Monday, July 11, 2016

Cerita Sex Gairah Sunyi



Agen Judi Online Terpercaya Aku lahir dari keluarga yg sangat sederhana, di sebuah desa yg masih dipenuhi persawahaan dan semak belukar. Aku anak pertama dari 2 bersaudara, selisih usiaku dengan adikku kurang lebih sekitar 3 tahun. Kami tak punya rumah sendiri, sehari-hari kami hanya tinggal di gubuk kecil milik tetangga. Tapi saat ayah pergi ke kota besar untuk mencoba merubah nasib sebagai pedagang nasi goreng, kami dititipkan di rumah nenek yg ada di kampung sebelah. Saat itu aku msih duduku dibngku kelas 3 SD.
Cerita Sex Terbaru | Sehari-hari, aku biasanya membantu kakek. Kakek mempunyai ladang yg meski tak begitu besar, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan kami sehari-hari. Ladang itu sebagian dia jadikan tempat memelihara ikan, dan sebagian lagi ia jadikan tempat bercocok tanam segala macam jenis sayuran, mulai dari kol, sawi, bawang merah, kacang panjang, tomat, bahkan cabe. Kampung kami memang sangat sepi, saat itu belum ada listrik.
Di pertengahan kelas 5 SD, nenek meninggal. Hal itu sempat membuat keluarga kami shock, khususnya kakek, dia tak menyangka akan ditinggal oleh nenek secara mendadak. Kakek sempat murung dan berubah jadi pendiam selama beberapa bulan. Aku sempat sedih juga karena kehilangan tempat main dan panutan kalau lagi ada masalah di sekolah. Ibu yg merasa iba pada kakek akhirnya berusaha menjodohkan kakek dengan seorang perempuan, sebut saja mbak Reni, seorang wanita parubaya yg masih kelihatan cantik di usianya yg sudah lewat 30 tahun.
Perkenalan ibu dengan mbak Reni terjadi saat wanita itu ingin membeli ikan milik kakek untuk acara hajatan ultah putra sulungnya. Mengetahui kalau mbak Reni adalah seorang janda yg ditinggal mati oleh suaminya -sama dengan kakek yg ditinggal mati oleh nenek- ibu berusaha menjodohkan mereka. Dan di luar dugaan, mbak Reni menerimanya, padahal selisih usia mereka sekitar 30 tahun. Mungkin karena melihat kakek yg masih kelihatan gagah di usianya yg sudah lanjut, mbak Reni jadi kesengsem. Kakek memang masih kelihatan berotot dan awet muda meski kulitnya agak sedikit gelap, itu akibat kebiasaannya bekerja keras di ladang setiap hari.
Begitulah, sekitar tujuh bulan setelah ditinggal oleh nenek, kakek menikah lagi. Mbak Reni yg dulunya tinggal di desa sebelah, setelah menikah dengan kakek, sepakat untuk tinggal bersama kami. Dia membawa serta dua orang anaknya yg masih kecil-kecil. Mbak Reni ternyata orangnya baik, diapun secara ekonomi sangat mapan, jauh dibanding kakek, hingga tak jarang akhirnya sering membantu keuangan keluarga kami, khususnya ibuku yg memang tak tentu mendapat kiriman dari ayah. Mbak Reni mempunyai beberapa rumah peninggalan almarhum suaminya yg dia kontrakkan.
Sebagai rasa terima kasih, aku berusaha tdk menolak jika disuruh apapun olehnya, karena kadang mbak Reni juga memberiku upah, meski kadang aku harus pergi melintasi kampung lain untuk berbelanja memenuhi permintaannya.
Sifat lain dari mbak Reni yg aku suka, dia bukan tipe orang yg malas. Tak jarang dia mencucikan pakaian milikku saat ibuku terlalu sibuk bekerja. Saat dia mencuci, aku sering kali membantunya menimba air, hal yg memang sudah rutin aku lakukan kalau mencuci bersama ibuku. Hal itu makin membuat mbak Reni sayang kepadaku. Aku yg kadang suka diledek oleh teman-temanku -bahkan saudara-saudaraku- sebagai anak yg sedikit bodoh dan polos, tapi di mata mbak Reni, aku adalah anak yg baik. Tapi ada satu kebiasaanku yg sering membuat ibuku marah; jika sudah tidur, aku akan sulit sekali dibangunkan. Apalagi kalau baru saja terpejam, mungkin butuh satu ember air, baru aku bisa bangun.  BANDAR KIU KIU | CAPSA SUSUN
Sampai akhirnya, saat aku di akhir kelas enam SD, ayah meminta ibu untuk pindah mengikutinya. Kata ayah, usahanya sudah lumayan rame, daripada membayar orang untuk membantu, mending mengajak ibu saja. Alasan lainnya, karena ayah tak kuat kalau harus terus jauh dari ibu. Saat itu aku masih belum mengerti apa maksudnya. Ibu yg tampaknya juga merindukan ayah, akhirnya setuju.
Rencana awalnya, aku dan adikku akan dibawa. Tapi kakek melarang, katanya: mending kami ditinggal dulu, karena ayah belum benar-benar mapan, sayang kalau buang-buang uang untuk biaya kami pindah sekolah. Saat itu, aku memang sudah mendaftar ke SMP di kotaku. Adikku saat itu masih kelas lima SD. Alasan kakek cukup masuk akal. Tapi adik perempuanku yg memang sangat dekat dengan ibu, tdk mau ditinggal, dia ngotot untuk ikut dengan ibu pergi ke kota menemani ayah. Akhirnya, setelah berembug cukup lama, kakek memutuskan; adikku boleh ikut ibu, sedangkan aku akan tetap di kampung bersama kakek. Aku sendiri tdk keberatan karena selama ini aku memang dekat dengan kakek. Jadilah aku berpisah dengan ibu dan adikku.
Kepindahan ibu tdk membuatku merasa kehilangan karena kadang tiap bulan ibu pulang. Selain untuk menengokku, ibu juga memberi uang sekedarnya untuk kakek. Selama kepergian ibu, mbak Reni lah yg ganti menjagaku. Dia sudah menganggapku seperti anaknya sendiri. Kalau dulu aku sering tidur di bale-bale, sekarang aku lebih leluasa tidur di kamar. Mbak Reni memberiku kamar belakang yg dulu ditempati oleh ibu. Sedangkan kakek dan mbak Reni tetap di kamar depan, bersama anak-anaknya yg masih kecil. Kamar di rumah kakek memang hanya dua, berhadap-hadapan, walau kamar kakek sedikit lebih besar.
Akhirnya, aku lalui hari-hari bersama kakek dan mbak Reni dengan penuh suka cita. Seringnya di rumah berdua membuatku dekat dengan mbak Reni, dia pun jadi tahu dengan salah satu kebiasaan burukku.
”Kenapa sih kamu kalau dibangunin susah sekali? Semalam mau mbak suruh pindah ke kamar karena udara dingin banget, takut kamu sakit.” kata mbak Reni pada suatu hari, saat dia kesulitan membangunkanku.
“Yah, dia mana bisa dibangunin! Ada bom meledak juga tetap ngorok,” sahut kakek sebelum aku sempat menjawab.

