkan aku melayanimu?”
Kupikir mencoba merubah drastis cara mama hidup secara cepat bakal berbahaya. Jadi aku setuju, aku minta mie goreng dan telur sserta kopi. Mama sangat cepat dan efisien. Tp langsung menjauh dan berlutut saat aku mulai makan.
“Tdk ma, kita makan bersama. Sekarang, buat sarapan untuk mama dan makan bersama Abet di sini.”
Ibu nurut. Tp sembunyi – sembunyi melihatku mencoba melihat apakan aku akan marah. Kami makan dlm diam. Lalu setelah itu kami berpakaian. Ternyata kami memakai jin dan t-shirt.
“Ma, sekarang mama bebas dari bajingan itu, dan kita mesti hentikan per’tuan’an yg tak masuk akal ini. Aku Abet dan kau mamaku. Sdh tugasku untuk menjaga dan membantu mama kembali lagi hidup normal sebagai Yuni, mamaku. Mama mau Abet bawa ke psikolog?”
“Tdk, tdk terima kasih, tu… Abet. Kaulah yg kubutuhkan dan aku akan berterimakasih jika kau ada saat aku mencari jati diriku lagi. Ini takkan mudah, bahkan kadang – kadang aku mungkin lupa dan kembali ke kebiasaan lama. Tolong maafkan jika aku lupa.”
“Tak perlu meinta maaf, tp jika ibu merasa ingin dimaafkan, anggaplah itu sebagai hadiah. Mungkin ada baiknya bicara tentang apa yg terjadi pada mama.”
“Mama rasa Abetlah satu – satunya yg bisa mama ajak bicara. Yg bisa mengerti dan takkan menghakimi mama. Ceritanya panjang, jadi mama ceritakan pelan – pelan.”

