Friday, July 15, 2016

Cerita Sex Kenangan Indah Di Panta Parangtritis



Agen Judi Online Terpercaya | Aku sempat berpacaran dengannya dan menyimpan kenangan yang indah. Namun sejak dia menikah, maka aku sudah jarang ketemu, bahkan sampai aku lulus kuliah dan sekarang telah bekerja tak tahu di mana dia berada. Tulisan ini kubuat untuk mengenang Dwi yg telah “Memperjakai” aku, untuk pertama kalinya aku melihat susu dan memek yg sebenarnya. Biasanya aku melihat kedua benda tersebut di majalah atau film bokep.
Cerita Sex Terbaru | Awalnya aku membeli buku di kawasan shopping centre, konon karena harga buku disana rata-rata lebih murah 20% bila dibanding dengan harga toko buku dengan judul dan penerbit yg sama, bahkan ada sampai selisih 30%. Bagi mahasiswa harga itu sangat menarik, karena bisa menghemat uang saku. Dari diskon beli buku itu dapat untuk nambah jajan atau kegiatan lain.Terlebih lagi kiriman wesel dari orang tua kadang terlambat.
Dari seringnya buku itu aku menjadi kenal dengan salah seorang SPG kios buku A di Shoping Centre. Bahkan kalau aku cari buku (kadang hanya lihat-lihat doang) dan memilih-milih agak lama begitu kadang aku dibelikan minuman entah itu es jeruk atau es teh tergantung apa yg dia pesan.
Pernah suatu hari ketika aku cari-cari buku pas pada waktu itu SPG yg kemudian kukenal dengan nama (sebut saja Dwi) tengah makan siang, maka aku pun dipesankan makan siang berupa nasi bungkus, entah sebabnya apa aku juga tdk tahu. Tawaran makan siang pun dengan senang hati “Terpaksa” kuterima, walau perut belum lapar. Entah kenapa, aku hanya tdk ingin membuat Dwi kecewa.
Akhirnya Dwi pun sangat akrab denganku, kadang kami bercanda di kios. Di kios itu hanya ada dua SPG. Dari informasi teman SPG-nya (sebut saja Reni) aku tahu bahwa dia memang sudah lama putus hubungan pacarnya. Dari perkenalan itu tak disangka-sangka ternyata tanggal dan bulan kelahiranku sama persis dengan dia, hanya tahunnya yg berbeda. Aku lebih tua 4 tahun.
Akhirnya aku dan Dwi pun “resmi” berpacaran. Tak apalah dapat layg-layg putus, yg penting kami sama-sama suka. Dengan adanya Dwi aku kadang menjemput dia kalau pulang kerja sekitar jam 20.00 dan mengantar sampai ke kostnya yg sebenar tdk jau, kira-kira hanya 10 menit perjalanan kaki.  SABUNG AYAM
Biasanya kalau tdk saya jemput Dwi pulang bareng teman SPG-nya itu yg juga kost satu kamar dengan Dwi. Kamar kostnya cukup luas dengan dua tempat tidur. Reni teman SPG-nya juga sudah punya pacar namanya sebut saja Untung yg bekerja sebagai keamanan kawasan itu. Akupun lantas juga kenal sama Untung. Kadang kalau aku menjemput Dwi, maka Reni pun di antar oleh Untung.
Kalau aku sedang apel ke kostnya Dwi dan Untung pun sedang apel ke Reni biasanya Dwi mengajakku ke ruang tamu. Demikian pula sebaliknya. Namun kadang kalau aku apel ke kamar kostnya, Reni sering keluar kamar dan menonton TV di kamar yg empunya rumah. Di kamar kost itu hanya ada dua tempat tidur, dan meja rias, tdk ada meja atau kursi lain sehingga kalau aku masuk kamarnya ya duduknya di tempat tidur.
Pada suatu saat, pas hari Sabtu, kios tutup agak awal sekitar jam 18.00, saya dan Untung sama-sama menjemput pacar masing-masing, dan pulang bareng. Entah sengaja atau tdk maka kami pun besama-sama masuk ke kamarnya. Untung berada di tempat tidur Reni dan aku pun duduk-duduk di tempat tidur Dwi. Kami saling cerita, ngobrol, bergurau dengan pacar masing-masing.
Reni dan Untung yg telah lebih dulu pacaran ternyata sudah tdk canggung lagi melakukan ciuman atau belaian, bahkan peting, dan necking di depan kami. Tentu saja membuat kami yg baru pacaran agak malu.
Namun dengan ucapan mereka yg mengatakan tak usah malu, kan udah punya pasangan masing-masing, maka kami pun melakukan hal yg sama. Kebetulan hari itu yg punya rumah sedang pergi keluar kota, sehingga di rumah itu tak ada orang selain kami berempat, sehingga waktu itu kami lebih leluasa berpacaran.
Pada mulanya aku dan Dwi hanya berpelukan, berciuman. Entah mengapa ada rasa yg mendorong untuk lebih saling menikmati, maka tak ayal lagi berlanjut dengan cumu mesra, dan akhirnya pakian kami sudah tak rapi lagi. Dwi kemudian menutup pintu dan jendela. Maka kami pun mulai melepas satu persatu pakaian yg melekat di tubuh kami hingga tinggal CD saja yg masih tersisa. Nampak Dwi yg beperawakan kecil ternyata punya susu yg cukup montok.
Demikian pula Reni juga mempunyai payudara yg cukup besar, karena memang badannya lebih besar dari Dwi. Karena Reni dan Edi sudah saling pagut, saling peluk, saling remas, maka tak ayal lagi membuat aku dan Dwi juga melakukan hal sama.
Tiba-tiba aku punya ide untuk merasakan tubuh Reni yg lebih bahenol, maka aku pun berkata kepada Untung, “Mas Untung, gimana kalau kita tukar tempat, sebentar saja”
“Apanya yg ditukar” sahutnya bengong.
“Itu lho.. susunya” sahutku lagi sambil tersenyum.