Aku cuma tertawa menanggapinya.    ADU KIU KIU | CEME
Tak terasa, sudah satu tahun kami hidup bertiga. Kini aku sudah naik ke kelas 2 SMP. Saat itulah, untuk pertama kalinya aku mengalami mimpi basah, itu sebenarnya membuatku sangat heran dan bingung. Ingin bertanya, tapi tak tahu kepada siapa. Seiring dengan itu, suaraku juga mulai berubah, membuat aku malas bermain dengan teman-teman lain. Ditambah bulu-bulu halus di bawah hidungku yg juga mulai tampak, aku makin menjadi bahan ledekan teman-temanku. Aku yg awalnya anak yg jarang suka bermain, sekarang jadi makin malas keluar. Paling hanya ke sawah tak jauh dari rumahku, itupun kalau pas musim laygan saja. Selebihnya, aku lebih suka melihat kakek berkebun atau memberi makan ikan.
Biasanya, setelah adzan maghrib berkumandang, kampung kami menjadi sepi. Kegelapan terlihat dimana-mana, hanya lampu-lampu minyak yg menyala, atau kadang juga petromak yg menjadi penerang bagi warga kampung yg letak rumahnyapun tak begitu berdekatan. Hanya masjid yg biasanya ramai hingga sekitar jam tujuh malam. Setelah itu, desa kami benar-benar sepi dan kebanyakan penghuninya langsung terlelap dalam mimpi.
Di pertengahan kelas dua, kulihat kakek suka mulai merasa kelelahan, mungkin karena usianya yg makin merambat senja. Aku memang kadang suka diminta kakek, atau bahkan mbak Reni, untuk memijat mereka. Tapi di saat itu, hampir seminggu sekali kakek menyuruhku melakukannya. Aku pun kadang meminta pertolongan mbak Reni, terutama jika aku ingin dikerok. Mbak Reni memang kadang melakukan itu jika aku masuk angin.
Pagi itu, kulihat kakek tdk ke ladang.
“Sakit lagi ya, mbak?” tanyaku.
”Ah, biasa. Memang harus istirahat dulu. Seminggu lalu baru kuras kolam, eh kemarin malah tanam tomat.” katanya.

