Thursday, June 9, 2016

Cerita Sex Gelora Cinta 2 Remaja


“Krrrriiiinnnnggggg…!!!”.
Agen Judi Online Terbaik   Cerita Sex Terbaru | Suara jam weker berdering dengan kencang di seluruh ruangan kamar. Seorang gadis berparas cantik nampak dengan malas menjulurkan tangannya dan menekan tombol di atas jam tersebut sehingga kemudian berhenti berdering. Pelan-pelan kemudian tangan gadis itu menggapai-gapai sampai akhirnya ia bisa menggenggam jam weker tersebut. Dengan berat gadis itu mulai membuka matanya dan mencoba melihat waktu yg ditunjukkan oleh jam weker digenggaman tangannya.
“Waaaahh… telaaat…!!!”.
Cerita Ngentot | Gadis itu langsung berteriak histeris, melempar selimut yg tadi menyelimuti tubuhnya dan langsung meloncat turun dari atas ranjang. Rupanya kemarin malam si gadis lupa men-set kembali jam wekernya. Tanpa mempedulikan keadaan tubuhnya yg hanya tertutupi oleh tank top berwarna biru muda dan celana dalam berwarna putih, gadis itu langsung menyambar handuk dan bergegas berlari menuju ke kamar mandi. Melihat gundukan kecil di balik tank top tersebut, terlihat sekali kalau gadis itu tdk mengenakan bra dibaliknya. Gadis itu adalah Erika dan suasana kekacauan seperti ini memang sudah hampir menjadi kebiasaannya setiap pagi.
Begitu sampai di depan pintu kamar mandi, ternyata kamar mandi itu dalam keadaan tertutup. Rika langsung menggedor-gedor pintu tersebut.
“Siapa sih di dalem…?!”.
“Sabar… sabar… dikit lagi nih…”, terdengar suara laki-laki dari dalam kamar mandi.

Mendengar suara itu Rika tahu kalau yg ada di dalam adalah kakaknya, Bagas.
“Buruan Kak, adek terlambat nih!”, Rika kembali menggedor-gedor pintu kamar mandi.
“Iya… iya… ini juga mau keluar, sabar dong!”.

Sedetik kemudian pintu kamar mandi terbuka. Dari dalam keluarlah seorang laki-laki muda dengan perawakan tinggi tegap. Rambutnya dipotong cepak. Laki-laki itu memang adalah Bagas, kakak kandung Rika. Laki-laki itu saat ini sedang kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di kota tersebut. Rika memang hanya bersaudara dua orang saja. Namun walaupun bersaudara, kadangkala memang keduanya kerap seperti kucing dan anjing jika sudah bertemu. Terlihat kalau tadi Bagas baru saja selesai mandi karena tubuhnya kini hanya tertutupi handuk berwarna biru dari bagian pinggang ke bawah.
“Bawel amat sih?”.
“Kakak sih lama banget…”.
“Lagian ngapain sih teriak-teriak kayak orang kesetanan gitu pagi-pagi?”.
“Adek telat nih”.
“Makanya belajar bangun pagi dong”.
“Kakak juga nih kok tumben make kamar mandi yg ini? Biasanya juga make yg dibawah”.
“Yg dibawah kan lagi dipake mama tadi, tau nggak?”, Bagas mentoel jidat adiknya tersebut.
“Tapi ini kan kamar mandi adek?”.
“Ah? Sejak kapan ini kamar mandi ada namanya lu?”.
“Udah ah, males bertengkar pagi-pagi…”, Rika pun langsung beranjak masuk ke dalam kamar mandi.

Namun baru beberapa langkah melewati kakaknya, Rika merasakan sebuah remasan di pantatnya yg kini hanya tertutupi celana dalam.
“Eh pelecehan tuh!”, gadis cantik itu berteriak.
Bagas hanya cengengesan.
“Lumayan pagi-pagi dapet pantat montok hehehe”.
Rika mengerutkan keningnya kesal. Begitu hendak menutup pintu kamar mandi, dengan cepat tangannya menarik handuk yg dikenakan oleh sang kakak hingga lipatannya terlepas. Beruntung Bagas dapat dengan sigap segera menarik handuk tersebut sebelum terjatuh ke lantai, kalau tdk tentunya dalam sekejap ia akan berada dalam keadaan telanjang bulat.
“Sialan…!”.
“Week… rasain tuh!”, Rika menjulurkan lidahnya dan langsung membanting pintu kamar mandi dengan keras.
Rika hanya berada beberapa menit di dalam kamar mandi sebelum ia kembali keluar dalam keadaan tubuh basah kuyup dan dengan tubuh yg hanya tertutupi sepotong handuk. Gadis cantik itu langsung berlari masuk ke dalam kamarnya. Di dalam kamar ia juga hanya berada beberapa menit sebelum akhirnya keluar dengan pakaian seragam lengkap yg terlihat sekali dikenakan dengan terburu-buru. Sambil berlarian menuruni tangga rumahnya, gadis cantik itu terlihat kesusahan menenteng tas sekolah di pundaknya berikut dengan sepatu di tangan kirinya. Rika melihat di meja makan sudah ada papa, mama dan juga kakaknya yg sedang menikmati sarapan.
“Ma… Pa… adek berangkat langsung ya…”, Rika dengan cepat mencium pipi mamanya dan kemudian bergantian di pipi papanya.
“Adek, sarapan dulu gih…”.
“Ntar aja di sekolah Ma…”, sambil berlari Rika menyambar sebuah roti tawar yg baru saja selesai dioleskan selai nanas dari tangan kakaknya. Bagas pun langsung melotot ke arah sang adik.

Kembali Rika menjulurkan lidahnya ke arah laki-laki tersebut untuk kedua kalinya di pagi ini.
“Daaa… semua…”.
Gadis cantik itu melambai dan terus berlarian menuju pintu keluar. Ketiga anggota keluarga lainnya hanya bisa menggeleng-geleng melihat tingkah Rika tadi. Mereka sebenarnya sudah terbiasa dengan tingkah sang gadis karena hampir selalu terulang setiap kali pagi tiba. Namun tetap saja mereka heran melihat sifat Rika yg tak juga kunjung berubah, tetap seperti anak-anak meskipun usianya kini sudah menginjak 17 tahun.
“Pak Yayan… buruan dong telat nih!”, Rika berteriak ke arah sopirnya yg masih terlihat duduk santai di pinggir taman sambil merokok.
“Eh iya Non”, buru-buru laki-laki paruh baya itu melempar rokoknya ke tanah, menginjaknya dan buru-buru masuk ke dalam mobil.