Untung mikir sebentar dan lalu berkata” Kalau Reni mau, bolehlah!”
Akhirnya Dwi kusuruh pindah ke ranjangnya dan Reni pun pindah ke tempatku. Lalu Reni mulai kucumbu, kucium, kupeluk. Sambil terus mengelus, meraba tubuhnya. Dan akhir sampai dibukit yg cukup besar dan kiranya mulai menegang. Tanganku berhenti sebentar dibukitnya yg kenyal, kemudian mulai kuremas-remas dengan kedua tanganku dari arah belakang. Reni mulai melenguh kenakan.
“Oh.., terus-terusin.., teruus” Reni terus merengek.
Kemudian dia berbalik dan tangannya juga mulai mememeluk tubuhku semakin erat. Kami berdua saling berpelukan, saling berciuman, melumat bibir, saling meremas, entah berapa lama. Diranjang sebelah Untung melakukan hal yg sama dengan pacarku Dwi. Aku kadang melirik ke Dwi, dan rasanya mulai cemburu melihat Untung mengemut-emut, menyedot-nyedot susu pacarku. Kadang kulihat Untung mengobok-obok memek Dwi walaupun masih memakai CD.
Namun kecemburuanku ini kulampiaskan pada Reni. Cukup lama kami “Pesta nude kecil” malam itu, sampai tak terasa sudah pukul 21.00 dan kami harus segera meninggalkan tempat kostnya. Walaupun kami tdk sampai melakukan ML, namun kami pulang dengan rasa amat senang.  POKER & DOMINO
Pada akhir bulan Dwi mengabari aku bahwa ia akan libur 4 hari. Biasanya kalau dia libur Dwi pulang ke rumah orangtuanya di Purwareja. Karena hari pertama itu hari Sabtu maka aku punya usul agar pulangnya ke desa ditunda hari Minggunya.
“Ada apa Mas?” tanyanya   CAPSA SUSUN | ADU KIU KIU
“Aku ada ide, kalau you mau, nanti kuajak kamu ke Pantai Parangtritis, nginap disana semalam, baru esok hari kamu pulang” ujarku.