Kulihat mbak Reni menatapku penuh arti, saat itu aku sedang menimba air hanya dengan bercelana dalam saja. Aku tak merasa aneh karena aku sudah sering melakukan itu. Dan selama ini tdk pernah ada masalah.
Hingga suatu hari, secara tak sengaja, handuk yg kupakai untuk melilit tubuhku jatuh saat aku sedang asyik menimba, padahal saat itu aku sedang tdk memakai celana dalam, hingga terlihatlah burung mudaku di depan mata mbak Reni. Dia tertawa cekikikan saat melihatnya,
”Cepetan ditutup, nanti burungnya kabur lho!” dia berkata sambil melengos ke samping, kulihat mukanya jadi agak pucat dan memerah.
Aku yg tak merasa risih sama sekali, hanya bersikap biasa saja.
”Iya, mbak.” kuraih handukku dan kusampirkan lagi ke pinggangku.
Kuteruskan lagi menimba air. Di pikiranku; karena saat SD dulu mbak Reni sering memandikanku jika ibu lagi repot, tentunya dia sudah sering melihat tubuh telanjangku, jadi buat apa malu. Aku tak pernah menygka, kalau peristiwa sore itu ternyata begitu berkesan bagi mbak Reni. cerita sex
Sampai kemudian, saat itu aku baru saja menyelesaikan ujian akhir kelas dua SMP, usiaku mungkin sekitar 14 tahun. Hari itu, kakek lagi pergi ke kota untuk membeli benih. Jam tujuh malam, saat mbak Reni masih asyik mendengarkan radio, aku sudah terlelap. Tdk seperti biasa, malam itu aku bermimpi. Mimpi yg sangat aku nantikan. Mimpi basah. Tapi entah, malam itu mimpiku terasa begitu nyata. Aku merasa kontolku memasuki lubang yg sangat hangat. Enaaak sekali! hingga tak lama kemudian, aku pun mengejang. Saat itu aku merasa ada orang duduk diatas pangkuanku, tapi dasar aku kalau tidur lelap sekali, aku tdk bisa mengetahui itu beneran atau cuma mimpi.
Paginya, aku langsung memeriksa celanaku. Heran, tak ada kerak kering bekas air maniku, hal yg biasanya aku temukan jika habis bermimpi basah. Yg membuatku makin bingung, mimpiku sepertinya terasa sangat nyata. Nikmatnya berkali-kali lipat daripada biasanya. Aku ingin mengulanginya lagi.
Dan keberuntungan membuatku merasakannya tak lama kemudian. Tepatnya kurang dari dua minggu sejak mimpiku yg pertama. Tapi kali ini aku agak sedikit sadar karena aku memang belum benar-benar terlelap. Kembali kurasakan seperti ada orang duduk di atas pinggangku, tapi penyakit lelapku membuatku tak bisa membuka mata. Aku hanya bisa menikmati rasa nikmat yg menjalar cepat di batang kontolku, rasa hangat dan geli seperti dipijit-pijit oleh benda yg sangat lembek dan empuk, membuatku meringis dan merintih dalam tidur. Cukup lama aku menikmatinya, sampai akhirnya aku mengejang tak lama kemudian. Sebenarnya aku tak ingin rasa itu cepat berakhir, tapi mau bagaimana lagi, kutahan sekuat apapun, aku tetap tdk bisa mencegah rasa nikmatnya. Terpaksa kubiarkan spermaku menyembur keluar sebelum aku kembali terlelap beberapa detik kemudian.
Hal itu terus berlangsung selama beberapa minggu berikutnya. Meski cukup menggangu pikiranku, tapi jujur, aku sangat menikmatinya. Mimpi itu terasa nyata sekali, seperti aku benar-benar melakukannya. Sampai akhirnya, kembali kakek harus pergi ke kota untuk membeli bibit.
“Besok senin, pagi-pagi aku sudah pulang.” katanya kepada mbak Reni. Dia lalu menoleh kepadaku.
“Kamu istirahat aja, besok kan sekolah.” katanya.

