cerita nyata, cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa – Cerita sex terbru ini kutulis ketika aku mendaftar ke salah satu Universitas yg lumayan oke di Bandung.
Waktu itu aku bertemu dengan seorang temanku di kelas 1 SMA. Begitu bertemu, aku jadi ingat lagi petualangan kami yg sangat menarik sekitar 2 tahun yg lalu, karena itu begitu aku sampai di rumah, aku langsung menulis cerita ini.
Kala itu aku baru masuk ke salah satu SMA swasta ternama di Kota Bandung. Aku tdk begitu canggung, karena sebagian besar anak di kelasku adalah teman-temanku di SMP. Aku duduk dengan teman baikku di SMP, aku tdk terlalu tertarik pada kelasku, tetapi ada seorang gadis yg menarik perhatianku saat itu. Sebut saja namanya Hani.
Agen Judi Online Terpercaya Cerita dewasa terbaru, Dia belum pernah kulihat sebelumnya, tetapi saat pertama kulihat, ada semacam getaran di dalam tubuhku. Rambutnya yg hitam lurus dibiarkan tergerai di bahunya, matanya yg sedikit sipit dan senyumnya yg manis, membuatnya terlihat sangat manis. Tubuhnya tdk terlalu tinggi, tetapi langsing dengan bentuk yg proporsional (kusebut proporsional karena begitu enak dilihat dadanya, tdk terlalu besar, tapi cocok dengan ukuran tubuhnya yg mungil).
Singkat cerita, aku berkenalan dengannya, dan dalam waktu dua minggu, kami sudah akrab sekali. Dari persahabatan kami, aku tahu kalau Hani tdk begitu bahagia dalam keluarganya. Ayahnya yg dinas di luar kota jarang mengunjunginya, begitu pula ibunya yg selalu sibuk dengan urusannya sendiri. Kakak perempuannya sudah menikah dan tinggal dengan suaminya. Itu membuat Hani kesepian di rumah, dan untuk menghilangkan kejenuhannya, Hani memilih untuk kost walaupun rumahnya tdk terlalu jauh dari sekolah.
Aku sering juga mengunjunginya di rumah kost-nya, awalnya untuk sekedar menemaninya belajar atau melepas sepi. Tetapi lama-kelamaan kami sering pergi ke luar, sedikit minum atau menguras keringat di diskotik. Nah, dari sinilah pertualangan ini dimulai.
Pada suatu malam, sehabis pulang dari diskotik untuk merayakan ultah Hani yg ke 16, aku dan Hani berjalan-jalan melihat-lihat Bandung di malam hari. Saat itu Hani mengajakku naik ke daerah Lembang. Aku tdk keberatan karena memang besoknya hari Minggu. Sampai di tujuan, Hani dan aku duduk-duduk di kap mobilku sambil berbincang-bincang.
Di tengah percakapan, Hani bertanya,
“Riko, kalau suatu hari kau berpacaran, dan pacarmu punya banyak masalah dengan keluarganya, apa yg kau lakukan, apa kau meninggalkannya atau cuek seolah tdk ada apa-apa dengannya..?
“Aku menggeleng,
“Nggak keduanya, mungkin aku akan mencoba larut dalam masalahnya, dan membantunya memecahkan masalahnya, bukankah keluarganya akan jadi keluargaku juga..?”
Saat itu Hani menangis, dipeluknya aku erat-erat. Dan singkat cerita, aku mengantarkannya ke tempat kost-nya. Sampai di sana, Hani mengajakku masuk sebentar. Aku masuk, dan saat aku masuk, tiba-tiba Hani menciumku dan memelukku. Kulihat jam, sudah pukul 11 malam. Aku harus segera pulang, tetapi sepertinya tubuhku menginginkan yg lain dengan kepalaku, aku bukannya pulang tetapi malah mengikutinya ke kamarnya.
Aku mengunci pintu, dan kucium lagi Hani. Dia bertanya apa aku menyukainya, dan kujawab ya. Dan setelah itu, aku larut dalam nafsu. Perlahan tetapi pasti, kulepaskan kancingnya satu persatu. Kukira Hani akan menepis tanganku, dan aku akan segera berhenti kalau dia menolaknya walaupun aku sebenarnya sangat ingin memilikinya. Ternyata Hani sama sekali tdk menolak, disandarkannya kepalanya di bahuku, sedang kedua tangannya memelukku erat-erat, seolah menyerahkan dirinya begitu saja.