Dengan agak ragu Dwi pun lalu mengangguk setuju. Akhirnya Sabtu siang habis kuliah aku dan Dwi pun dengan berboncengan sepeda motor menuju Pantai Parangtritis. Saat melewati warung makan aku menawari Dwi untuk makan siang dulu namun Dwi menolak, oleh karenanya aku hanya menitipkan motor di warung itu.
Siang itu di Pantai sungguh sangat cerah, bahkan senderung panas, namun angin bertiup cukup kencang sehingga dapat mengurangi rasa panas. Aku dan Dwi jalan menelusuri pantai dengan bergandeng tangan, dan kadang kupeluk mesra. Karena merasa panas maka aku dan Dwi istirahat di gubuk yg tersedia di pinggir pantai. seksigo
Kulihat pemandangan laut luas dengan deburan ombak besar yg menakjubkan. Saat aku menghadap ke timur kulihat bukit yg tinggi yg menghijau nan indah. Ketika menghadap ke utara aku melihat banyak gubuk di atas bukit, maka aku pun mengajak Dwi untuk naik ke bukit tersebut. Lalu kami berdua naik ke bukit tersebut melalui jalan setapak.
Sampai di atas ternyata di atas sana juga banyak orang terutama pasangan muda-mudi dan kiranya mereka juga berpacaran. Bahkan mobil bisa naik sampai ke puncak bukit. Mereka pada duduk-duduk menghadap ke selatan dan memandang keindahan laut selatan dari atas bukit, sungguh sangat indah. Disini tdk terlalu panas karena ada pepohonan yg bisa untuk berteduh.
Aku dan Dwi pun lalu duduk-duduk namun agak jauh dari mereka, masih malu, karena memang baru pertama ke tempat itu. Tiba-tiba kami didatangi seorang perempuan setengah tua yg menawarkan tikar dengan bahasa Jawa untuk duduk-duduk (lesehan: Jw).
“Ngersake tikar Om, (Ind: mau pakai tikar)?” katanya.
“Berapa sewanya, Mbok?” tanyaku.
“Namun setunggal ewu kemawon (Ind: hanya seribu rupiah)” katanya.

Tanpa kutawar lalu kubayar kepada pemilik tikar itu.
“Eh, Mbok, kalau gubuk kecil itu untuk apa? tanyaku lagi.
“Menawi meniko kagem istirahat (Ind: kalau itu untuk istirahat)” katanya lagi.
“Istirahat siap?” tanyaku lagi.
“Nggih sinten sing purun ngginakaken (Ind: ya siap yg mau menggunakan)” katanya.
“Meniko nggih disewa-aken (Ind: itu ya disewakan), lanjutnya lagi.

Aku lalu melirik ke Dwi, “Gimana dik, kita coba?” tanyaku.
Dwi lalu mengangguk.
“Kalau gubuk berapa Mbok? tanyaku.
“Namung kalih ewu (Ind: hanya dua ribu)” jawabnya.

Setelah melakukan transaksi kemudian kami berdua masuk ke gubuk kecil hanya berukuran kira-kira 1 x 1,5 meter. (Dikemudian hari terkenal dengan nama “Gubuk Cinta”). Tentu saja tanpa lampu dan yg agak membuat ngeri adalah dindingnya hanya dari anyaman daun kelapa sehingga cukup mudah untuk diintip, namun juga cukup mudah mengetahui kalau ada yg ngintip. Kalau dilihat sambil jalan sepintas ya cukup rapat, dan tak kelihatan kalau di dalam ada yg sedang indehoi (bercumbu).
Di dalam gubug yg sempit itu kami saling beciuman, berpelukan. Dwi kemudian mulai membuka jaketnya, selanjutnya you can see-nya, sehingga dibalik BH-nya yg berwarna krem terlihat bukit-bukit yg menantang untuk di kemot-kemot. Dwi kemudian juga membuka jaket dan hem yg kupakai. Dwi membiarkan saja ketika aku mencopot kait BH-nya sehingga tampaklah pemandangan indah, dua bukit kembar yg berwarna kuning langsat, montok, dan tentunya sangat menggairahkanku. Aku langsung saja menciumnya, lama kami berciuman, saling pagut. Dwi menjulurkan lidahnya kedalam mulutku, dan aku pun membalasnya dengan semangat. Kupeluk dia dan lalu kuremas-remas susunya yg montok.
“Oh.., Mas.., oh.., oh.. Mas” ia mulai melenguh.
“Terus Mas.., pakai liah Mas” pintanya lagi.

