Tuesday, August 2, 2016

Cerita Sex Skandal Seks Segitiga Sedarah

cerita sex, cerita nyata, cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa – Menjadi istri kedua seorang pengusaha kaya dan terpandang menjadikan aku wanita yg berlimpah akan harta dunia. Apapun bisa aku beli 

dengan uang yg tdk ada habisnya. Namun masalah usia lah yg paling mengganggu, suamiku sudah menginjak usia kepala 5, sedangkan aku baru kepala 3. Di umurku yg terbilang masih energik, nafsu seksku sering tak terkontrol.


Cerita dewasa terbaru, Waktu itu hari aku tdk masuk kuliah. Aku diam di rumah bersama mama dan tante Santi. Pagi itu, jam 10, kulihat mama baru selesai mandi. Mama keluar dari kamar mandi memakai handuk menutupi dada dan setengah pahanya yg putih mulus. Mama berusia 38 tahun. Sangat cantik.
Agen Judi Online Terpercaya Saat itu entah secara tdk sengaja aku melihat mama membetulkan lilitan handuknya sebelum masuk kamar. Terlihat buah dada mama walau tdk terlalu besar tapi masih bagus bentuknya. Yg terutama jadi perhatian aku adalah vagina mama yg dihiasi bulu hitam tdk terlalu lebat berbentuk segitiga rapi. Mungkin karena mama rajin merawatnya.
Mama sepertinya tdk sadar kalau aku sedang memperhatikannya. Mama langsung masuk kamar. Hati berdebar dan terbayang terus pemandangan tubuh mama tadi. Aku dekati pintu, lalu aku intip dari lubang kunci. Terlihat mama sedang membuka lilitan handuknya lalu mengeringkan rambutnya dengan handuk tersebut. Terlihat tubuh mama sangat menggairahkan. Terutama vagina mama yg aku fokuskan.
Secara otomatis tangan aku meraba penis dari luar celana, lalu meremasnya pelan-pelan sambil menikmati keindahan tubuh merangsang mama. Karena sudah tak tahan lagi, aku segera ke kamar mandi dan onani sambil membayangkan menyetubuhi mama. Sampai akhirnya.. Cret! Cret! Cret! Aku orgasme.
Sore harinya, waktu aku sedang tiduran sambil membaca majalah, tiba-tiba terdengar suara mama memanggil aku.
“Hans..!” panggil mama.
“Ya, Ma…” sahut aku sambil bergegas ke kamar mama.
“Ada apa, Ma?” tanya aku.
“Pijitin badan mama, Hans. Pegal rasanya…” kata mama sambil tengkurap.
“Iya, Ma…” jawab aku.

Waktu itu mama memakai daster. Aku mulai memijit kaki mama dari betis. Terus sampai naik ke paha. Mama tetap diam merasakan pijitan aku. Karena daster mama agak mengganggu pijitan, maka aku bertanya pada mama,
“Ma, dasternya naikin ya? mengganggu nih…” tanya aku.
“Emang kamu mau mijitan apa aja, Hans?” tanya mama.
“Seluruh badan mama,” jawab aku.
“Ya sudah, mama buka baju saja,” kata mama sambil bangkit, lalu melepas dasternya tanpa ragu.
“Ayo lanjutkan, Hans!” kata mama sambil kembali tengkurap. Darah aku berdesir melihat mama setengah telanjang di depan mata.
“Mama tdk malu buka baju depan Hans?” tanya aku.
“Malu kenapa? Kan anak kandung mama.. Biasa sajalah,” jawab mama sambil memejamkan mata.

Aku berdebar. Tanganku mulai memijit paha mama. Sebetulnya bukan meimijit, istilah yg tepat adalah mengusap agak keras. Aku nikmati usapan tangan aku di paha mama sambil mata terus memandangi pantat mama yg memakai celana dalam merah. Setelah selesai “memijit” paha, karena masih ragu, aku tdk memijit pantat mama, tapi langsung naik memijit pinggang mama.
“Kok dilewat sih, Hans?” protes mama sambil menggoyangkan pantatnya.
“Mm.. Hans takut mama marah…” jawab aku.
“Marah kenapa? Kamu kan emang mama pinta mijitin.. Ayo teruskan!” pinta mama.