Setelah selesai membuka bajunya, kubuka bajuku, dan kembali memeluk Hani. Kubelai rambutnya dan ketika kubuka pakaian dalamnya, handphone-ku berbunyi. Aku kaget setengah mati, tetapi sebelum aku mengambilnya dari celanaku, Hani sudah mengambilnya lebih dulu.
Dimatikannya handphoneku,
“Aku ingin kau menjadi milikku sepenuhnya malam ini.”
Setelah itu Hani berbaring dengan dada yg sudah telanjang. Aku menundukkan badanku, dan kucium sekali lagi bibirnya. Kucium lehernya dan turun ke belahan dadanya. Sempat kulihat wajah Hani, dia hanya memejamkan matanya membiarkan semua yg kulakukan. Kucium puting dadanya, sedangkan tanganku meremas dadanya yg satu. Kucium, kujilat dan sesekali kugigit perlahan putingnya.
Hani hanya memejamkan matanya dan sesekali mendesah. Setelah itu kulanjutkan pekerjaanku, aku membuka roknya perlahan, belum ada reaksi, karena itu kulanjutkan, kugeser perlahan celana dalamnya ke bawah. Hani masih belum bereaksi. Setelah kubuka semua pakaiannya, kubuka juga semua pakaianku, lalu aku berbaring di sisi Hani. Kubelai rambutnya, dan Hani membuka matanya. Dipandangnya mataku dalam-dalam.
Setelah itu kucium dia sebentar, dan aku turun ke bawah ranjang, kubuka pahanya sedikit lebar. Hani dengan malu-malu mengikuti keinginanku. Kulihat beberapa helai bulu halus di selangkaan kakinya. Tercium aroma khas kemaluan wanita, tetapi ini berbeda, serasa lebih harum. Harumnya lebih lembut tetapi menggoda.
Kucium kewanitaannya, dan Hani kembali mendesah. Kubuka bibir kewanitaannya dengan jariku, dan kulihat bagian merah muda di dalamnya. Kujilat dan terasa tubuh Hani sedikit bergetar. Terasa hangat dan membuatku ingin melakukannya lagi. Kembali kulakukan, sekali, dua kali, tiga kali, dan aku tak ingat lagi, berapa kali kulakukan. Hani sepertinya sudah sangat terangsang. Liang kewanitaannya yg tadinya sedikit kering kini basah, bukan hanya oleh ludahku, tapi juga karena lendir yg dikeluarkan dinding memeknya.
Setelah beberapa saat, kembali kucium Hani dan aku mengambil posisi siap untuk menyetubuhinya, tetapi aku tdk langsung melakukannya. Kupandangi wajah Hani dan dia sepertinya mengetahui maksudku, Hani mengangguk. Aku mulai memegang kejantananku yg sudah mencapai ukuran maksimal. Kuarahkan kepala kejantananku ke bibir memek Hani yg terkuak karena gosokan itu. Terasa hangat dan mengundangku untuk langsung menerobos masuk, tetapi aku tahu itu tdk akan menyenangkan, karena itu aku hanya menggosoknya dan sesekali menekan lembut agar memek Hani terbiasa.
Aku mulai menekan kepala k0ntolku ke dalam. Saat itu Hani mengerang, kepala k0ntolku sudah masuk dan terasa ada tekanan dari dinding memeknya. Kucabut kembali k0ntolku, dan kembali kumasukkan kepala kejantananku yg sesekali menyentuh klitoris Hani. Hani memejamkan matanya sambil meremas sprei menahan nikmat.
Setelah kurasa cukup, kutekan lebih dalam, dan perlahan k0ntolku masuk ke dalam. Di dalam liangnya, k0ntolku seperti tertahan dan tdk dapat masuk lagi. Aku tahu Hani masih perawan, dan ini yg mengganjal batang kemaluanku untuk masuk. Kuregangkan lebih lebar selangkaan Hani, dan kupegang kokoh pinggulnya. Kutarik nafasku, dan bersamaan dengan hentakanku,
“Ahhhh..” Hani mendesah panjang dan semakin erat meremas sprei ranjangnya.
K0ntolku masuk ke dalam, merobek selaput dara Hani. Aku tdk langsung memompanya. Kubelai rambut Hani, dan kucium dia, aku mencoba untuk menenangkannya.
Hani tersenyum,
“Aku.. aku tdk apa-apa. Aku menyukainya.”