Aku pun trus mencium, dan mengemot-emot susunya bagai bayi yg kehausan dan menetk ibunya.
“Enak Dwi? tanyaku.
“Enak, Mas, teruss.. terus.. ach, uogh”.

Entah untuk beberapa lama aku mengemut-emut susu itu, akhirnya Dwi minta untuk disudahi. Kemudian Dwi pun melolos sabukku, lalu mencopot kancing celanaku, dan membuka ritsluitingnya. Tersembulah batang kemaluanku yg telah menegang. Dwi pun lalu mengelus-elus dan mengocok-ngocok penisku yg semakin memerah dan semkain tegang. Ueenak sekali rasanya. Ini untuk pertama kali burungku dilihat gadis.
“Iiih, Mas, besar sekali, mengerikan!” katanya.
“Masak sih, biasa-biasa” saja sahutku.
“Aku takut Mas kalau ini masuk ke..” dia tdk melanjutkan kata-katanya.

Setelah agak lama kok hanya dielus-elus saja maka aku berkata kepadanya, ” Dwi emut Dwi!”
“Hah.. apa Mas!” dia agak terkejut mendengar perintahku.
“Emut Dwi, kulum, sedot-sedot adikku itu” kataku lagi.
Dwi agak ragu melakukannya.
“Nanti kalau..”
“Kalau apa?” tanyaku lagi.
“Nggak apa-apa Dwi, jangan takut”

Akhirnya Dwi pun mengemot-emot, memainkan lidahnya dikepala kemaluanku dengan semangat.
“Oh.. Dwi, terus Dwi, teruuss.. enak Dwi, teruuss.. aku akan keluar Dwi!”
Dan crot, crot, crot.. Muncratlah spermaku dalam mulutnya dan sebagian lagi mengenai wajahnya yg cantik. Aku hanya memejamkan mata keenakan.
“Enak Om?” tanyanya.
Aku hanya mengangguk, tanpa berkata-kata lagi.
“Bersihkan Dwi, telan saja” dan tanpa berkata lagi Dwi pun mengulum-ulum batang kemaluanku, menjilat-jilat membersihkan sisa-sisa sperma yg masih menempel sampai bersih, sih.
“Ouch.. ouch.., Dwi” aku mendesah keenakan.

Pembaca, peristiwa itulah untuk pertamakalinya aku memuntahkan sperma dari kemaluanku alias “Diperjakai” oleh gadis yg bernama Dwi.
Setelah merapikan pakaian aku dan Dwi pun segera meninggalkan Gubug Cinta dan turun menuju tempat titip motor serta menikmati makan siang agak sore. Lagi asyknya menikmati makan siang, tiba-tiba pemilik warung itu menawarkan kamar untuk istirahat.
“Mau istirahat, Nak?” tanyanya.
Pemilik warung yg ini bisa bahasa Indonesia.
“Berapa semalam Bu?” tanyaku.
“Hanya Rp 15.000” katanya lagi.
“Ah mahal. Rp 10.000 saja ya” aku mencoba menawar.

Dan setelah berpikir sebentar pemilik warung itu menyetujuinya. Aku dan Dwi langsung masuk kamar dan tidur-tiduran. Akhirnya pun tidur sungguhan dan ketika bangun hari sudah menjelang malam.
Dwi masih tidur, kukecup keningnya, kucium pipi dan bibirnya. Dan ketika kuremas-remas buah dadanya dia menggeliat dan membuka matanya.
“Jam berapa Mas?” tanyanya.
“Jam 20.00” sahutku.