Karena sudah mendapat angin, aku mulai meraba dan agak meremas pantat mama dari luar celana dalamnya. Nyaman rasanya memijit dan meremas pantat mama yg bulat dan padat. Penis aku sudah mulai mengeras. Mama tetap terpejam menikmati pijitan aku. Karena birahi aku sudah naik, aku sengaja memasukkan tangan aku ke celana dalam mama dan terus meremasnya. Mama tetap diam. Aku makin berani.
Jari tengah aku mulai menyusuri belahan pantat mama sampai ke belahan vagina mama. Jari aku diam disana. Aku takut mama marah. Tapi mama tetap diam sambil memejamkan mata. Aku mulai menggerakan jari tengah aku di belahan vagina mama. Mama tetap diam. Terasa vagina mama mulai basah. Dan aku tahu kalau mama agak menggoyang-goyangkan pantatnya, mungkin mama merasa enak menikmati jari aku di belahan vaginanya. Itu perkiraan aku.
Karena sudah basah, aku nekad masukkan jari aku ke lubang vagina mama. Mama tetap memejamkan mata, tapi pantatnya mulai bergoyang agak cepat.
“Hans, kamu ngapain?” tanya mama sambil membalikkan badannya. Aku kaget dan takut mama marah.
“Maaf, Ma…” kataku tertunduk tdk berani memandang mata mama.
“Hans tdk tahan menahan nafsu…” kataku lagi.
“Nafsu apa?” kata mama dengan nada lembut.
“Sini berbaring dekat mama,” kata mama sambil menggeserkan badannya. Aku diam tdk mengerti.
“Sini berbaring Hans,” ujar mama lagi.
“Tutup dulu pintu kamar,” kata mama.
“Ya, Ma…” kataku sambil berdiri dan segera menutup pintu. Kemudian aku berbaring di samping mama.

Mama menatapku sambil membelai rambut aku.
“Kenapa bernafsu dengan mama, Hans,” tanya mama lembut.
“Mama marahkah?” tanya aku.
“Mama tdk marah, Hans.. Jawablah jujur,” ujar mama.
“Melihat tubuh mama, Hans tdk tahu kenapa jadi pengen, Ma…” kataku. Mama tersenyum.
“Berarti anak mama sudah mulai dewasa,” kata mama.
“Kamu benar-benar mau sayang?” tanya mama.
“Maksud mama?” tanya aku.
“Dua jam lagi Papa kamu pulang…” hanya itu yg keluar dari mulut mama sambil tangannya meraba penis aku dari luar celana.

Aku kaget sekaligus senang. Mama mencium bibir aku, dan akupun segera membalasnya. Kami berciuman mesra sambil tangan kami saling meraba dan meremas.
“Buka pakaian kamu, Hans,” kata mama. Aku menurut, dan segera melepas baju dan celana.
Mama juga melepas BH dan celana dalamnya. Mama duduk di tepi tempat tidur, sedangkan aku tetap berdiri.
“Penis kamu besar, Hans…” kata mama sambil meraih penis aku dan meremas serta mengocoknya. Enak rasanya.
“Kamu udah pernah maen dengan perempuan tdk, sayang?” tanya mama.

Sambil menikmati enaknya dikocok penis aku menjawab,
“Belum pernah, Ma.. Mmhh..”. Mama tersenyum, entah apa artinya.
Lalu mama menarik pantat aku hingga penis aku hampir mengenai wajahnya. Lalu mama mulai menjilati penis aku mulai dari batang sampai ke kepalanya. Rasanya sangat nikmat. Lebih nikmat lagi ketika mama memasukkan penisku ke mulutnya. Hisapan dan permainan lidah mama sangat pandai. Tanganku dengan keras memegang dan meremas rambut mama dengan keras karena merasakan kenikmatan yg amat sangat. Tiba-tiba mama menghentikan hisapannya, tapi tangannya tetap mengocok penisku perlahan.
“Enak sayang?” tanya mama sambil menengadah menatapku.
“Iya, Ma.. Enak sekali,” jawabku dengan suara tertahan.
“Sini sayang. Penismu udah besar dan tegang. Sekarang cepat masukkan…” ujar mama sambil menarik tanganku.