Laki-laki desa yg bernama Yayan itu baru bekerja di rumah Rika selama 6 bulan sebagai sopir. Tugas utamanya memang adalah mengantarkan anggota keluarga Rika, terutama Rika dan juga mamanya yg belum begitu mahir mengendarai mobil. Setiap pagi memang tdk hanya keluarga si gadis cantik yg mengalami shock terapi, Pak Yayan pun kerap harus rela menerima teriakan-teriakan Rika setiap pagi. Namun sebagai seorang sopir merangkap tukang kebun, ia sadar kalau ini merupakan salah satu resiko tugas yg harus dijalaninya.
“Ngebut ya Pak kayak kemarin…”.
“Iya… iya Non”. Laki-laki paruh baya itu langsung menancap gas dan dalam waktu hitungan detik mobil itu sudah melaju kencang meninggalkan areal rumah.

Di bangku belakang mobil, Rika nampak sibuk mengenakan kaos kaki dan sepatunya. Selain itu, kini mulut gadis cantik itu juga terlihat sibuk mengunyah roti yg tadi sempat direbutnya dari sang kakak. Tanpa disadarinya, dari tadi sepasang mata terus memperhatikan setiap gerakan yg dilakukannya. Wajah cantik, sikap yg supel serta lekuk tubuh yg proporsional tentunya memberikan daya tarik seksual yg luar biasa bagi siapapun yg melihat sosok Rika, termasuk Pak Yayan sendiri.
Diam-diam laki-laki paruh baya itu memang kerap mencuri-curi kesempatan memperhatikan tingkah anak majikannya tersebut sambil berfantasi mesum. Namun melihat statusnya yg hanya jongos semua itu tentunya hanya sebatas fantasi nakal dari seorang laki-laki normal, tdk lebih.
“Cleguk!”, Pak Yayan menelan ludah ketika matanya menangkap celah yg terlihat beberapa kali diantara kedua paha sang gadis cantik ketika ia sibuk mengenakan kaos kaki dan juga sepatunya.
Bayg-bayg nakal tentang apa yg kira-kira ada di balik rok abu-abu itu langsung berkelebat dalam otaknya dan berubah menjadi fantasi mesum. Sebuah selangkangan gadis remaja yg masih muda dan cantik, sebuah mimpi yg begitu sempurna apabila semuanya bisa menjadi nyata. Syukur saat ini mobil sedang berhenti di depan lampu lalu lintas yg menyala merah, kalau tdk tentunya akan sangat berbahaya berkendara dalam keadaan membagi konsentrasi antara tangan, kaki dan selangkangan sekaligus.
“Pak, udah hijau tuh!”, Rika berteriak dari belakang sambil mengikat tali sepatunya.
Suara klakson dari beberapa kendaraan yg ada dibelakang mereka pun mulai terdengar bersaut-sautan.
“Eh… eh… maaf Non”, laki-laki paruh baya itu tersentak dari lamunan mesumnya dan langsung menginjak gas.
Kembali mobil melaju dengan kencang. Dengan kecepatan tinggi seperti itu maka tak perlu waktu lama akhirnya mereka pun sampai di depan gedung sekolah Rika. Beberapa murid sudah nampak berlarian masuk ke dalam sekolah, karena satpam sekolah kini sudah berada di depan gerbang bersiap-siap untuk menutup gerbang. Melihat hal itu Rika langsung menyambar tas sekolahnya dan buru-buru keluar dari mobil.
“Pak, nanti nggak usah dijemput saya naik taxi aja”, Rika berteriak sambil berlari.
Pak Yayan hanya bisa mengangguk, sambil menatap nanar ke arah sang gadis majikan yg mulai terlihat menjauh. Rika terus berlari agar ia bisa tiba di depan gerbang sebelum gerbang itu sepenuhnya tertutup.
“Tunggu Pak, tunggu…!!”.
Rika akhirnya bisa masuk ke dalam areal sekolah dengan susah payah. Beberapa langkah dari gerbang, gadis cantik itu terpaksa berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya yg terlihat tersengal-sengal hebat. Beberapa kali Rika sampai harus menarik nafas panjang, agar denyut jantungnya bisa kembali berdetak normal. Lumayan juga kalau dihitung-hitung sebagai olah raga jika setiap pagi ia harus berlarian terus seperti ini.
“Telat lagi Non Rika?”, terdengar suara dari belakang.
Rika menoleh dan melihat si satpam sekolah sedang berdiri di belakangnya.
“Eh iya Pak Suep, telat bangun lagi nih”.
“Emang siapa yg ngisi jam pertama Non?”.
“Bu Meri Pak”.
“Waduh… kayaknya Non musti buru-buru masuk kelas, abis Bu Meri udah dari tadi tuh ada di dalam kelas”.
“Masa Pak?”, nada suara Rika meninggi.

Satpam yg dipanggil oleh Rika dengan sebutan Suep itu mengangguk. Tanpa tedeng aling-aling Rika langsung kembali mengambil langkah seribu meninggalkan sang satpam yg hanya bisa melongo menatap kepergiannya.
“Permisi Bu…”, Rika berusaha berucap sesopan mungkin setibanya ia di depan kelas.
Nafasnya masih terlihat tersengal-sengal setelah tadi ia harus kembali berlarian.
“Kamu lagi Rika, kenapa sih selalu kamu terus yg datang terlambat setiap kelas saya?”, Bu Meri memandang wajah Rika dalam-dalam dengan posisi kaca mata yg sedikit turun dari hidungnya.
Guru Fisika yg memang terkenal killer itu kemudian membenarkan posisi kaca matanya.
“Maaf Bu, tadi saya bangun kesiangan lagi…”, suara Rika terdengar memelas.
“Pokoknya ini peringatan terakhir, kalau kamu datang terlambat lagi mending kamu tdk usah masuk kelas saya sekalian!”, dahi dan alis mata Bu Meri kini terlihat berkerut.
“I… iya Bu…”, Rika menundukkan kepalanya berusaha menghindari tatapan tajam mata Bu Meri ke arahnya.
“Ya sudah masuk dan cepat duduk!”.
“Ma… makasi Bu”.

Dengan lutut gemetar Rika melangkah masuk ke dalam kelas. Teman-teman sekelasnya nampak sedang mencatat apa yg ditulis di papan oleh Bu Meri. Sama sekali mereka terlihat tdk terganggu dengan kedatangan Rika. Mereka rupanya juga sudah terbiasa melihat Rika yg selalu datang terlambat setiap paginya. Mungkin malah justru kalau Rika datang kepagian yg mungkin akan membuat mereka terheran-heran. Dengan segera gadis cantik itu menghempaskan pantatnya tepat di samping Vina. Mereka berdua memang sekelas dan duduk sebangku. Sedangkan Karen dan Hanny berada di kelas sebelah.
“Telat lagi Jeng?”, tanya Vina tanpa menoleh dan terus melanjutkan mencatat.
“Hehehe…”, Rika hanya cengengesan.