Hari itu aku beres – beres rumah. Mama mencoba membantu. Tp kelihatannya sangat susah menyesuaikan diri hidup bersamaku. Menjelang sore akhirnya mama menangis di kamar mandi. Kubujuk mama agar keluar dan mama keluar setelah tangisnya selesai. Memalukan melihat mama berterimakasih. Saat mama bilang ia tak ingat lagi kapan diperlakukan sehangat ini, aku bertanya – tanya tentang penderitaannya selama ini. Kusadari mama perlu bicara mengeluarkan unek – uneknya agar keluar dari penderitaannya selama ini. Lalu, di lain pihak, aku akan pindah dari rumah sempit ini. Perlu beberapa hari untuk mengepak barang dan pindah dari rumah ini. Ibu membantuku pindah dan beres – beres di rumah baruku dan ibu kelihatannya senang. Setelah dua hari kami pindah, kami duduk di ruang tv. Mama lalu mulai bercerita.
“Abet sayang, mama tak tahu apakah kau akan mengerti; tolong jangan berpikir buruk tentang mama. Bahkan sejak kecil sdh terbiasa patuh. Saat masa puber, semuanya mulai terang; aku butuh seseorang yg mengontrolku, yg membuat keputusan untukku, dan yg mendikte hidupku. Aku butuh kepastian. Aku butuh seseorang untukku bersandar. Aku anak kesepian tanpa teman hingga sangat butuh orang dewasa di keluarga.
Hasilnya, pria dlm hidupku menyuruhku menuruti mereka, mempermalukanku dan menghukumku dan dlm hal buruk ini kutemukan kenikmatan. Saat ayahku menampar pantatku, kukatakan pada diriku bahwa pria ada di atasku dan aku mesti menyenangkan mereka. Bukannya bersalah, aku malah menikmati ditampar pantatku. Ayah tak pernah melecehkanku secara seksual, tp kadang aku berharap demikian agar aku dapat kenikmatan dari yg lain.
Awalnya, saat aku mulai menikmati diri sendiri, kunikmati sensasinya. Lalu ayah tahu rahasiaku dan menunjukan pandangan lain. Ia menampar pantatku, merendahkanku dan mempermalukanku dgn menyuruhku berdiri di suduh ruangan sambil memakai papan bertuliskan ‘pelacur’. Kurasa, ayah jg menikmatinya, jadi kubiarkan saja, lagian aku tak punya pilihan.
Lalu aku mulai bertemu ayahmu dan dia mendominasiku lebih jauh. Ia menampar pantatku dan mencambukku seperti ayah, jg mempermalukanku di depan publik dan menyuruhku melakukan hal yg bahkan tak pernah kuimpikan. Ia mengikatku dan putingku ditetesi lilin panas, mengikat susuku dan mencambuknya hingga aku berteriak, mengencingiku, dan memasukan pelbagai objek ke nonok dan boolku. Dan ketika semua itu terjadi, aku selalu orgasme. Aku menyukainya. Aku menyukai benda – benda aneh dan selalu ingin lebih; ini menjadi candu bagiku. Mungkin inilah gantinya karena aku tak pernah mendapatkan kasihsayang dari ayahmu maupun Didit. Kurasakan kenikmatan dlm kesakitan.
Tp semua berubah. Ayahmu mulai bosan padaku. Lalu dia mulai brutal, memukulku dgn apa saja yg ada di tangannya. Semuanya tak lagi menyenangkan tp menakutkan. Lalu dia meninggal. Aku menjadi bingung. Aku tak tahu apa yg harus kulakukan. Aku berhubungan dgn satu atau dua pria tp mereka tak pernah bisa memuaskanku.
Lalu aku bertemu Didit. Kurasa keberuntungan berpihak padaku. Ia begitu peka, perhatian dan aku setuju menikah denganya. Ia sungguh jantan pada awalnya, dan memberi semua yg ibu butuhkan. Setelah bulan madu yg singkat, dia mulai berubah jadi monster yg sering kau lihat. Ia berjudi dan minum alkohol. Aku memohon agar dia tak mengusirmu saat umurmu delapan belas tahun, tp ia bilang ia tak peduli padamu. Lalu semua menjadi jelas bahwa dia jg tak peduli padaku. Ia menyiksaku dgn tali, kayu dan apa saja. Ia selalu menyuruhku berlutut dua kali sehari dan kadang menyuruhku membersihkan anusnya dgn lidahku. Aku sering muntah dan sering dipukul karena muntah.
Akhirnya dia tak bisa ereksi jadi dia tak lagi menjamahku. Lalu saat uang kami mulai menipis, dia melacurkanku pada siapa saja yg mau membayar. Semuanya menjadi mimpi buruk; kadang aku mesti melayani dua atau tiga pria dlm satu malam. Lalu dia bilang dia akan menjualku dan menceritakan betapa seramnya hidup yg akan kujalani. Aku tak tahu kapan dia akan menjualku dan saat aku masuk ruangan itu dan kulihat kamu, aku ingin mati. Aku tak sanggup membiarkan anakku melihatku seperti ini. Tp aku senang kau mau mendengarkan tanpa menghakimiku.
“Makasih ma. Abet tahu betapa berat semua ini untuk mama. Abet tahu semua bukan salah mama. Kita mesti mulai awal yg baru dan Abet mau melakukan apa saja untuk membantu mama.”
Ekspresi ganjil terpampang di wajahnya, seperti bersukur diiringi kegembiraan yg tak bisa kupahami. Tp mama berterimakasih padaku, dan mencium pipiku lalu pergi.
Sepertinya semua berjalan sempurna. Aku sibuk bekerja sedangkan mama di rumah. Mama kembali menata dirinya. Mama mulai dandan serta membeli beberapa pakaian dan mulai olahraga di sekitar komplek. Hubungan kami berangsur membaik. Bahkan kutawari apa saja agar mama semakin membaik.
Tp semuanya hilang begitu saja seperti air yg diserap bumi. Karena urusan kantor selesai lebih awal, siangnya aku bisa pulang. Pintu tak dikunci. Di ruang tv kudapati celana jin dan cd nya berserakan di lantai. Pahanya dilebarkan dan nonoknya terlihat jelas. Cerita Mesum Mama Yang Digadaikan Padaku
Mama sedang dientot oleh pria kurus mungkin tak lebih dari 18 tahun. Pria itu ngentot mama dan menaiki mama, menusuk mama dgn penisnya dan mama mengerang, kelihatannya mereka berdua akan klimaks. Dia menampar susu mama hingga mama menjerit. Tp mama menjerit kenikmatan saat dia dientot oleh orang lain. Mama berteriak.
“Entot terus… ah… yg dlm… ah… ah… aku mau keluar… ah… keluarkan di dlm.”
Sdh cukup apa yg kulihat. Lalu aku menyela kegiatan mereka, masuk dan berteriak.
“Apa – apaan ini?”
Mama berteriak. Menjauh dari orang yg mengentotnya dan meringkuk seperti janin di lantai. Pria itu bangkit dan berdiri di belakangku.
“Dia ingin ini tuan. Dia menawarkan diri padaku di toserba. Dia bilang dia mencari pria yg bisa mengentotnya dan dia menawarkan sejumlah uang. Dia …”
“Pergi kau bajingan. Kalau kau kulihat lagi akan kubuat kau menyesal. Sekarang pergi!”

Tanpa disuruh lagi, pria itu langsung pergi meninggalkan aku dan mama. Aku tak bicara, melihat mama telanjang. Mama bangkit perlahan dan memakai kembali pakaiannya dan tak mau menatapku.
“Mama punya dua pilihan. Ceritakan yg terjadi atau bereskan barang mama dan pergi dari sini sekarang jg.”
Akhirnya mama menatapku. Wajahnya kembali suram sesuram saat kubawa mama dari Didit.
“Tolong jangan mengusirku. Tolong jangan membuaku pergi.”
Semua ini diluar dugaanku. Aku tak tahu mesti bersikap bagaimana.
“Ok ma, sepertinya mama memilih untuk bercerita. Jadi duduklah dan ceritakan semuanya tanpa ada yg disembunyikan. Abet tahu kalau mama bohong.”
Mama menangis dan menarik nafas dlm – dlm.
“Mama tak tahu mesti cerita dari mana. Tp akan mama coba. Mama telah katakan betapa mama menyukai benda – benda aneh dan mama telah terobsesi. Mama butuh seperti alkoholik butuh alkohol. Tingkah laku Didit tak menyembuhkanku. Mama hanya berusaha agar tak dipukuli. Tp kebutuhan mama tetap tak terpuaskan. Lalu kamu mulai menyelamatkan mama. Dan kupikir mama akan bebas dan hidup kembali. Tp masalah lain datang. Mama ingin terpuaskan secara seksual. Mungkin kamu tak tahu, tp mama sering masturbasi tak ternyata tak banyak membantu. Anak yg tadi kau usir, tak jujur. Ia mulai merayu mama di toserba. Mama layani saja. Hingga akhirnya dia bilang mama sangat seksi dan ingin tidur dgn mama.”
“Apa kata – katanya memang begitu ma?”
“Tdk, sebenarnya dia bilang ‘aku ingin memasukan penisku ke nonokmu dan ngentot sampai kau berteriak.’ Mama tahu mestinya mama menamparnya atau memanggil satpam. Tp aku menyerah dan ia membawaku pergi.”
“Berapa kali dia meniduri mama?”
“3kali. Ia ingin dibawa ke rumah karena kubilang kau takkan pulang sampai sore. Lalu kau tiba – tiba datang.?
“Hm… Ada apa dgnmu ma?”