Mama lalu telentang di tempat tidur sambil membuka lebar pahanya. Tanpa ragu aku naiki tubuh mama. Aku arahkan penisku ke lubang vaginanya. Tangan mama membimbing penisku ke lubang vaginanya.
“Ayo, Hans.. Masukkan…” ujar mama sambil terus memandang wajahku.
Aku tekan penisku. Lalu terasa kepala penisku memasuki lubang yg basah, licin dan hangat. Lalu batang penisku terasa memasuki sesuatu yg menjepit, yg entah bagaimana aku menjelaskan rasa nikmatnya.. Secara perlahan aku keluarmasukkan penisku di vagina mama. Aku cium bibir mama. Mamapun membalas ciuman aku sambil menggoyangkan pinggulnya mengimbangi goyangan aku.
“Enak, Hans?” tanya mama.
“Sangat enak, Ma…” jawabku sambil terus menyetubuhi mama. Setelah beberapa menit, aku hentikan gerakan penis aku.
“Kenapa mama mau melakukan ini dengan Hans?” tanyaku. Sambil tersenyum, mata mama kelihatan berkaca-kaca.
“Karena mama sayang kamu, Hans…” jawab mama.
“Sangat sayang…” lanjutnya.
“Lagipula saat ini mama memang sedang ingin bersetubuh…” lanjutnya lagi.

Aku terdiam. Tak berapa lama aku kembali menggerakan penis aku menyetubuhi mama.
“Hans juga sangat sayang mama…” ujarku.
“Ohh.. Hans.. Enakk.. Mmhh…” desah mama ketika aku menyetubuhinya makin keras.
“Mama mau keluar…” desah mama lagi.

Tak lama kurasakan tubuh mama mengejang lalu memeluk aku erat-erat. Goyangan pinggul mama makin keras. Lalu..
“Ohh.. Enak sayangg…” desah mama lagi ketika dia mencapai orgasme.
Aku terus menggenjot penisku. Lama-lama kurasakan ada dorongan kuat yg akan keluar dari penis aku. Rasanya sangat kuat. Aku makin keras menggenjot tubuh mama..
“Ma, Hans gak tahann…” ujarku sambil memeluk tubuh mama lalu menekan penisku lebih dalam ke vagina mama.
“Keluarin sayang…” ujar mama sambil meremas-remas pantatku.
“Keluarin di dalam aja sayang biar enak…” bisik mama mesra.

Akhirnya, creett.. Creett.. Creett.. Air maniku keluar di dalam vagina mama.
“Mmhh…” desahku. Lalu tubuh kami tergolek lemas berdampingan.
“Terima kasih ya, Ma…” ujar aku sambil mencium bibir mama.
“Lekas berpakaian, Papa kamu sebentar lagi pulang!” kata mama.

Lalu kamipun segera berpakaian. Setengah jam kemudian Papa pulang. Mama dan aku bersikap seperti biasa dan terlihat normal.
Malam harinya, sekitar jam 11 malam, ketika mama dan Papa sudah tidur, aku dan tante Santi masih nonton TV. Tante Santi memakai kimono. Sesekali aku lihat paha mulusnya ketika kimononya tersingkap. Tapi tdk ada perasaan apa-apa. Karena sudah biasa melihat seperti itu.
Tiba-tiba tante Santi bertanya sesuatu yg mengejutkan aku,
”ngapain kamu tadi sore lama-lama berduaan ama mama kamu di kamar?” tanya tante Santi.
“Hayo, ngapain..?” tanya tante Santi lagi sambil tersenyum.
“Tdk ada apa-apa. Aku mijitin mama, kok…” jawabku.
“Kok lama amat. Sampe lebih dari satu jam,” tanyanya lagi.
“Curigaan amat sih, tante?” kataku sambil tersenyum.
“Tante hanya merasa aneh saja waktu tante denger ada suara-suara yg gimanaa gitu…” ujar tante Santi sambil tersenyum.
“Kayak suara yg lagi enak…” ujar tante Santi lagi.
“Udah ah.. Kok ngomongnya ngaco ah…” ujarku sambil bangkit.
“Maaf dong, Hans. Tante becanda kok…” ujar tante Santi.
“Kamu mau kemana?” tanya tante Santi.
“Mau tidur,” jawabku pendek.
“Temenein tante dong, Hans,” pinta tante.