Vina lalu menghentikan kegiatan mencatatnya dan memandang tajam ke arah sahabatnya itu.
“Kemana lu kemarin?”, sebuah pertanyaan singkat namun begitu menusuk.
Rika tdk menjawab. Ia memalingkan pandangannya dan mulai mengeluarkan buku-buku dan alat tulis dari dalam tasnya.
“Gue, Karen ama Hanny kemarin takut setengah mati waktu lu pergi begitu aja ama tu om-om!”, Vina melanjutkan kata-katanyasambil berbisik.
Walau berbisik namun nada suara gadis terdengar begitu tegas dan penuh emosi.
Sekilas Rika kemudian melirik ke depan kelas. Bu Meri nampak masih sibuk menulis di papan tulis. Gadis cantik itu pun lalu memoleh kembali ke arah Vina dan berbisik, “Ntar deh waktu istirahat gue ceritanya”.
“Nggak bisa! Lu musti cerita sekarang, kemarin kita bertiga nelponin HP lu tapi off terus, sumpah kita khawatir banget kalo terjadi apa-apa ama lu…”.
“Maaf deh, bukan maksud gue bikin lu-lu semua khawatir…”.
“Makanya lu cerita sekarang!”.
“Ntar aja deh…”.
“Rik…!”, Vina berbisik gemas melihat sahabatnya yg terus berusaha mengelak untuk menjawab pertanyaannya.

Rupanya suara bisikan kedua gadis itu sampai ke telinga Bu Meri, karena tak lama kemudian terdengar suara teriakan dari depan kelas.
“Vina… Rika… kalau mau ngobrol di luar saja!!”.
“Maaf Bu…”, keduanya berucap hampir bersamaan.

Kedua gadis itu pun kemudian melanjutkan aktifitas mencatatnya. Mereka pun tak lagi mengeluarkan sepatah kata apa pun selama jam pelajaran Bu Meri berlangsung. Mereka cukup sadar kalau setelah peringatan pertama dari Bu Meri tadi, maka peringatan berikutnya berarti mereka harus rela meninggalkan kelas.
“Sekarang lu musti cerita ke kita-kita!!!”, kali ini Vina bisa berteriak tanpa perlu berbisik lagi.
“Iya, sebelum lu cerita semuanya ke kita lu nggak boleh pulang!”, Karen menambahkan kata-kata Vina tadi dengan sedikit bumbu ancaman.

Kini di depan Rika duduk tiga sahabatnya dengan ekspresi penuh keseriusan yg luar biasa. Tatapan mereka begitu tajam seperti tiga orang hakim yg sedang menyidangkan seorang terdakwa di persidangan. Bagaimana tdk emosi, hampir selama jam sekolah tadi ketiga gadis cantik itu bergantian menanyai Rika namun si “terdakwa” selalu berusaha menghindar. Kini setelah jam pelajaran terakhir selesai, Rika langsung ditarik oleh ketiganya menuju kantin. Di tempat itu kini hanya ada mereka bertiga dan beberapa siswa lain yg terlihat bergantian lalu lalang untuk sekedar membeli camilan sambil menunggu jemputan.
“Kemarin gue pergi ama tu om-om balik ke mall…”, Rika mulai mengarang cerita.
Tentunya ia tak ingin menceritakan hal yg sebenarnya kalau kemarin dirinya telah menjual diri ke om-om yg mereka temui di café.
“Ah? Ngapain?”, tanya Vina penuh selidik.
“Tu om-om kan punya anak seumuran gue, nah dia mau beliin anaknya itu hadiah ulang tahun jadi dia minta gue buat nganterin”.
“Wah boong banget sih lu! Menurut gue cerita lu tu sama sekali nggak masuk akal, masa lu mau gitu aja pergi ama tu om-om cuma dengan alasan seperti itu?”, Karen langsung menghardik.
“Sabar dong Ren, kan Rika belum selesai cerita…”, Hanny berusaha menenangkan Karen yg terlihat mulai naik pitam.
“Abis ni anak kemarin main pergi gitu aja sih, lu tau nggak Rik? Nyokap lu kemarin nelpon gue, akhirnya gue musti ngelakuin dosa besar dengan berbohong ke nyokap lu!”.
“Ren, please… tenang dulu dong”, kembali Hanny harus menenangkan Karen.
“Maaf banget girls, gue bener-bener nggak tau kalau tindakan gue kemarin jadi bikin lu semua kerepotan, gue janji gue nggak bakal ngulangin lagi deh”, ucap Rika penuh sesal.
“Tapi yg lu ceritain itu bener kan?”, Vina kembali bertanya.
“Iya bener!”.

Dalam hati Rika benar-benar menyesal harus berbohong kepada teman-temannya. Namun ia tentu tdk bisa berterus terang karena hal itu justru akan membuat keadaan menjadi lebih parah. Dengan begini paling tdk hanya dirinya sendirilah yg tahu apa yg sebenarnya terjadi kemarin siang dan ia tdk perlu merepotkan teman-temannya untuk ikut menutupi kebenaran tersebut. cerita sex
“Kok lu mau sih pergi ama tu om-om?”, kini giliran Hanny yg berkomentar.
“Habis ongkos nganternya gede banget sih”.
“Maksud lu?”.
“Masa gue cuma nganter tu om-om beli hadiah sekitar satu jam, gue dibayar 300 ribu”.
“Sumpeh lu?!”, ucap Karen tak percaya.
“Iya bener!”.

Kali ini paling tdk Rika tdk berbohong karena memang benar kalau kemarin si om memberikannya ongkos atas “service”-nya. Namun tentunya jumlah uang yg disebutkan oleh Rika tadi terlalu kecil jika dibandingkan dengan ongkos sebenarnya yg dia peroleh dari hasil menjual kehangatan tubuhnya.
“Wah enak dong, kalo cuma gitu doang gue juga mau hehehe…”.
Rika hanya tersenyum kecil mendengar komentar Karen.
“Tapi lu beneran nggak diapa-apain kan ama tu om-om?”, tambah Hanny.
“Nggak Han, gue nggak diapa-apain kok!”, kembali Rika musti berbohong.
“Ok, kita terima deh alasan lu, tapi bener apa nggak alasan yg lu ceritain ke kita sekarang, lu tetep salah karena lu bikin kita semua khawatir setengah mati”, ujar Vina.
“Iya Vin, lain kali gue nggak bakal ngulangin lagi deh”. Rika kemudian memegang tangan ketiga sahabatnya.
“Maafin gue ya girls…”.