Nafasnya tercekat di tenggorokan.
“Mama tahu mama memang pelacur. Tp mama tak tahu cara menghilangkannya. Mama tak bisa lari dari kenyataan bahwa mama memang penurut dan mama tak ingin lari. Yg mama ingat, sejak dulu mama selalu butuh orang yg bisa mengontrol amam, tp mama tak pernah menemukan seseorang yg bisa mama percayai. Seseorang yg bisa memberi mama rasa aman jadi mama bisa istirahat dan menikmati hidup. Ayahku kujam. Ayahmu jg tak beda dan selalu memenuhi kebutuhan mama. Lalu ada Didit tp semua malah memburuk. Jadi mama masih mencari seseorang yg bisa mengontrol dan mendominasi mama, dimana mama tahu mama akan aman.”
“Dan mama pikir anak tadi orang yg tepat?”
Aku tahu aku terdengar tak berperasaan, tp aku tak ingin ada salahpaham.
“Oh tuhan, tentu saja tdk. Mama hanya ingin disentuh. Mama akan jadi apa saja yg dia inginkan selama dia bisa membuat mama orgasme. Lalu kau muncul.”
Mama sepertinya tersenyum.
“Kurasa aku mengerti, tp kemana mama akan pergi? Apa yg akan mama lakukan? Jika mama ingin bantuan psikologi atau bimbingan, Abet bisa …”
Ibu cepat memotong kata – kataku.
“Tdk. Terlepas dari bagaimana kau melihatnya, mama tdk sakit. Simpelnya gini, mama menikmati seks dan mama menikmati, tdk, mama butuh di dominasi, dan kedua hal itu mesti disertai rasa aman dan kepercayaan serta cinta. Jika mama tak bisa menemukan orang yg tepat, mama bisa jadi apapun yg diinginkan dan melakukan apapun yg diperintahkan pada mama. Tp ini sangat susah dan mama tak tahu mesti bagaimana.”
Air matanya mengalir lagi dan mama tampak kalah dan sedih. Kutatap mama. Disamping airmatanya, mama masih terlihat menarik tp rentan. Tiba – tiba jawabannya muncul mendadak di pikiranku. Aku mengigil mengetahui bahaya dari pikiran yg menggangguku. Mama melihatku ingin tahu.
“Kau tak apa – apa ?”
“Mama, Abet ngerti mama butuh pria untuk dicintai dan dipercaya. Balasannya mama bilang mau melakukan apa saja demi dia?”
“Ya.”

Aku bernafas dlm – dlm.
“Dulu mama sering memanggil Abet ‘tuan. Bisakah kita melakukannya lagi? Maukah mama terima Abet sebagai pemilik mama?”
“Abet, apa kau sadar apa yg kau katakan? Apa kau tahu itu namanya incest? Gimana bisa kita …?”
“Udahlah ma, tak usah basa – basi berandai – andai. Jika itu yg mama mau dan mama yakin kita bisa melakukannya, buka pakaian mama, sini duduk dipangkuanku dan cium aku!”

Respon mama sangat cepat hingga aku tak percaya. Tp sedetik kemudian mama duduk di pangkuanku, mulutnya mencari mulutku dan menciumku seolah – olah hidupnya tergantung pada ini.
Kesenangan memancar dari matanya. Mama merintih senang saat kupeluk erat mama dan tanganku mengusap tubuhnya.
“Pertama – tama, mama mesti mandi dan bersihkan nonok mama dari sperma. Lalu cukur bulu nonok mama hingga bersih dan mesti begitu setiap saat. Lalu mama mesti memastiakn anus mama bersih, siapa tahu Abet ingin memakai anus mama.”
Mama terlihat senang dan ke kamar mandi tanpa ragu – ragu.
Mama kembali dari kamar mandi, memakai daster dan menonjolkan susunya.
“Tuan, bolehkan aku menunjukan rasa terimakasihkku dan betapa aku ingin melayanimu?”
“Terdengar menarik. Tunjukan kesiapan mama melayaniku.”