Ya, saat itu badanku memang sedikit kurang enak. Sepertinya masuk angin.
Kakek menyuruh mbak Reni untuk mengerokiku, tapi aku tdk mau.
”Bentar juga enakan sendiri.” kataku.
Tapi sorenya, saat aku masih meringkuk di kamar dengan badan lemas, mbak Reni menghampiriku.
“Sini, kukerok aja. Kamu juga nggak usah mandi dulu, takut nanti tambah parah.” katanya.
Aku hanya diam dan tetap berbaring tengkurap. Mbak Reni kemudian mengangkat kaosku. Sambil mengurut punggungku dengan uang koin, dia berkata. “Kamu tuh udah gede, kalau mandi tutup pintunya, jangan seenaknya gitu, apa nggak malu?” tanyanya.
“Malu sama siapa, mbak? Kan nggak ada orang, paling cuma kakek.” kataku.
“Iya, tapi kali aja ada tetangga yg datang.” kata mbak Reni.
”Ah, nggak merah. Kamu mungkin telat makan aja, jadinya kembung. Makanya jangan telat makan.” dia menasehati dan akhirnya memijat punggungku.

Setelah punggung selesai, ia kemudian menyuruhku berbalik.
”Biar kupijat dada sama perutmu.” katanya.
Kubalikkan badan. Aku mulai merasa geli saat mbak Reni perlahan mengurut perutku. Tanpa sadar, kontolku mulai bergerak menegang.
”Kamu tuh yg bener kalau pake celana. Celana rusak masih aja di pake.” katanya.
Aku saat itu memang memakai celana bekas SD-ku dulu yg bagian resletingnya sudah rusak, hingga menampakkan sedikit kulit batang k0ntolku.
Saat mbak Reni memijat bagian bawah perutku, kontolku makin tak karuan tegangnya, mbak Reni hanya tersenyum saat melihatnya.
”Ih, tuh kan, saking sempitnya sampe nonjol gitu.” katanya dengan halus.
”Kayaknya sesak banget ya?” tanya mbak Reni.

Aku kira dia membicarakan celanaku, jadi aku menyahut enteng saja.
”Iya, mbak.” jawabku.
”Dibuang saja,” kata mbak Reni.
”Dibuang gimana, mbak?” kataku tak mengerti.

Tdk menjawab, perlahan mbak Reni memijat pangkal pahaku. Dan entah sengaja atau tdk, dia berkali-kali menyenggol bagian selangkanganku.
”Ih, bener. Sesak banget! Kayaknya pengen dikeluarin tuh.” katanya.
”Dikeluarin?” aku semakin tak mengerti.
”Bener-bener harus dibuang, hehe.” sahut mbak Reni sambil terkikik.
“Terserah ah, gimana enaknya mbak aja.” jawabku pada akhirnya. Pasrah, percaya sepenuhnya kepadanya.
“Iya, tapi kamu jangan bilang-bilang kakek ya?” bisiknya.
“Iya, mbak, masa mau bilang kakek,” kataku mengangguk, masih berfikir dan tak mengerti apa yg ia maksudkan.
”Ehm… sekarang, tutup muka kamu dengan bantal.” kata mbak Reni kemudian.