Sekilas Karen, Vina dan Hanny saling berpandangan dan kemudian tersenyum ke arah Rika.
“Ok, kita maafin lu”, Vina berkata mewakili dua sahabatnya yg lain.
Rika kembali tersenyum manis. Paling tdk kini hubungan mereka masih tetap terjaga, walaupun ia cukup menyesal harus berbohong kepada ketiga sahabat baiknya tersebut.
“Aduh Vin, gue bete banget nih soalnya ntar sore kita musti dapet pelajaran tambahan”, Rika berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
Walaupun tadi sebenarnya sahabat-sahabatnya sudah mempercayai cerita karangannya, namun tentu akan sangat berbahaya apabila salah satu dari mereka tiba-tiba kembali mengungkit-ungkit kejadian kemarin. Terlalu banyak mengucapkan kebohongan, gadis cantik itu merasa takut kalau alasan-alasan yg dikemukakannya nanti justru kian menjadi tdk masuk akal. Lagi pula Rika sudah menganggap kalau kejadian kemarin hanyalah bentuk keisengan semata akibat rasa kesal yg berkecambuk dalam dirinya waktu itu. Walaupun ia juga harus mengakui kalau kejadian kemarin cukup memuaskan sisi liarnya yg bergejolak.
“Iya nih, gue juga kesel!”.
“Emang pelajaran apa?”, tanya Karen.
“Matematikanya Pak Santoso”, sahut Vina.
“Kacian, artinya kalian nggak bisa pulang dong?”.
“Iya nih Ren…”, tambah Vina lagi.
“Eh sory gue balik duluan ya, cowok gue udah dateng nih”, tiba-tiba Hanny memotong percakapan ketiga sahabatnya yg lain.

Memang ponsel yg dipegang gadis cantik itu dari tadi terlihat bergetar beberapa kali menandakan sebuah panggilan masuk.
“Ceiee… yg makin mesra!”, goda Rika.
“Apaan sih?!”, Hanny tersipu malu.
“Udah buruan ntar cowok lu ngambek lagi tuh”, kini giliran Karen yg menggoda Hanny.

Hanny hanya tersenyum kecil mendengar kata-kata Karen. “Ampe besok ya…”, gadis cantik itu melambai, kemudian beranjak dari tempat duduknya dan berjalan pelan menuju ke gerbang depan sekolah. Tak lama ia pun telah menghilang dari balik gerbang.
“Serius kalian nggak mau pulang dulu?”, Selepas kepergian Hanny, Karen melanjutkan pertanyaannya kepada Rika dan Vina.
“Males ah, nanggung juga nih cuman lagi dua jam”, sahut Vina.
“Emang lu mau nunggu di sekolah?”.
“Nggak, gue mau ke kosan cowok gue bentar”.
“Wah mau ngapain tuh?”, kini Rika yg bertanya penuh selidik sambil tersenyum.
“Nggak ngapa-ngapain kok, cuma kangen aja abis udah lama nggak ketemu sih hehehe…”.
“Jangan macem-macem ya Vin, kata nenek itu berbahaya lo hehehe…”.
“Apaan sih lu Rik, emang gue kayak lu muka mupengan? Hehehe…”.
“Ye biarin yg penting cantik…!!”, sahut Rika cuek. Vina hanya tersenyum melihat ekspresi wajah Rika saat itu.

Melihat kalau semua sahabatnya akan meninggalkan sekolah, Rika kemudian mendekati Karen. “Kalo gitu lu anter gue ke warung depan ya Ren, daripada gue nunggu di sekolah sendirian mending gue ngobrol ama cowok-cowok disana”.
“Loh ngapain nggak lu sendirian aja yg kesana?”.
“Abis gue takut nih Ren, ntar Bimo nungguin gue lagi di depan sekolah, kalo ada lu kan semuanya aman soalnya lu kan bodyguard gue hehehe…”.
“Dasar kampret…!! Sejak kapan lu gaji gue jadi satpam?”.

Rika hanya cekikikan mendengar protes sahabatnya itu. Memang soal urusan saling ejek Rika dan Karen memang bak sepasang musuh bebuyutan. Rika senang sekali menggoda Karen, seolah-olah membuat Karen kesal membawa sensasi kegembiraan tersendiri bagi dirinya.
“Iya iya maaf”, Rika langsung memeluk tubuh Rika dan mendaratkan sebuah kecupan di pipi sahabatnya tersebut.
“Eh ngapain lu pake acara nyium-nyium gue?”, kembali terdengar protes keluar dari mulut Karen.
“Uppss… sory abis keseringan ngeliat chasing lu kadang gue suka lupa kalo lu ni cewek hehehe…”.
“Wih ngajak berantem lagi ni anak”, Karen langsung mengejar Rika yg sudah terlebih dahulu beranjak dari tempat duduknya.

Mereka pun berkejar-kejaran disekitar areal kantin yg mulai nampak sunyi. Hanya suara tawa dan teriakan Rika yg sedang dikejar oleh Karen yg terdengar memenuhi areal kantin tersebut. Vina hanya bisa menggeleng-geleng melihat tingkah keduanya.
“Aaaoo…!!”, Rika berteriak ketika Karen berhasil memegang rok yg dipakainya dan mengangkatnya.
Ketika rok abu-abu pendek itu terangkat, celana dalam merah muda yg dipakai Rika sekilas menjadi sedikit terekspos. Buru-buru gadis cantik itu menepis tangan Karen sebelum apa yg ada di balik roknya mejadi semakin jelas terlihat. Rika pun kemudian kembali berlari menghindari kejaran Karen.
“Ampun… ampun Ren, ampun…!!”, Rika merangsek di punggung Vina dan menggunakan sahabatnya itu sebagai tameng pelindung dari serangan Karen.
Vina sendiri nampak kebingungan karena kini justru dirinya yg terkena cubitan demi cubitan yg dilancarkan Karen.
“Udah ah kalian ini, kayak anak kecil aja!”, teriak Vina berusaha menghentikan tingkah kedua sahabatnya tersebut.
Dari balik punggung Vina, Rika langsung mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V. “Peace Ren… peace… hehehe…”.
“Awas lu ya, ntar gue bales lu!”.
“Weeks…”, Rika menjulurkan lidahnya.
“Udah dong…”, Vina membalikkan tubuhnya dan mengerutkan dahi ke arah Rika.

Melihat Karen yg mulai tenang, berlahan Rika keluar dari persembunyiannya di balik punggung Vina. Gadis cantik itu lalu memegang tangan Karen. “Maafin gue ya”, ucapnya merajuk ditambah sebuah senyuman manis.
Karen hanya mengangguk pelan.
“Mau kan nganterin gue?”, kembali Rika merajuk.
“Ok deh… tapi abis itu gue langsung cabut ya”, sahut Karen ketus.