Mama berlutut di depanku, membuka sabukku dan celana jinku. Lalu mengeluarkan penisku yg sdh keras. Mulutnya memainkan helm penisku, menjilatnya dan memenuhinya dgn air liur mama. Lidahnya tak henti bekerja hingga dibawah helmnya pun dijilati. Tak ada satu mili pun yg terlewati oleh mulutnya. Mama menjilat dan menghisap penisku.
Aku mendesis menahan nikmat yg tak pernah kubayangkan dan tingkah mama membuatku tak bisa bertahan lama.
“Jika mama terus begitu, Abet bisa cepat keluar. Jika mama tak berhati – hati, bisa – bisa keluar di mulut mama.”
Mama berhenti sebentar dan mengerang.
“Keluarkan saja di mulut mama. Mama ingin merasakan dan memenuhi mulut mama dgn spermamu.”
Tak perlu disuruh lagi aku pun keluar dan memuncratkan semua spermaku di mulut mama. Mama menahan penisku di mulutnya sampai penisku mengecil. Lalu mama menjilat semuanya sampai bersih.
“Terimakasih tuan. Terimakasih telah menghadiahiku benihmu. Aku milikmu dan akan melakukan apa saja katamu.”
“Yuni”

Untuk pertama kalinya, kupanggi mama dgn namanya.
“Aku ingin kau mengerti aku tak pernah mendominasi sebelumnya. Meski aku sering membaca fantasi seksual hingga tahu caranya. Tp sejak lama aku sering mengimpikanmu dan aku sedih melihat kau diperlakukan. Aku ingin memegangmu, peduli padamu, menikmatimu, ngentotmu dan mendengarmu menjerit kenikmatan. Kurasa itu menjadikanku aneh, tp …”
“Abet, anakku. Kaulah orang yg selalu peduli pada mama. Sejak kau lahir, mama sdh memasrahkan hidup mama padamu. Padamulah mama ingin patuh. Ya, mama melakukan hal – hal buruk, dan masih melakukannya karena mama menyukainya. Hingga sekarang.”
“Apa mama yakin? Sepertinya aku dapat semuanya. Hubungan cinta penuh nafsu dan budak seksi yg akan melakukan apa saja untukku.”
“Oh ya tuan. Tuan bisa menyuruh apa saja. Mama bisa menjadi kekasihmu, pelacurmu dan kenikmatanmu selalu menjadi kenikmatanku.”

Lalu sebuah kenyataan tiba – tiba muncul di otakku. Mamaku akan melakukan apa saja yg kuinginkan; aku bisa memiliki tubuh mama tanpa batas.
“Mama telah menawarkan tubuh mama tanpa syarat untuk kunikmati dgn cara apapun. Tp ada sesuatu yg lebih dari itu. Katakan sebenarnya apa yg mama inginkan dari hubungan kita, dimana sekarang tak ada lagi yg perlu mama sembunyikan.”
“Tolong mengertilah Abet. Mama milikmu seutuhnya dan Abet bisa memakai mama dgn cara apapun yg Abet mau. Inilah yg mama inginkan dan balasannya mama akan melayanimu kapan saja. Mama jg akan jadi mama yg baik, memasak dan mencuci serta membersihakn rumah. Oh Abet. Mama ingin kamu, mama butuh kamu, mama cinta kamu.”
“Abet ngerti ma, dan Abet jg mencintai mama. Tp Abet ingin tahu, knp mama sangat ingin direndahkan, dipermalukan dan dihinakan oleh anakmu sendiri?”
“Abet, ini sulit untukku, tp mungkin jauh di lubuk hati mama, mama ingin diperintah. Mama butuh seseorang yg bisa mengontrol mama.”

“Baiklah ma. Abet ingin mama katakan sesuatu seandainya Abet jadi tak toleran, mama bilang sesuatu dan Abet akan hentikan. Bilang saja ‘kentang’. Abet ingin menampar pantat mama, mengikat mama, memakai sex toy, Abet mungkin menghina, mempermalukan, menghukum dan mendisiplinkan mama. Abet mungkin ingin mama ngentot wanita, dan akan bilang ‘pelacur,’ ‘jalang’ atau apa saja. Mama jg mesti bilang ‘mama’, jangan bilang aku. Apa mama mengerti?”
Mama terengah – engah dan dadanya naik turun seperti mau orgasme.
“Ya tuan. Tolong perlakukan mama seperti itu. Mama selalu ingin dibegitukan. Sebut mama pelacur, dan biarkan mama tahu Abet memiliki mama. Mama selalu menginginkannya.”
Mama menatapku. Mengetahui hasrat gelapku dan cara memenuhinya. Lebih dari itu, kulihat wanita yg telah menjadi dirinya sendiri dan akhirnya mendapatkan cintanya. Lalu aku ingin mulai mengetest.
“Apa mama tau bedanya hukuman dan disiplin?”
Mama menggeleng tidak tahu.
“Hukuman terjadi saatu kau melakukan kesalahan, misalnya gagal mematuhi perintah. Disiplin adalah cara agar kau taat dan penuh perhatian setiap saat.”
Matanya makin memancarkan cinta.
“Oh tuan. Ya, ya, tolong disiplinkan mama. Mama perlu tau apa yg tuan harapkan dari mama dan merasa bagaimana tuan akan menjadikan mama mainan tuan.”
“Baiklah ma, sujudlah di pangkuanku!”