Aku menurut, walau sedikit heran. Masa lepas celana aja harus pakai tutup muka segala? Tapi aku tetap melakukannya. “Gini ya, mbak?” kutindihkan bantal ke mukaku hingga aku tdk bisa melihat apa-apa.
”Aku buang semuanya ya?” kata mbak Reni.
Aku masih tak mengerti, tapi aku tetap menjawab,
”Terserah, mbak.”
Akhirnya kurasakan celanaku ditarik ke bawah. Dan tdk cuma celana pendek, kurasakan celana dalamku pun ikut ia tarik hingga terlepas semuanya. Sungguh, aku merasa kikuk, malu, dan agak risih telanjang di depan mbak Reni. ”Mungkin mbak mau mengganti semuanya karena aku nggak mandi,” bisikku dalam hati untuk menenangkan pikiranku yg mulai bergejolak. Di bawah, kontolku yg sudah menegang kini makin mengacung tegak ke atas saat tangan mbak Reni mulai merabanya, memperlihatkan segala kejantanan dan kekuatannya.
”Ih, keras amat” katanya sambil mulai mengocok pelan.
Rasa geli dan nikmat langsung kurasakan, aku tdk sanggup untuk menolak. Apalagi saat tak lama kemudian, kurasakan tubuh montok milik mbak Reni mulai mengangkangiku, membuatku makin terbuai dan terpesona. Batang kontolku kini tepat menempel ke belahan memeknya. Bahkan sesaat kemudian, kurasakan ujung kontolku perlahan menembus, memasuki belahan dagingnya yg sangat hangat, yg mengingatkanku akan nikmat mimpi basahku beberapa minggu terakhir. Sungguh, seperti ini rasanya, sangat mirip sekali!!
”Kamu diam saja, jangan dibuka bantalnya!” mbak Reni berkata sambil terus menekan pinggulnya ke bawah.
Dinding memeknya yg lembek dan lengket semakin menggerogoti batang kontolku. Ya Tuhan, apa mbak Reni sedang menyetubuhiku? Tanyaku dalam hati, namun tdk bisa menolak. Begitu nikmat rasa ini hingga aku tdk bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa diam dan menikmati apapun yg ia berikan.
Di sela-sela kebingunganku, perlahan tapi pasti, kontolku semakin masuk ke dalam, menghunjam dan menembus memek mulus mbak Reni, bahkan kini sudah mentok di mulut rahimnya. Kontolku kini sudah menancap sepenuhnya, mengisi rongga memek mbak Reni yg kurasa sangat sempit dan legit. Aku hanya bisa menutup mata dan menyembunyikan mukaku di balik bantal saat perlahan mbak Reni mulai menggerakkan badannya naik turun. Goyangannya itu membuat alat kelamin kami yg saling bertaut erat mulai bergesekan pelan. Rasanya sungguh nikmat sekali. Kudengar nafas mbak Reni semakin berat dan tak teratur, membuatku semakin tak kuasa menahan gejolak. Akhirnya akupun mengejang. Perlahan cairan hangat keluar dari kontolku, menyemprot deras di liang memek mbak Reni, yg dibalas olehnya dengan denyutan nikmat dinding-dinding rahimnya.
Setelah muncrat semuanya, barulah mbak Reni melepaskan himpitannya dan merapikan kembali celanaku. Kontolku yg basah oleh cairan kental, ia lap dengan menggunakan kain lembut. Kutebak itu adalah celana dalamnya.
“Udah, boleh dibuka sekarang.” kata mbak Reni kemudian.
”Sudah nggak sesak lagi kan?” tanyanya sambil tersenyum.

Aku hanya diam, tdk tahu harus berkata apa. Persetubuhan pertamaku dengan mbak Reni membuatku kehilangan kata-kata. Tapi, benarkah ini yg pertama? Setelah merapikan kembali pakaiannya, kuperhatikan mbak Reni yg melangkah pergi meninggalkan kamarku.
Keesokan harinya, kakek masih belum kembali. Di sekolah, aku jadi sering melamun, membayangkan apa yg telah aku dan mbak Reni lakukan kemarin. Aku tahu bahwa itu terlarang dan tdk boleh, tapi entahlah, aku menyukainya. Dan aku tdk ingin berhenti, aku ingin mengulanginya lagi kalau ada kesempatan. Sepertinya aku telah ketagihan dan merindukan memek mbak Reni. Aku telah dewasa sebelum waktunya.
Pulang sekolah, meski lagi konak berat, aku cuma tiduran di kamar. Aku tdk berani mendekati mbak Reni yg sedang asyik nonton teve di ruang tengah. Aku sedang mengusap-usap batang kontolku yg sudah tegang saat dia menyapaku dari pintu kamar.
“Kamu sakit?” tanya mbak Reni yg tahu-tahu sudah berada disana.
”Nggak, mbak.” kataku salah tingkah karena sudah dipergoki seperti itu.
”Kok di kamar aja,” kata mbak Reni sambil tersenyum.