Rupanya masih tersisa sedikit rasa kesal di dalam dirinya.
“Siip… yuk!!”, sahut Rika sambil merangkul tangan sahabatnya itu.
Mereka bertiga pun kemudian beranjak dari areal kantin. Di tempat parkir yg berada di depan sekolah Karen sudah duduk di atas motor matic-nya yg telah menyala. Setelah Karen selesai mengenakan helm, Rika kemudian menyusul naik ke atas motor dengan gaya berboncengan seperti cowok.
“Ampe nanti sore Vin… salam ama Reza ya!”, Rika melambai ke arah Vina ketika Karen mulai memutar knop gas motornya.
Vina pun melambai ke arah kedua sahabatnya tersebut. Setelah mereka berdua mulai terlihat menjauh, gadis cantik itu lalu berjalan menuju mobil picanto miliknya yg terparkir tak jauh dari tempat itu.
Vina
Mobil picanto hitam yg dikendarai Vina kini terlihat memasuki sebuah areal kos-kosan yg berlokasi tak jauh dari sekolahnya. Kos-kosan tersebut memiliki areal halaman yg sangat luas, bangunannya pun berlantai dua. Dari bentuk bangunan dan keasrian halamannya terlihat sekali kalau biaya sewa perbulan kos-kosan itu pastilah sangat mahal. Setelah memarkir mobilnya dengan rapi, gadis cantik itu keluar dari dalam mobil.
Melihat seorang gadis cantik berbalut seragam putih abu-abu turun dari mobil, dua orang laki-laki yg kebetulan sedang duduk di depan sebuah kamar menatap nanar ke arah Vina. Kedua pemuda yg semula sedang menyanyikan lagu diiringin alunan gitar, menghentikan kegiatan mereka. Vina kemudian berjalan mendekati kedua orang pemuda tersebut.
“Eh Vina kirain siapa, nyari Reza ya?”, sapa seorang pemuda yg sedang memegang gitar.
“Iya nih Mas Yudi, Rezanya ada nggak ya?”.
“Ada tuh dia di atas, baru aja balik tadi”.

Pemuda itu adalah teman satu kos, Reza kekasihnya. Sedangkan satu lagi Vina tdk mengenalnya. Yudi juga seperti halnya Reza adalah seorang mahasiswa tingkat pertama. Vina memang cukup mengenal orang-orang di kosan ini karena memang ia pernah beberapa kali datang ke kosan Reza dan dikenalkan kepada mereka.
“Kok sepi sih Mas?”.
“Iya nih, mungkin pada ngambil kuliah tambahan kali”.
“O gitu, kalo gitu Vina ke atas dulu ya”.
“Iya deh Vin”.

Vina lalu berjalan menuju tangga. Ketika gadis cantik itu melangkahkan kakinya menaiki satu per satu anak tangga, tanpa disadarinya kedua mahasiswa yg tadi disapanya sedikit menundukkan tubuh mereka. Rupanya keduanya sedikit jail berusaha mengintip rok abu-abu si gadis yg memang berukuran sangat pendek. Semakin tinggi anak tangga yg dipijak oleh Vina memang semakin besar peluang bagi mereka untuk melihat isi di dalam rok gadis cantik tersebut.
Apalagi keadaan siang itu yg memang sedikit berangin, sehingga membuat rok Vina melambai-lambai terkena angin.
Entah diantara mereka ada yg berhasil melihat apa yg ada di balik rok gadis cantik itu, yg jelas kini mereka nampak saling melempar senyuman mesum. Paling tdk pemandangan sepasang betis dan paha mulus milik Vina sudah cukup memuaskan mata nakal mereka.
Ketika Vina sampai di depan kamar Reza pacarnya, dari bawah kembali terdengar suara lantunan lagu diiringi suara alunan gitar. Gadis cantik itu kemudian mengetuk pintu kamar kos kekasihnya tersebut.
“Rez… kamu di dalem nggak?”, teriak Vina pelan setelah beberapa kali mengetuk dan belum juga ada yg membukakan pintu.
“Sebentar Vin…”, terdengar suara dari dalam kamar.

Beberapa saat kemudian pintu pun terbuka dan terlihatlah seorang pemuda yg sedang mengenakan baju kaos.
“Sory… sory… tadi baru abis mandi abis gerah banget nih”.
“Nggak apa-apa kok”, Vina tersenyum manis.
“Eh masuk yuk!”.

Setelah melepaskan sepatu dan kaos kakinya, Vina kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar kos kekasihnya. Gadis cantik itu menyapu pandangannya ke sekitar ruangan. Kali ini kamar tersebut terlihat lebih rapi jika dibandingkan terakhir kali ia berkunjung. Baju-baju dan celana sudah tdk lagi berserakan di atas ranjang. Botol parfum serta keperluan laki-laki lainnya tdk lagi berserakan di atas meja. Ranjang juga sudah terlihat rapi dan sprei pun terlihat bersih dan licin. Aroma wangi pun tercium hampir di pelosok kamar, tak seperti dulu dimana aroma apek dan debu yg justru tercium begitu menyengat. Vina tersenyum dalam hatinya, paling tdk upayanya memarahi dan membantu Reza membersihkan kamar beberapa hari yg lalu berhasil dengan sukses.
“Kenapa Vin?”, Reza sedikit heran melihat kekasihnya yg berdiri mematung.
“Udah rapi ya sekarang?”.
“Hehehe… iya nih”, laki-laki muda itu mengusap-usap rambutnya yg masih terlihat basah.

Wajahnya terlihat memerah mendengar sindiran kekasihnya tersebut.
“Gini kan bagus, rapi nggak urakan kayak dulu”.
“Iya, abis sekarang kan sudah ada sih tukang ngomelin kalo jorok hehehe…”.

Vina hanya tersenyum mendengar kata-kata Reza.
“Nih aku bawain makanan”, Vina mengacungkan sebuah plastik kecil berisi dua buah bungkusan dan dua botol minuman.
“Makasi ya”, Reza mengambil plastik tersebut dan kemudian berjalan ke sudut ruangan kamar dimana ia meletakkan alat-alat makan.
“Kok main kesini nggak bilang-bilang sih?”.
“Iya nih, abis ntar sore ada pelajaran tambahan di sekolah terus males pulang, temen-temen juga pada ada urusan jadi akhirnya mutusin main kesini, nggak boleh ya?”.

Vina kini terlihat duduk di atas ranjang, sambil membuka-buka halaman majalah yg tadinya tergeletak disana.
“Yee… kok ngomongnya gitu sih? Jelas boleh dong, masa ada cewek cantik main kesini nggak boleh sih? Hehehe…”.
“Ih, gombal!”, Vina tersenyum simpul.
“Ye siapa yg gombal? Beneran kok!”.

Reza kemudian datang sambil menenteng dua buah piring berisi dua bungkusan nasi yg telah terbuka. Ia meletakkan kedua piring itu di lantai yg sudah beralaskan karpet. Kemudian ia kembali untuk mengambil dua buah gelas berisi minuman sejenis es teh dan meletakkannya bersama kedua piring yg tadi telah ditaruhnya terlebih dahulu.
“Ayo dong makan dulu, katanya tadi harus balik ke sekolah lagi?”.
“Iya”, Vina meletakkan majalah di tangannya dan menyusul kekasihnya duduk di lantai.