Mama merespon dgn senang. Lalu kuelus pantatnya, mama mengejang pelan seolah – olah bilang ‘tolong jangan goda mama. Tampar pantat mama!’”
Lalu kumulai aksiku. Tamparan kerasku mendarat di pantatnya. Awalnya mama hanya merintih, lalu setelah tiga kali tamparan di pantat kiri dan pantat kanannya mama mulai mengerang lalu mulai berteriak saat rasa sakit, panas dan pantatnya semakin merah. Kuhentikan aksiku.
“Posisi pelacur di depanku!”
Lalu, mama mulai berlutut di depanku, pahanya dilebarkan hingga nonok basahnya terlihat. Matanya terlihat basah, tp kulihat kepuasan di dlmnya yg tak pernah kulihat. Menghetahui mama terangsang ditampar pantatnya oleh anaknya membuat penisku bangun.
“Tuan, sungguh memalukan disuruh berlutut di pangkuan anak sendiri. Anak yg kulahirkan menampar pantat mama, menyebabkan emosi dan memaksa mama menerima dominasinya. Tp mama ingin lebih. Mama ingin tuan tahu mama mainan tuan. Piaraan tuan dan tuan bisa menyuruh mama apa pun. Mama ingin membuktikan mama milik tuan. Tadi adalah tamparan pantat terbaik yg pernah mama rasakan. Jika itu cara tuan mendisiplinkan mama, mama mohon didisiplinkan siang malam. Panasnya pantat mama menyebar ke seluruh tubuh hingga membuat mama terangsang. Mama tak bisa memikirkan apa – apa selain penis tuan mengentot nonok mama.”
“Begitukah? Beritahu aku siapa mama yg sebenarnya!”

Mama mengerang terlihat putus asa.
“Mama pelacur yg butuh anaknya. Mama pelacur yg ingin dipakai pria. Tolong tuan, pakailah pelacur ini untuk kesenanganmu. Menyenangkan tuan merupakan kebahagiaan mama.”
Kulihat mama. Wajahnya dan tubuhnya terlihat senang. Untuk pertamakali kusadari aku tanggungjawabku menyeimbangkan kenikmatan untuk kami dlm pelbagai cara. Mamaku tak perlu dirubah menjadi pelacur, mama memang sdh jadi pelacur. Tp mama perlu diberi tahu kebutuhanku sebagai tuannya.
“Berdiri ma, lebarkan pahamu. Lalu berputarlah pelan – pelan hingga bisa kulihat semua tubuhmu.”
Mama berputar, pantatnya masih terlihat merah. Kutatap susunya yg proporsional dan nonoknya. Mama menampilkan dirinya dgn cara yg nakal hingga membuat penisku menegang.
“Tunjukan susumu padaku!”
Mama mengerang dlm – dlm dan tangannnya mengangkat susunya dan mendekatkannya pada kepalaku. Kudekati hingga kujilat pentilnya. Erangannya berubah menjadi desisan penuh kenikmatan. Lalu menjerit kecil saat kugigit putingnya. Tangannya memegang belakang kepalaku dan menekannya agar aku lebih memainkan susunya. Kucabut mulutku dan kumainkan di susu yg lainnya hingga membuat mama makin menjerit. Kuhentikan aksiku.
“Mama mesti siap kapanpun aku mau baik siang maupun malam. Di rumah, aku mau mama memakai baju tipis tanpa bh dan cd dan harus tiga inci di atas lutut. ”
“Oh tuan, mama akan nurut. Apa tuan yakin tak mau mama selalu telanjang? Tubuh mama tak terlalu jelek untuk wanita 40 tahun. Agar mama selalu siap untuk tuan.”
“Dengar kau pelacur binal, sedikit penutup membuatku penasaran apa yg ada dibaliknya.”

Aku tak menyadari betapa penurutnya mama. Dan kurasa mama sangat menurutiku.
“Merangkaklah seperti kuda ke sini. Cium kakiku!”
Mama melakukan perintahku. Mencium kakiku. Aku terkejut akan hasratnya.
“Sekarang naik ke ranjangku ma. Onanilah sampai mama orgasme. Tatap mata Abet terus menerus dan jangan orgasme tanpa izin Abet. Abet ingin mama menyadari betapa memalukannya disuruh onani oleh anak sendiri dan membiarkan anaknya mengontro kapan mesti orgasme. Mengerti?”
Mama melihatku. Tak bicara tp mengerang penuh nafsu dan berbisik.
“Tolong, tolong jadikan mama pelacur tuan. Tolong… mama akan lakukan semua perintah tuan. Permalukan mama, jadikan mama budak seks. Mama sangat ingin tuan.”
Bisikannya lebih menyerupai desahan. Tanpa bicara lagi, mama membuka semua pakaiannya, menarik tubuhnya menuju ranjangku. Duduk dan membuka pahanya lebar – lebar dan nonoknya telah basah.
Mama mulai membasahi jari – jarinya. Lalu memasukan satu jari ke nonoknya, lalu dua jari lalu mama mulai mendengung kenikmatan. Mama mulai menatap mataku. Jari – jarinya mulai liar di nonoknya. Sedangkan jempolnya dimainkan di klitorisnya. Dengungannya berubah jadi erangan. Tubuhnya makin bergetar, menggeliat penuh kenikmatan.
Mama mengerang tanpa bicara, masih menatap mataku. Mama sekarang terbakar gairah dan ingin segera orgasme meski tangannya masih bermain di nonoknya.
“Tolong tuan, biarkan mama orgasme. Mama tak bisa menahannya.”
“Jangan anjing, keputusan ada di tanganku. Lakukan apa yg kuperintahkan, bukan yg kau inginkan. Dan aku ingin melihatmu gairah yg kau buat sendiri.”
“Oh Abet, tuhan, jangan biarkan mama seperti ini, mama ingin orgasme.”