Aku kembali duduk dikursi di samping tante Santi.
“Ada apa sih tante?” tanyaku.
“Tdk ada apa-apa kok. Hanya butuh temen ngobrol saja,” jawab tante Santi.
“Kamu sudah punya pacar, Hans?” tanya tante Santi.
“Belum tante. Kenapa?” aku balik bertanya.
“Kamu tuh ganteng, tinggi. Tapi kenapa belum punya pacar?” tanya tante lagi.
“Banyak sih yg ngajak jalan, tapi aku tdk mau,” jawabku.
“Apa kamu pernah kissing dengan perempuan, Hans?” tanya tante Santi pelan sambil wajahnya didekatkan ke wajahku.

Bibir kami hampir bersentuhan. Aku tak menjawab.
“Ni tante lagi horny kayaknya…” pikir aku.
Tanpa banyak kata, aku cium bibir tante Santi. Tante Santipun langsung membalas ciumanku dengan hebat. Permainan lidah dan sedotan bibir kami main mainkan.. Sementara tanganku segera masuk ke balik kimono tante Santi. Lalu masuk lagi ke dalam BH-nya. Lalu ku remas-remas buah dadanya dengan mesra sambil ujung jari aku memainkan puting susunya. baca jug cerita sex di seksigo.com
“Mmhh..”
Suara tante Santi mendesah tertahan karena kami masih tetap berciuman. Tangan tante Santipun tdk diam. Tangannya meremas penisku dari luar celana kolorku. Penisku langsung tegang.
“Hans, pindah ke kamar tante, yuk?” pinta tante Santi.
“Iya tante…” jawabku. Lalu kami segera naik ke loteng ke kamar tante Santi.

Setiba di kamar, tante Santi dengan tak sabar segera melepas kimono dan BH serta CD-nya. Akupun segera melepas semua pakaian di tubuh aku.
“Ayo Hans, tante sudah gak tahan…” ujar tante Santi sambil senyum, lalu merebahkan badannya di kasur.
Aku segera menindih tubuh telanjang tante Santi. Aku cium bibirnya, pindah ke pipi, leher, lalu turun ke buah dadanya. Aku jilat dan hisap puting susu tante Santi sambil meremas buah dada yg satu lagi.
“Ohh.. Mmhh.. Hanss.. Kamu pinter amat sih.. Mmhh…” desah tante Santi sambil tangannya memegang kepala aku.
Lalu lidahku turun lagi ke perut, lalu ketika mulai turun ke selangkangan, tante Santi segera melebarkan kakinya mengangkang. Vagina tante Santi bersih tdk berbau. Bulunya hanya sedikit sehing nampak jelas belahan vaginanya yg bagus. Aku segera jilati vagina tante Santi terutama bagian kelentitnya.
“Ohh.. Sayang.. Enakkhh.. Mmhh.. Terus sayang…” desah tante Santi sambil badannya mengejang menahan nikmat.
Tak berapa lama tiba-tiba tante Santi mengepitkan kedua pahanya menjepit kepalaku. Tangannya menekan kepalaku ke vaginanya.
“Oh, Hans.. Tante keluar.. Nikmat sekali.. Ohh…” desah tante Santi.
Aku bangkit, mengusap mulut aku yg basah oleh air vagina tante Santi, lalu aku tindih badannya dan kucium bibirnya.
Tante Santi langsung membalas ciumanku dengan mesra.
“Isep dong penis Hans, tante…” pintaku.
Tante Santi mengangguk sambil tersenyum. Lalu aku kangkangi wajah tante Santi dan ku sodorkan penisku ke mulutnya.
Tante Santi langsung menghisap dan menjilati penisku dan mengocok dengan tangannya sambil memejamkan matanya. Sangat enak rasanya. Cara menghisap dan menjilat penisnya lebih pintar dari mama.
“Udah tante, Hans udah pengen setubuhi tante…” kataku.
Tante Santi melepaskan genggamannya, lalu aku arahkan penis aku ke vaginanya.
“Ayo, Hans.. Tante sudah tdk tahan…” bisik tante Santi.
Lalu, bless.. sleb.. sleb.. sleb.. Penisku keluar masuk vagina tante Santi.
“Hans kamu pinter menyenangkan perempuan. Kamu pandai memberikan kenikmatan…” kata tante ditengah-tengah persetubuhan kami.
“Ah, biasa saja, tante…” ujarku sambil tersenyum lalu ku kecup bibirnya.
Selang beberapa lama, tiba-tiba tante Santi mempercepat gerakannya. Kedua tangannya erat mendekap tubuhku.
“Hans, terus setubuhi tante.. Mmhh.. Ohh.. Tante mau keluar.. Ohh.. Ohh. Ohh…” desahnya.