Ketika gadis cantik itu hendak duduk ia nampak kesulitan menentukan posisi duduknya. Memang dengan mengenakan rok sependek yg dikenakan Vina saat ini, akan agak sulit untuk mengambil posisi duduk lesehan.
“Udah duduk aja, takut keliatan ya? Hehehe…”.
Wajah Vina memerah mendengar kata-kata Reza. Ia kemudian hanya tersenyum kecil dan memutuskan untuk duduk dengan posisi bersimpuh.
“Pakai yg warna putih ya?”, kembali Reza menggoda Vina.
“Apaan sih!!”, Vina memukul pundak Reza.

Wajah cantiknya menjadi semakin memerah. Rupanya walau sudah sangat berhati-hati mengambil posisi duduk, ternyata masih tersedia cukup celah diantara kedua kakinya sehingga sang kekasih sempat melihat celana dalam yg dipakainya.
“Aaoo… sakit tau”, Reza memekik dibuat-buat.
“Makanya duduk disini dong, jangan jauh-jauh biar aman”. Laki-laki itu menepuk-nepuk lantai di samping tempatnya duduk.

Vina lalu menggeser posisi duduknya sehingga kini mereka berdua duduk berdampingan.
“Nah gitu dong… sekarang makan gih”.
“Hhhmm… suapin…”, Vina merengek manja.
“Ih udah gede minta disuapin hehehe…”.
“Biarin… pengen disuapin”, kini gadis cantik itu menggelayut manja memeluk pinggang sang kekasih.
“Iya deh… mana mulutnya sayang, dibuka dong… aaaa…”.

Vina tersenyum melihat gaya kekasihnya yg bak seorang babysitter sedang mengasuh bayi. Ia lalu membuka mulutnya dan dengan perlahan Reza menyuapkan sesendok nasi lengkap dengan lauknya ke dalam mulutnya.
Setelah beberapa suapan nasi masuk ke dalam mulutnya, kembali Vina merajuk manja. “Aaa… pedes… sambelnya jangan banyak-banyak”.
“Iiih… ni anak kok jadi manja gini sih?!”.
Reza lalu mengambil gelas berisi es teh dan menyodorkannya kepada kekasihnya.
“Hhhmm… minumin…”.
Laki-laki muda itu pun menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kekasihnya tiba-tiba bertingkah seperti anak kecil. Sedangkan Vina sendiri hanya tersenyum melihat ekspresi wajah sang kekasih. Reza pun mengalah dan dengan berlahan ia meminumkan gelas tersebut agar kekasihnya itu tdk sampai tersedak.
“Udah ah, aku makan sendiri aja kasihan kamu jadi nggak bisa makan hehehe…”.
“Dari tadi kek, kan nggak jadi ribet kayak gini?!!”, kembali Reza hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum simpul.
Vina cekikikan dan kemudian mengambil piring yg dipegang oleh kekasihnya. Mereka berdua pun lalu menikmati makanan mereka masing-masing. Vina sebenarnya bukanlah anak manja, namun ketika bersama Reza gadis cantik itu kerap menggoda kekasihnya itu dengan tingkahnya yg manja. Reza sendiri bisa memaklumi hal tersebut, karena memang kekasihnya ini adalah anak terakhir di keluarganya dan masih berusia sangat muda.
Namun dibalik sikap manjanya, gadis yg telah dipacarinya hampir setahun ini sebenarnya sangatlah mandiri dan dewasa. Hal inilah yg banyak merubah sikap Reza yg semula urakan, cuek dan hidup tak teratur menjadi berubah seratus delapan puluh derajat. Agaknya kedua remaja ini saling memberikan pengaruh positif bagi pasangan mereka masing-masing.
“Udah biar aku aja yg nyuci”.
Setelah mereka selesai makan, Vina neranjak berdiri dan merapikan piring, sendok dan gelas yg tadi mereka pakai. Reza tersenyum melihat tingkah laku sang kekasih. Dalam hati ia sangat berbangga hati sekaligus berbahagia bisa menjadikan Vina sebagai kekasihnya. Reza lalu ikut berdiri dan membantu Vina membuang kertas pembungkus nasi di tong sampah. Selesai itu reza mendekati Vina yg sedang mencuci piring dan gelas kemudian memeluk tubuh gadis itu dari belakang.
“Ngapain sih Rez, lagi sibuk nih!”, Vina protes ketika kekasihnya mulai menciumi leher dan pundaknya.
“Badan kamu wangi banget sih Vin”.
“Nyindir ya baru aku belum mandi?”.
“Ih beneran lo”, kini Reza menciumi rambut Vina yg kini sedang diikat kuncir kuda.
“Udah ah, ntar pecah lo”.
“Biarin aja, kan bisa beli lagi”.

Beruntung itu adalah piring terakhir yg harus dicucinya, karena begitu Vina menaruh piring tersebut Reza langsung menarik dirinya ke tengah kamar. Di sana kembali Reza memeluk tubuh Vina, namun kini dari depan. Beberapa detik kemudian sebuah ciuman mendarat di bibir gadis cantik tersebut dan setelahnya langsung berubah menjadi sebuah pagutan. Vina hanya bisa pasrah membiarkan kekasihnya itu melumat bibir mungilnya.
“Aaah… Rez, jangan ntar seragamnya lecek”, Vina mendesah pelan ketika tangan Reza mulai nakal meremas payudara kanannya.
Bukannya berhenti mendengar larangan Vina, Reza justru semakin gencar memagut bibir kekasihnya dan tetap meremasi payudaranya
“Rez, please… aku masih harus balik ke sekolah”.
Vina terpaksa harus menarik bibirnya dan memegang tangan Reza agar tdk melanjutkan remasannya.
“Aduh Vin, aku lagi pengen banget nih”.
“Waktunya mepet banget Rez, nggak bisa sekarang”.

Saat ini memang jam menunjukkan pukul dua sore kurang lima belas menit dan itu berarti satu jam lagi Vina harus kembali ke sekolah.
“Bentar aja Vin…”, suara Reza benar-benar terdengar memelas.
“Nggak bisa Rez”.
“Tolong banget Vin, kamu nggak mau kan ninggalin aku dalam keadaan kayak gini?”.
‘Tapi Rez…”.

Belum sempat Vina menyelesaikan kalimatnya, Reza sudah terlebih dahulu kembali memagut bibirnya. Kembali Vina hanya bisa pasrah merelakan bibirnya dilumat sang kekasih. Memang sudah hampir seminggu lebih mereka tdk bertemu, sehingga wajar kiranya kali ini Reza ingin sekedar melepas rasa kangen. Namun ketika kekasihnya hendak kembali melakukan remasan ke payudaranya, kembali Vina menghentikannya.
“Jangan…”, Vina mendesah pelan sambil memegangi tangan Reza.
“Di lepas aja ya?”.