Mama sangat ingin orgasme. Mama tetap menatap mataku, tp tatapannya membasah dan tak fokus. Erangannya berubah menjadi jeritan kecil saat orgasmenya makin mendekat. Kuberi mama peringatan.
“Kau jangan orgamse sampai kuizinkan atau akan kuhukum kau!”
Mama melenguh dan terisak saat tubuhnya mengigil. Susu dan pahanya bergetar dan bergoyang. Mama melolong seperti binatang, tangannya masih bermain di nonoknya yg meradang karena menghambat orgasmenya sendiri. Getaran mama makin menjadi dan kepalanya bergoyang tak menentu.
“Tuan… To… tol… tolong i… i… ma … mama … moh … mohon… mama akan melakukan apa saja yg tuan mau, tolong biarkan mama orgamse.”
Mama seperti berdoa padaku.
“Baiklah ma, sekarang orgasmelah untukku.”
Mama bergetar keras dan melolong. Tubuhnya kaku, lalu bergetar lagi saat orgasmenya melanda. Lalu mama mengerang keras. Kubiarkan mama istirahat untuk sesaat.
“Bagus ma. Mama nurut seperti pelacur. Sekarang kita lihat apakah mama ngentot sebaik mama onani. Sekarang sujudlah.”
Mama tak perlu disuruh lagi langsung sujud membuka pahanya dan memperlihatkan nonoknya. Kepalanya di bantal dan pantatnya diangkat. Penisku sdh sangat keras dan tak sabar lagi. Meski aku sadar setelah orgasmenya, mama mungkin takan bertahan lama.
Kubuka seluruh pakaianku lalu naik ke ranjang. Kudekatkan penisku ke nonok mama lalu kutusukan pelan – pelan. Mama menjerit nikmat, mencoba menekan penisku. Tp kumasukan hanya kepala penisku saja dan kudiamkan. Mama mencoba mendorong tp kutahan.
“Berikan mama penis tuan. Entot mama dan buat mama menjerit. Mama sangat ingin.”
Aku tahu aku jg tak tahan. Dan dgn dorongan penuh, kutusukan penisku. Jeritannya sungguh mengejutkan, seperti kesakitan tp jg seperti penisku memenuhi rasa laparnya.
Kutusuk dan kutarik penisku pelan – pelan. Jeritan mama berubah jadi erangan nafsu, menekan pantatnya agar penisku menusuk lebih dlm. Lalu kuberdirikan mama di atas lututnya, kupelintir dan kuputar putting susunya. Erangan mama pun jadi jeritan.
“Tolong, entot mama… entot mama …. Buat mama keluar… tolong … oh oh… oh… oh…”
Mama makin menggeliat saat kembali orgasme membuat penisku makin menegang dlm nonok mama. Akhirnya spermaku muncrat di nonok mama. Membuat setiap urat dan otot mama kaku. Mama menjerit saat orgasme. Lagi dan lagi mama terus mengejang.
Kucabut penisku dan berbaring di tanganku melihat mama bernafas berat dan lelah setelah orgasmenya. Mama melihatku dan tersenyum hangat.
“Sekarang, Yuni, aku punya satu perintah lagi. Kamu …”
“Ya, oh iya”

Mama mendahului ucapanku dan berbaring di ranjang. Lalu membersihkan penisku dgn mulut dan lidahnya. Kadang lidahnya menjilat testisku.
“Cium aku ma.”
Aku memerintah. Mama bersenandung dan melakukan yg kuperintahkan. Menciumu penuh nafsu. Kami pun berciuman. Air liur kami bercampur dan lidah kami saling berpagutan. Kuremas dan kupilin putingnya.
“Yuni, kurasa kita perlu mandi. Kita mandi berdua.”
“Oh ya, dan banyak yg mesti kubersihkan.”

Mama mengerang dan merintih saat kutampar pantatnya. Kami mandi cukup lama. Kunikmati saat menyabuni pantat dan susunya. Mama jg terlihat menikmatinya. Bahkan kubersihkan anusnya.
“Aku berencana memakai anus mama. Rasanya sdh tak tahan.”
“Oh tuan, mama mohon pelan – pelan. Didit bajingan itu biasa memakai anus mama tanpa perasaan hingga rasanya seperti terbakar. Mama mohon …”
“Jangan khawatir Yun, kita persiapkan dahulu. Kita latihan stretching dulu agar kau siap.”
“Oh, terimakasih banyak tuan.”