Aku hanya diam, tak tahu harus memberikan jawaban apa.
”Apa sesak lagi?” dia bertanya lagi, matanya menatap penuh pengertian.
”Ah, nggak juga, mbak.” kilahku untuk menutupi rasa malu, untungnya saat itu aku juga mengenakan celana longgar yg sedikit banyak bisa menyembunyikan tonjolan k0ntolku.
“Ya udah, sini perutnya mbak minyakin biar nggak masuk angin lagi.” katanya, dan tanpa disuruh, dia pun meminyaki perutku, lalu memijatnya perlahan.

Hal itu kembali membuat kontolku terbangun.
”Ih, dari luar memang nggak kelihatan, tapi dalamnya kelihatan sesak tuh,” mbak Reni menunjuk daerah kontolku yg perlahan-lahan berubah menjadi semakin munjung.
“Ehm, iya kali, mbak.” kataku pasrah karena aku memang tdk bisa menutupinya lagi.
”Tegang ya?” bisik mbak Reni sedikit genit.
”Iya, kenapa ya, mbok?” kataku polos.
“Nggak apa-apa, normal.” katanya sambil dengan tangan mulai mengusap-usap perlahan.

Aku mulai merasa nikmat di batang kontolku akibat belaiannya.
”Mau dibuang?” tawarnya.
”Jangan, mbak, sayang.” kataku bodoh.
”Nggak apa, nanti juga ada gantinya.” ia tersenyum.     


Aku terdiam, berusaha mencerna ucapannya.
“Ehm, terserah mbak aja deh.” kataku pada akhirnya.
Kembali mbak Reni menutup mukaku dengan bantal. Dan perlahan, kembali kurasakan nikmat menjalari batang kontolku saat dia menduduki dan menjepit batang kontolku di belahan lubang memeknya.
“Mbak, kalau kakek pulang bagaimana?” tanyaku sambil merintih keenakan menikmati genjotannya.
”Tenang saja, nanti juga gedor pintu.” jawab mbak Reni. Kurasakan goyangannya menjadi semakin cepat sekarang.

”Mbak, maksud mbak sesek itu apa?” tanyaku dengan tangan berpegangan erat pada sprei, berusaha menahan desakan nikmat dari batang k0ntolku agar tdk cepat memancar keluar.
”Ah, kamu pura-pura nggak tahu ya?” kata mbak Reni.  
”Beneran, mbak.” sahutku masih dengan muka tertutup bantal.
Tdk bisa kuketahui bagaimana raut muka mbak Reni sekarang, tepai dari erangan dan rintihannya, sepertinya dia merasa nikmat sekali, sama seperti yg aku rasakan sekarang.
”Maksud mbak, ininya kamu sudah penuh.” katanya sambil meraba biji pelirku.
“Oh, kirain celanaku yg sesek.” kataku baru mengerti.
Saat itulah mbak Reni tersadar, ternyata kami telah salah paham. Dia langsung menghentikan gerakannya diatas kontolku.
”Mbak, kenapa?” tanyaku bingung, tak ingin kenikmatan ini terputus di tengah jalan.
”Aduh, gimana dong?” kata mbak Reni sedikit panik.
”Maaf ya, kukira kamu mengerti…” dia sudah akan mencabut memeknya, tapi segera kutahan pinggulnya.
“Nggak apa-apa, mbak. Aku nggak akan cerita sama kakek.” kataku menenangkan.