Vina tdk menjawab. Agaknya di satu sisi Vina memang tdk keberatan untuk melayani kekasihnya yg sedang bergairah, apalagi melihat ekspresi memelas yg menghiasi wajah Reza saat ini. Namun di sisi lain ia tdk ingin seragamnya menjadi kusut akibat permainan mereka nanti. Tentunya akan menimbulkan kecurigaan dari teman-temannya ketika ia harus kembali ke sekolah dengan seragam kusut.
Merasa tdk mendapatkan persetujuan ataupun penolakan dari kekasihnya, Reza mengambil inisiatif membuka satu kancing hem putih yg dikenakan Vina. Merasa tetap tdk ada penolakan, secara berlahan laki-laki itu melanjutkan kembali membuka satu per satu kancing hem putih sang kekasih sampai kancing terakhir. Kemudian dengan cekatan Reza membuka hem tersebut dan meletakkannya dengan rapi di kursi. Tetap masih tdk ada penolakan dari Vina ketika Reza kemudian membuka kaos dalam berikut dengan bra berwarna putih yg dikenakannya. Agaknya kepasrahan Vina ini menunjukkan kalau jauh di dalam hatinya, ia memang menginginkan kekasihnya ini untuk melanjutkan perbuatannya.
Reza kemudian mendorong pelan tubuh Vina dan kemudian membaringkannya di ranjang. Laki-laki itu lalu meletakkan juga baju dalam dan bra kekasihnya di meja dengan rapi. Kemudian Reza membuka sendiri baju kaos yg dipakainya dan tersenyum melihat kekasihnya yg kini terbaring dalam keadaan setengah telanjang. Reza lalu merangkak naik ke atas ranjang dan kembali memagut bibir mungil Vina dengan lembut. Ciuman kemudian berlahan turun ke pipi, telinga, leher dan pundak sang gadis.
“Aaaahh… Rez…”, Vina kembali mendesah ketika puting payudara kirinya amblas ke dalam mulut Reza, sementara payudara kanannya sudah sepenuhnya berada dalam remasan tangan kekasinya.
Berlahan Vina mulai terbuai oleh rangsangan yg diberikan Reza terhadap bagian-bagian sensitif tubuhnya. Desahan demi desahan mulai terdengar dari mulut Vina ketika Reza mulai memainkan lidahnya dan membuat beberapa cupangan di permukaan payudara montoknya. Kemudian bibir Reza kembali beralih ke bibir Vina. Kini keduanya saling melumat dan mulai saling memainkan lidah mereka di dalam mulut. Berbarengan dengan pagutan mereka yg semakin panas, kedua payudara Vina terus merasakan remasan-remasan tangan Reza secara bergiliran.
Cukup lama kedua remaja itu melakukan french kiss, sebelum akhirnya kedua tangan Reza mulai beralih mengincar kaitan sabuk dan resleting rok abu-abu Vina. Reza terlihat cukup cekapan sehingga tak perlu waktu lama baginya untuk menurunkan rok pendek itu melewati kedua kaki sang kekasih. Setelah laki-laki itu melemparkan rok abu-abu ke atas kursi, maka kini praktis tubuh Vina hanya tertutupi oleh celana dalam mini berwarna putih.
“Ini yg aku beliin ya?”.
Vina hanya mengangguk malu.
“So sexy, nanti aku beliin lagi deh”.
“Aaahh…”, sang gadis mendesah kecil ketika jari-jari tangan Reza mulai menari-nari dipermukaan celana dalamnya, tepat di bagian klitorisnya.

Kain mungil itu memang nampak sama sekali tdk menutupi apa-apa. Selain karena bahannya yg tipis menerawang, celah-celah rendanya juga semakin membuat apa yg ada di baliknya menjadi begitu jelas terlihat. Reza menatap dengan penuh nafsu bagian tubuh Vina yg paling menjadi favoritnya itu. Sekilas kembali terbayg dalam memorinya ketika ia pertama kali merobek pelindung tipis lubang kenikmatan tersebut beberapa bulan yg lalu. Dari celana pendek yg dikenakannya kini terlihat sebuah tonjolan tegak, menandakan bagaimana dasyatnya birahi yg sedang melandanya kini.
“Rez, pintu kamarnya di kunci dulu dong”, bisik Vina ketika sang kekasih hendak kembali menindih tubuhnya.
“Oya, hampir lupa”.

Reza melompat dari atas ranjang dan bergegas mengunci pintu kamarnya. Bersyukur Vina mengingatkannya, karena memang terkadang teman-teman kostnya kerap kali suka masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk pintu. Begitu selesai mengunci pintu dan memastikan korden jendela tertutup rapat, ia beranjak menuju radio tape yg berada di atas meja. Reza menghidupkannya dan menyetel suara radio agak kencang. Sebuah ide yg brilian sebagai kamuflase suara-suara desahan atau teriakan yg mungkin akan segera memenuhi kamarnya nanti.
Setelah itu dengan tergesa-gesa Reza langsung melepaskan celana pendeknya. Rupaya dibaliknya ia tdk mengenakan celana dalam sehingga begitu celana itu terlepas batang tumpul miliknya langsung mengacung tegak. Dengan penuh nafsu laki-laki itu langsung bergegas naik kembali ke atas ranjang dan menindih tubuh kekasihnya. Kini kembali tubuh sintal itu terlihat dihujani dengan ciuman, jilatan dan rabaan.
“Aaahh… pelan-pelan Rez… sakit…”, desah Vina.
Reza nampak dengan penuh nafsu mengulum, menjilat dan menggigit permukaan payudara Vina, sambil terus meremas-remasnya kencang. Payudara gadis cantik itu memang tdklah terlalu besar hanya berukuran 34 A, namun bentuknya yg sempurna, padat dan kenyal membuat Reza begitu tergila-gila untuk bisa menikmatinya setiap kali ada kesempatan. Kini ciuman Reza terus turun menuju perut ramping sang kekasih. Disana ia sempat memainkan ujung lidahnya di bagian pusar sehingga membuat si gadis bergelinjang geli.
“Aaah…”.
Kemudian kembali ciuman itu turun berlahan menuju kedua paha mulus Vina dan berakhir di selangkangannya. Reza sempat melihat sebercak noda basah di celana dalam kekasihnya yg menandakan kalau usahanya tdklah sia-sia. Laki-laki muda itu lalu membuka kain mungil itu sehingga kini bagian sensitif itu pun terekspos dengan bebas.
“Ah… cantik sekali… benar-benar indah!”, Reza tersenyum melihat kini kekasihnya terbaring dalam keadaan polos dan dengan kedua kaki tertekuk dan mengangkang lebar.
Sambil bersimpuh, sorot mata laki-laki itu begitu tajam menatap ke arah memek Vina dengan penuh nafsu. Sebuah memek gadis muda yg begitu mempesona yg tertutupi oleh bulu-bulu hitam halus.
Vina kembali hanya bisa tersipu malu. Walaupun ini bukanlah kali pertamanya ia telanjang di depan kekasihnya, namun sebagai wanita ia tetap saja merasa risih apabila ditatap dalam keadaan polos seperti saat ini.
“Udah ah… malu tau diliatin gitu!”, Vina langsung merapatkan kedua pahanya.
“Lo kok kakinya ditutup sih?”.