Mama lalu memegang dan mencium penisku dgn lembut. Lalu kami saling mengeringkan dgn handuk sambil saling menikmati bagian tubuh pasangan.
“Aku lapar. Masaklah.”
Mama menurut sambil membungkuk memperlihatkan pantatnya yg berisi, membuatku tak tahan hingga kutampar dgn keras hingga mama menjerit kecil.
Seiring berjalannya waktu, hubungan kami terbilang mulus dan saling mengisi. Keinginan mama agar selalu didominasi selalu kupenuhi. Dan aku mendapat kenikmatan kapan saja dari mama. Kunikmati memainkan mama, membuat mama hampir orgasme, menyuruh mama orgasme hanya jika kuperintahkan. Mendengar mama mempermalukan dirinya sendiri saat memintaku ngentot anusnya, menampar pantatnya, meremas dan mencubit susunya.
Kami jg menikmati entotan penuh sensual, dgn pelbagai foreplay. Jg bisa kunikmati anus mama yg lembut setelah dilumasi dan dilatih dgn satu jari, lalu dua jari dan kadang dgn dildo. Awalnya mama ketakutan, tp kulakukan dgn lembut. Kusuruh mama agar rileks dan melemaskan anusnya.
Pelan – pelan kumasukan penisku. Mama jadi liar. Mama menekan pantatnya agar penisku lebih masuk dan memintaku agar mempercepat gerakan penisku. Kusuruh mama memainkan klitorisnya hingga membuat mama makin merasakan nikmat tak tertahankan. Penisku dicengkram oleh anusnya. Mama lalu berteriak seiiring orgasmenya hingga membuatku memuncratkan spermaku di anusnya.
Mama jg punya khayalan diperkosa. Tentu saja aku senang memuaskan khayalan mama.
Suatu sore aku pulang seperti biasa. Kupijit bel dan mama membuka pintu. Kutekan mama keras – keras?
“Apa yg tuan lakukan … apa yg tuan inginkan?”
“Dasar pelacur. Kau jalan – jalan memamerkan susumu padaku, hampir memohon dientot. Sekarang bakal terjadi.”
“Tdk… tdk, jangan, takkan kubiarkan.”

Mama berteriak dan memukul – mukulku. Kuambil tangannya dan kupeluk erat.
“Mau cara lembut atau keras?”
“Anjing kau.”
“Dasar pelacur.”
“Baiklah, kau pilih cara keras.”

Kubuka paksa bajunya. Mama terus menjerit hingga susunya terpampang jelas. Bahkan putingnya terlihat mengeras.
“Lihat. Ada yg sdh terangsang rupanya.”
Kupilin putingnya dan kumainkan keras – keras. Kulihat mama hampir tak bisa bertahan. Lalu kurangkul mama, kucium mama. Mama terus melawan tp kupegang telinganya. Kucium lagi mama hingga tak melawan lagi.
“Entot mama, tuan. Mama mohon. Mama sdh gak tahan pingin di entot.”
Kulepas pakaianku diikuti mama jg melepas semua pakaiannya.
“Tuan mau mama gimana?”
“Berbaliklah dan rukuk.”

Mama menurut sambil mengerang dan kulihat nonoknya merekah tanpa bulu mulai basah. Nonoknya lebar menunggu dientot. Aku berlutut dan kudekatkan kepalaku ke nonoknya. Kujilat dari anusnya memamnjang sampai ke klitorisnya. Mama mendesah kenikmatan, memohon padaku.
“Tolong tuan, jangan buat mama tersiksa. Mama ingin dientot.”
“Sabar kau dasar pelacur.”

Kugigit klitorisnya hingga makin membesar. Mama mendesah tak karuan antara nikmat dan nafsu. Lalu aku berdiri dan kugesekan penisku ke nonoknya.
“Dasar pelacur.”
“Ah…. Entot mama. Entot saja mama. Buat mama menjerit. Mama pingin dientot.”

Mama menjerit saat kutusukkan penisku ke nonoknya. Kuentot tanpa kelembutan. Keras dan cepat. Kupilin keras putingnya dan kuputar hingga mama makin menjerit.
“Oh.. yes… oh… yes… entot mama… ah… entot mama… ahhh…”
Nonok mama mencengkram erat penisku saat kutusukan. Kurasakan orgasmeku semakin dekat, seteleh kutusuk lebih dlm lagi, akhirnya kami berdua ograsme sambil melolong nikmat.
“Ini pelajaran agar kau selalu perlihatkan susumu padaku. Lakukan seperti tadi maka kau akan dapat perlakuan yg sama.”
“Terimakasih tuan. Apakah tuan berjanji?”

Kehidupan terus berjalan. Mama dan aku belanja membeli beberapa lingerie dan pakaian yg seksi untuk mama. Mama bilang ingin selalu menunjukan tubuhnya secara sensual. Setelah itu kami pulang. Sepuluh menit kemudian terdengar ketukan.
“Buka pintunya atau akan kudobrak.”
Tak salah lagi. Itulah suara Didit si bajingan.
“Ma, berlindunglah di kamar. Hubungi polisi.”
Matanya memancarkan ketakutan tp mama menurut dan ke kamar. Pintu terus digedor, ku buka pelan – pelan. Didit berdiri di luar, seperti biasa, badannya baud an samar – samar tercium alkohol. Tp tak seperti Didit setahun yg lalu, sekarang terlihat lebih parah.
“Biarkan aku masuk. Aku ingin pelacurku kembali dan akan kubawa sekarang.”
“Bawa uang 25 juta gak?”
“Jika dia tak keluar, maka aku akan masuk.”