Dwi segera membasuh muka dan kuajak untuk menikmati suasana malam pantai, namun hanya di warung, tdk sampai ke pinggir laut. Ketika jam menunjukkan pukul 21.30, kuajak lagi dia ke kamar.
“Dwi, yuk kita lanjutkan, yg tadi siang” kataku.
Dwi pun mengangguk dan kugandeng dia ke kamar. Setelah di kamar kami berdua langsung melakukan kissing, necking, dan petting. Lalu Dwi pun berinisiatif membuka bajuk, lalu celanaku. Aku pun segera membuka bajunya, mencopot BH-nya dan CD-nya. Hatiku berdebar melihat pemandangan indah itu untuk pertama kalinya. Batang kemaluanku telah menegang, mengacung, siap menyerbu.
Kini aku dan Wiwik telah sama-sama telanjang bulat. Kudekati dan kubaringkan Dia dari arah kepala kucium mulai keningnya, matanya, bibirnya, susunya, terus turun ke pusar dan akhirnya tepat di memeknya kilik-kilik dengan lidahku. Kukecup-kecup memeknya, kusedot-sedot lubang kewanitaanya.
Dwi pun menjerit-kerit,
“Ouh.. Ouh.. Mas Mas.. terus teruss Mas”.
Dan tak lama kemudian mengalir lendir dari memeknya. Dwi telah orgasme. Setelah berhenti sebentar lalu kupermainkan lidahku dibibir memeknya, menjilat-jilat klitorisnya dan lidahku terus mengobok-obok memeknya. Dan tak lama kemudian mengalir lagi cairan hangat dari memeknya. Dwi telah orgasme lagi.
Setelah istirahat sebentar aku berbalik dan kemudian perlahan-lahan kubuka pahanya yg putih mulus dengan selangkangan yg sangat menantang. Perlahan-lahan kumasukkan batang penisku keliang senggamanya. Bless.. bles.. bles. sedikit demi sedikit masuklah kumasukkan batang penisku dan akhir semua batang penisku. Masuk ke dalam memeknya. Kuangkat sedikit lalu kusodokkan lagi, terus dan terus.
“Pelan Mas, sakit” rintihnya.
“Masukkan lagi Mas, kentot lagi Mas”  

Segera kugenjot lagi penisku dalam memeknya, terus dan terus..
“Ouh.. Ouh.. Maas. Maas.. aku akan keluar lagi Mas..”
“Ouh Dwi.. Oh.. Dwi,.. aku akan keluar Dwi” kita bareng-bareng Dwi dan Aku dan Dwi mencapai puncak bersama-sama.

Malam itu kami bermain sangat puas. Kemudian kami tidur sampai pagi. Setelah kami berdua mandi dan sarapan pagi, segera berkemas meninggalkan Pantai Parangtritis Kami segera melesat langsung ke terminal bus. Sesampai di terminal bus Dwi terus naik bus jurusan desanya, tanpa banyak bicara kami segera berpisah.
Seminggu kemudian aku ke tempatnya bekerja, namun dia belum masuk. Dua minggu, tiga minggu dia belum masuk juga. Sebulan kemudian ada kabar dari teman SPG-nya bahwa dia akan menikah minggu depan. Aku sangat terkejut, terperanjat, sangat tdk percaya, namun setelah temannya menunjukkan surat, aku pun akhirnya percaya bahwa Dwi benar-benar akan menikah.
Aku tak tahu harus bagaimana mengucapkan terimakasih ataukah meminta maaf, karena sampai sekarang aku belum bertemu dengannya. Yg jelas Pantai Parangtritis meninggalkan kenangan yg indah bagiku. cerita sex, cerita nyata, cerita ngentot, cerita mesum, cerita dewasa terbaru 2016

No comments:

Post a Comment