Tak lama tubuhnya mengejang. Pahanya erat menjepit pinggulku. Sementara akau terus memompa penisku di vaginanya.
“Tente udah keluar, sayang…” bisik tante Santi.
“Kamu hebat.. Kuat…” ujar tante Santi.
“Terus setubuhi tante, Hans.. Puaskan diri kamu…” ujarnya lagi.

Tak lama akupun mulai merasakan kalo aku akan segera orgasme. Kupertcepat gerakanku.
“Hans mau keluar, Tante…” kataku.
“Jangan keluarkan di dalam, sayang…” pinta tante Santi.
“Cabut dulu…” ujar tante Santi.
“Sini tante isepin…” katanya lagi.

Aku cabut penisku dari vaginanya, lalu aku arahkan ke mulutnya. Tante Santi lalu menghisap penisku sambil mengocoknya. Tak lama, crett.. crett.. crett.. crett.. Air maniku keluar di dalam mulut tante Santi banyak sekali.
Aku tekan penisku lebih dalam ke dalam mulut tante Santi. Tante Santi dengan tenang menelan air maniku sambil terus mengocok penisku. Lalu dia menjilati penisku untuk membersihkan sisa air mani di penisku. Sangat nikmat rasanya besetubuh dengan tante Santi.
Aku segera berpakaian. Tante Santi juga segera mengenakan kimononya tanpa BH dan CD.
“Kamu hebat, Hans.. Kamu bisa memuaskan tante,” ujar tante Santi.
“Kalo tante butuh kamu lagi, kamu mau kan?” tanya tante sambil memeluk aku.
“Kapan saja tante mau, Hans pasti kasih,” kataku sambil mengecup bibirnya.
“Terima kasih, sayang,” ujar tante Santi.
“Hans kembali ke kamar ya, tante? Mau tidur,” kataku.
“Iya, sana tidur,” katanya sambil meremas penisku mesra. Kukecup bibirnya sekali lagi, lalu aku segera keluar.

Besoknya, setelah Papa pergi ke kantor, mama duduk di sampingku waktu aku makan.
“Hans, semalam kamu ngapain di kamar tante Santi sampe subuh?” tanya mama mengejutkanku.
Aku terdiam tak bisa berkata apa-apa. Aku sangat takut dimarahi mama. Mama tersenyum. Sambil mencium pipiku, mama berkata,
”Jangan sampai yg lain tahu ya, Hans. Mama akan jaga rahasia kalian. Kamu suka tante kamu itu ya?” tanya mama.
Plong rasanya perasaanku mendengarnya.
“Iya, Ma.. Hans suka tante Santi,” jawabku.
“Baiklah, mama akan pura-pura tdk tahu tentang kalian…” ujar mama.
“Kalian hati-hatilah…” ujar mama lagi.
“Kenapa mama tdk marah,” tanya aku.
“Karena mama pikir kamu sudah dewasa. Bebas melakukan apapun asal mau tanggung jawab,” ujar mama.

“Terima kasih ya, Ma…” kataku.
“Hans sayang mama,” kataku lagi.
“Hans, tante dan Papa kamu sedang keluar.. Mau bantu mama gak?” tanya mama.
“Bantu apa, Ma?” aku balik tanya.
“Mama ingin…” ujar mama sambil mengusap penisku.
“Hans akan lakukan apapun buat mama…” kataku. Mama tersenyum.
“Mama tunggu di kamar ya?” kata mama. Aku mengangguk..

Sejak saat itu hingga saat ini aku menikah dan punya 2 anak, aku tetap bersetubuh dengan tante Santi kalau ada kesempatan. Walau sudah agak berumur tapi kecantikan dan kemolekan tubuhnya masih tetap menarik. Baik itu di rumah tante Santi kalau tdk ada Om, di rumah aku sendiri, ataupun di hotel.
Sedangkan dengan mama, aku sudah mulai jarang menyetubuhinya atas permintaan mama sendiri dengan alasan tertentu tentunya. Dalam satu bulan hanya 2 kali. Itulah pengalaman kisah nyata aku. Aku tuliskan dengan sebenarnya. Cerita sex, cerita nyata, cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa
Post By : www.poker012.com 

No comments:

Post a Comment