Mbak Reni terdiam, seperti masih berusaha mencerna kata-kataku. ”Beneran ya?” ia bertanya memastikan.
”Iya, mbak. Asal mbak mau beginian terus sama aku.” kataku dari balik bantal.
Selama dia tdk menyuruh, aku akan tetap bersembunyi.
“Baiklah, mbak juga sudah tanggung. Mbak pinjam sebentar inimu ya?” katanya sambil memegangi k0ntolku yg kini cuma kepalanya saja yg masih menancap.
”Iya, mbak.” sahutku dengan senang hati.

Akhirnya mbak Reni pun melanjutkan gerakan naik turunnya di atas batang kontolku, hingga tak lama kemudian, aku kembali memuntahkan cairan kental ke dalam memeknya.
”Terima kasih ya,” dia mencium pipiku dan kembali merapikan pakiannya.
”Sama-sama, mbak.” Aku yg kelelahan, dengan tetap telanjang, terlelap tak lama kemudian.

Sejak itu, sesekali, jika mbak Reni lagi pingin, dia suka berbisik;
”Boleh pinjam nggak?” Atau jika aku yg pingin, aku terkadang berkata,
”Mbak, kayaknya sesek.” itulah kode yg kami sepakati.

Begitulah, hubungan terlarang kami terus terjalan. Bahkan kami seakan tak peduli tempat dan waktu, jika hasrat kami sudah tak terbendung, kami selalu berusaha menuntaskannya, kapanpun dan dimanapun. Bahkan pernah, di malam hari, mbak Reni masuk ke kamarku dan naik ke atas tubuhku, padahal saat itu kakek lagi ada di rumah. Nekat sekali dia, tapi aku juga tdk bisa menolak karena aku tahu kalau kakek sudah terlelap.
Yg lebih gila, pernah kusetubuhi mbak Reni di gubuk tengah ladang saat ia tengah mengantarkan makanan buat kakek. Sementara kakek mencangkul untuk membuat bedengan, kutindih istrinya yg masih nikmat dan cantik itu hanya dengan beralaskan tikar lusuh. Kakek sama sekali tdk curiga karena matanya memang sudah sangat rabun, ia tdk bisa melihat jelas ke gubuk dimana kami berada.
Sering juga saat kakek nonton teve di ruang tengah, kuseret mbak Reni ke dapur. Hanya dengan bertumpu pada meja, kutusuk tubuh sintalnya dari belakang. Mbak Reni berusaha menutupi mulutnya dengan tangan agar rintihan dan teriakannya tdk sampai terdengar oleh kakek. Tapi aku yakin itu tdk akan terjadi karena kakek juga sedikit tuli.
Tapi selama kami bercinta dan bersetubuh, aku dan mbak Reni tdk pernah melakukan kontak lain selain pertautan alat kelamin kami. Aku tak pernah mencium bibirnya, juga meraba tubuh sintalnya. Paling banter aku cuma sedikit memeluknya kalau sudah konak banget. Jika lagi pingin, aku biasanya langsung menusukkan kontolku ke memek mbak Reni tanpa melakukan foreplay atau pemanasan terlebih dahulu. Gairah kami yg meluap-luap sudah cukup untuk membuat memek mbak Reni jadi basah dan lengket.
Jika mbak Reni yg pingin, biasanya dia meremas-remas dulu batang k0ntolku, baru memasukkannya ke dalam lubang kenikmatannya. Sesekali aku memang kadang meremas payudara montok milik mbak Reni disela-sela genjotan kontolku, tapi tak pernah lebih dari itu. Bahkan melihat bagaimana warna dan bentuknya saja, aku juga tdk pernah. Bagiku yg penting kontolku bertemu dengan memeknya, itu sudah lebih dari cukup.
Sungguh, walau diperlakukan begitu, aku tetap puas. Begitu juga dengan mbak Reni. Jika aku datang, menusukkan kontolku, dan pergi meninggalkannya jika sudah usai, baginya itu sudah merupakan hal yg paling nikmat. Rupanya setelah hampir setahun tak pernah merasakan kepuasan dari kakek, ia jadi gampangan seperti itu. Tapi untungnya ada aku yg siap memuaskannya sewaktu-waktu, hingga disela-sela kesepiannya, dan kesepian di kampungku, mbak Reni tetap bisa meraih kenikmatan ragawi dan berpacu di malam-malam gelap dan sunyi bersamaku.

No comments:

Post a Comment