Aku tak terkejut saat Didit mengeluarkan pisau lipat dan memainkannya. Saat dia akan menusukku, aku mundur menghindar. Spontan kuambil asbak di meja dan kupukul tangannya. Pisaunya terlepas dari tangannya diiringi teriakan Didit.
“Mati kau Anjing. Kau telah patahkan tanganku. Akan kubunuh kau.”
Kutendang pisaunya menjauh.
“Ok Dit, masih mau melawan ?”
Didit menghindar keluar rumah saat kudengar sirine polisi.
“Bajingan kau. Akan kubuat kau membayar ini.”
Lalu polisi masuk dan bertanya apa yg terjadi. Kuceritakan semuanya sementara Didit merintih menahan sakit pada tangannya. Saat kusebut nama Didit, polisi terlihat sangat tertarik. Polisi yg paling tua akhirnya berkata.
“Didit? Kami telah mencarimu ke mana – mana.”
Akhirnya Didit ditangkap polisi. Kusuruh mama keluar kamar. Lalu mama menceritakah hubungannya dgn Didit pada polisi.
“Terimakasih bu. Kami akan butuh anda dan anak anda untuk kesaksian. Nanti anda akan diberitahu.”
“Ya, kami siap bersaksi.”

Polisi pergi. Kurangkul mama yg masih merinding ketakutan.
“Bajingan itu telah pergi. Kita akan memenjarakannya.”
“Tolong bawa mama ke ranjang dan peluk mama. Lindungi mama dari setan itu.”

Kulakukan keinginan mama. Mama tertidur di pelukanku. Beberapa hari kemudian, polisi datang. Katanya Didit telah di bunuh oleh sesame tahanan. Dan polisi mencurigai dia dibunuh oleh orang suruhan.
“Terimakasih telah memberitahu kami. Kuharap anda takkan terkejut jika kami tak peduli dan tak menangisi kehilangannya.”
Petugas itu tersenyum. Saat ia pamit dan akan kembali, kutemani dia.
“Gimana kejadiannya?”
“Sepertinya dia dipukuli dan kepalanya dibanting ke tembok hingga tengkoraknya retak.”

Aku kembali kerumah. Kelihatannya mama sdh tenang.
“Mama bisa tenang. Semuanya sdh selesai.”
Mama menciumku hangat, basah dan penuh nafsu. Malamnya kami merayakan kematian Didit dgn makan malam spesial di luar. Mama terlihat cantik. Mama memakai gaun sutra hijau. Bahunya tak tertutupi. Pahanya terlihat mulus. Setelah makan, kami pulang.
“Bawalah mama ke ranjang dan entot mama.”
“Dasar wanita mengerikan. Kau rayu anakmu sendiri agar mau dientot.”
“Ya. Dan mama tak merasa malu.”

Kami sampai ke ranjang dan mama langsung memelukku, menciumku.
“Oke ma, menarilah. Lalu nungginglah di kursi itu hingga Abet bisa liat pantat mama.”
Mama lalu menari, sungguh erotis. Gaunnya dilepaskan perlahan – lahan. Matanya jalang melihatku penuh nafsu. Lalu mama menungging, tangannya memegang kursi.
“Tamparlah pantat mama hingga mama menjerit. Hingga panasnya menjalar ke nonok mama, hingga nonok mama siap dimasuki penis.”
Aku tahu keinginan mama. Kutampar keras – keras pantat mama, terus kutampar hingga semakin memerah dan mama makin menjerit tak karuan. Lalu kuberdirikan mama.
“Baiklah ma. Apa mama mau bilang sesuatu?”
“Mama mohon tuan, entot mama. Buat mama orgasme.”

Tentu saja kuturuti dgn senang, kusuruh mama mengangkang. Mama tertawa penuh nafsu lalu meloncat ke ranjang dan melebarkan pahanya.
“Seperti ini sayang?”
“Ya.”

Kumasukkan penisku ke nonok mama. Mama merespon dgn menggoyangkan pinggulnya. Mama meracau tak karuan. Nonoknya terus kuentot. Kami berdua menikmati hubungan incest ibu dan anak ini. Susunya menempel di dadaku. Kuku mama menancap di punggungku. Kutekankan pinggulku hingga mentok. Mama menciumku, menggigit bibir bawahku. Nafsunya tak terkontrol lagi. Nonok mama mencengkram erat, mama mengejang seiring orgasmenya yg tak tertahankan. Erangan mama membuatku jg menyemburkan lahar panas di dlm nonoknya. Untuk sesaat kami tetap berpelukan menikmati sisa – sisa orgasme. Lalu kucium mama dan kuberbaring di samping mama. Mama memelukku, jari bermain di dadaku.
“Mama milik Abet seutuhnya. Abet tau kan?”
“Ma, orang tak bisa memiliki orang lain. Mama bukanlah motor atau tv.”
“Mama tau maksudmu, tp ini lain. Mama milikmu dan kamu bebas melakukan apa saja. Apa saja, kapan saja, dimana saja. Bedanya adalah, inilah yg mama inginkan.”

“Benarkah?”
Aku jadi bertanya sebenernya siapa yg mendominasi dan siapa yg penurut.
“Tentu saja. Mama merasa aman jika Abet yg mengontrol mama. Mama tak bisa hidup dgn cara lain. Mama mencintaimu. Mama ingin Abet. Beritahu mama apa yg Abet inginkan dan mama akan nurut tanpa bertanya.”
“Baiklah ma, sepong penis Abet hingga keluar, lalu telan sperma Abet.”
“Ya.”

Tubuhku serasa menghangat mengetahui mama tak ingin yg lain selain ini. Cerita sex, cerita nyata, cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa hot berjudul “Cerita Mesum Mama Yang Digadaikan Padaku” Terbaru 2016

No comments:

Post a Comment