Setelah itu Hani kembali memejamkan matanya siap menerima apa yg akan kulakukan selanjutnya. Mulai kutarik k0ntolku perlahan, lalu kutekan masuk lagi. Mula-mula agak sulit, tetapi lendir dari dinding memeknya membuat k0ntolku lebih mudah keluar masuk. Setiap kali kutekan masuk k0ntolku, Hani mendesah menahan sakit bercampur nikmat. Dan setiap kutarik k0ntolku keluar, Hani menarik nafas seolah bersiap untuk tekanan selanjutnya.
Wajahnya semakin terlihat manis dan tubuhnya semakin indah dengan titik-titik keringat di belahan dadanya. Aku sendiri mulai mempercepat gerakanku, terasa nikmat di dalam sana. Dinding-dinding memeknya seolah meremas-remas k0ntolku, dan itu membuatku semakin bernafsu. Keringat mengalir dari kening dan punggungku, tetapi aku semakin menikmati permainan itu.
Beberapa saat kemudian k0ntolku terasa panas, aku tahu tdk lama lagi aku akan mencapai puncak, karena itu kucoba mengatur nafas, kucoba untuk memperlambat tempo permainanku. Aku tdk ingin permainan itu cepat selesai. Sesekali kucium Hani dan kubelai rambutnya sekedar untuk memberi waktu k0ntolku agar sedikit beristirahat. Setelah itu kembali kutingkatkan tempo, terkadang k0ntolku terlepas dari genggaman erat dinding memek Hani, tetapi aku mudah memasukkannya kembali ke lubang surga itu, tdk seperti pertama kali, aku harus bersusah payah baru dapat masuk.
Tdk lama kemudian tubuh Hani bergoncang, tetapi dia sama sekali tdk bersuara. Aku tahu dia sudah mencapai puncak, tetapi aku baru tahu kalau seorang wanita yg mengalami puncak kenikmatan tdk selalu menjerit seperti di film-film yg sering kutonton.
Kembali kutingkatkan tempo, kali ini aku tdk akan menahan-nahannya lagi. Aku ingin mengakhiri permainan ini dengan memuaskan. Kukocok lebih keras dan lebih cepat. Hani yg masih menikmati sisa-sisa puncak kenikmatannya mendesah-desah. Dadanya berguncang-guncang, menimbulkan sensasi luar biasa yg membuat nafsuku meledak-ledak. baca cerita sex lainya di seksigo.com
Desahan Hani sudah berubah menjadi jeritan-jeritan kecil dan keringat bercucuran di wajah dan punggungku. Pinggangku mulai lelah bergoyang-goyang maju mundur, dan tanganku mulai kesemutan menahan pinggul Hani agar tdk mundur tertekan. Tetapi itu belum seberapa, k0ntolku terasa panas, bahkan seperti mati rasa. Dinding memek Hani begitu erat meremasnya dan membuatnya semakin nikmat bergesekan.
Akhirnya aku tdk tahan lagi, kukeluarkan k0ntolku dari dalam, dan segera cairan hangat menyembur ke perut dan dada Hani yg sibuk mengatur nafasnya. Aku sendiri terengah-engah seperti baru saja berlari-lari. Entah berapa kali maniku menyembur, yg jelas akhirnya tdk ada lagi yg tersisa. Aku sangat lelah, dan segera kubaringkan tubuhku di samping Hani. Mulanya aku hanya ingin beristirahat sebentar, tetapi aku malah ketiduran.
Aku baru bangun ketika kurasakan tubuhku kedinginan. Aku segera memakai pakaianku, dan kulihat arlojiku, sudah pukul 2 subuh. Kubangunkan Hani, dan aku berpamitan. Kusempatkan mencium Hani yg seolah tdk bertenaga lagi. Dia hanya berbaring di ranjangnya.
“Hani, terima kasih untuk semuanya, jangan lupa kunci pintu kamarmu.”
Aku tersenyum dan segera memacu mobilku. Aku sengaja tdk pulang ke rumah, karena orangtuaku akan curiga. Aku pergi ke kost temanku (laki-laki). Dan kutelpon rumahku, kukatakan aku akan menginap di kost Alf.
Orang tuaku tdk curiga, karena aku memang sering menginap di tempat kost Alf. Pagi harinya pinggangku pegal-pegal. Kutelpon kost Hani, dan suaranya terdengar ceria.
Aku hanya berbicara sebentar, tetapi ketika percakapan kami segera berakhir, Hani berkata,
“Kutunggu kau malam ini..!”
Aku tahu Hani menginginkannya lagi, dan aku juga tdk akan puas melakukannya sekali. Tunggu saja, aku akan datang dan ada kejutan untukmu.. Cerita sex, cerita nyata, cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa terbaru 2016


No comments:
Post a Comment