Vina langsung bangkit dari posisinya dan menjulurkan lidahnya.
“Week… biarin hehehe”.
“Ih bandel ya? Ayo dong dibuka lagi”, Reza memegang kedua lutut gadis cantik itu.
“Nggak mau…”, Vina tersenyum menggoda kekasihnya.
“Ayo dong sayang please… dibuka ya…”.
“Emang kalo aku buka, aku dapet apa?”.
“Dapet yg enak dong hehehe”.
“Ah? Maksudnya?”.
“Maksudnya kayak gini nih…”.

Vina terkejut ketika dengan cepat Reza membentangkan kedua kakinya lebar dan langsung membenamkan kepala ke selangkangannya. Beberapa detik kemudian rasa geli sekaligus nikmat langsung menyerang sekujur tubuh Vina ketika lidah Reza dengan nakal mulai menyapu permukaan memeknya.
“Rez… geli ah…”, Vina bergelinjang hebat di atas ranjang ketika lidah sang kekasih semakin liar menjilati kewanitaannya.
“Rez… aaahh…”. Vina pun tdk kuat lagi menahan posisi duduknya dan langsung ambruk di ranjang dan kembali terlentang.
“Srruup… ssrrupp… ssruuup…”, suara decakan mulai terdengar ketika Reza menghisap cairan kewanitaan Vina yg mulai membanjir keluar.

Bulu-bulu lembut di sekitar wilayah selangkangan terkadang menggelitik hidung Reza ketika ia mengoral memek kekasihnya tersebut. Namun aroma khas kewanitaan Vina membuat laki-laki itu kian bernafsu melahapnya. Bahkan kini lidah Reza mulai menusuk-nusuk masuk ke dalam lubang memek Vina, seolah-olah memberikan pemanasan kepada sang gadis sebelum batang miliknya melaksanakan tugas utama.
“Oohh…”, Vina nampak memejamkan matanya sementara kedua tangannya memegangi kepala Reza.
Gadis itu agak mengangkat pantatnya agar lidah Reza dapat menusuk semakin dalam.
“Aaahh…”, kembali gadis cantik mendesah, namun kali ini terdengar agak keras.
Beruntung suara lagu yg mengalun dari radio mampu menutupi suara-suara desahan Vina.
Ketika kedua remaja itu semakin terbuai oleh nafsu birahi mereka tiba-tiba saja…
“Tok… tok… tok…”.
Terdengar suara ketukan dari balik pintu kamar. Mendengar itu Reza langsung menarik kepalanya dari selangkangan kekasihnya. Sedangkan Vina sendiri langsung menarik selimut guna menutupi tubuh telanjangnya.
“Tok… tok… tok…”, kembali suara ketukan terdengar.
“Rez… lu di dalem nggak? Ni gue Roni nih…”.
“Iya bentar!”, Reza bergegas turun dari atas ranjang.

Laki-laki itu menyambar baju kaos dan celana pendeknya dan langsung memakainya kembali. Reza kemudian memberikan isyarat agar Vina berpura-pura tidur. Vina pun mengerti. Ia lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut dan berbaring membelakangi pintu. Selesai memakai pakaiannya, Reza menyambar handuk dari gantungan di pintu dan menggunakannya menutupi pakaian seragam Vina yg tergeletak di kursi. Tentunya ia tdk ingin temannya yg kini berada di balik pintu melihat seragam tersebut dan mengetahui kalau kekasihnya kini dalam keadaan bugil.
“Rez…!!”.
“Bentar Ron…”.

Setelah sekali lagi memastikan kalau semua telah beres, Reza kemudian membuka pintu kamarnya. Sengaja ia tdk membuka pintu itu seluruhnya agar Vina yg kini sedang berbaring tdk terlihat. Di depan pintu kini berdiri seorang laki-laki jangkung seumuran Reza. Rambutnya gondrong dan terlihat santai dengan memakai pakaian kaos dan celana pendek jeans. Dari style-nya terlihat sekali kalau ia juga seorang mahasiswa.
“Lama amat sih lu bukanya bro?”.
“Iya tadi lagi sibuk dikit, ada apa nih Ron?”.
“Gue mau pinjem mobil lu dong pake gue ngambil sound system bareng Yudi”.
“Bukannya lu bilang mau ngambilnya ntar malem?”.
“Maunya sih gitu, tapi temen-temen lain mau make dulu buat check sound jadi minta diambil cepetan”.
“O gitu, ya udah tunggu bentar ya”.

Reza masuk kembali ke dalam kamarnya. Tanpa disadarinya, Roni ikut masuk ke dalam dan melihat Vina yg terbaring di atas ranjang.
“Wih ada cewek nih bro?”.
“Vina tuh…”, Reza buru-buru mengambil kunci mobilnya dari saku celana jeans yg tergantung di gantungan pakaian, sebelum sahabatnya ini lanjut bertanya macam-macam lagi.
“Lu apain tuh cewek lu ampe pingsan gitu? Hehehe”, tatapan mesum terpancar dari mata Roni melihat tubuh Vina yg tergolek di ranjang.

Mau tdk mau Roni harus mengakui kalau dirinya tertarik melihat pacar sahabatnya itu sejak mereka berkenalan. Ia cukup iri karena Reza bisa begitu beruntung mendapatkan pacar secantik dan semolek Vina. Namun tentunya perasaan itu harus ia pendam karena bagaimanapun juga Vina sudah merupakan milik dari sahabat baiknya tersebut.
“Dia numpang tidur, katanya ntar sore ada pelajaran tambahan di sekolah”.
“O gitu…”, Roni hanya berkomentar singkat. Sekilas ia melirik ke arah bawah kursi di samping ranjang.

Disana ia melihat sebuah kain mungil berwarna putih. Rupanya saat menaruh handuk tadi Reza tdk menyadari kalau celana dalam Vina terjatuh. Fantasi nakal otak Roni langsung berkomplikasi dengan daerah selangkangannya. Di dalam otaknya langsung terbayg bagaimana panasnya suasana kamar tadi sebelum kedatangannya. “Cleguuk…!”, Rino menelan ludah.
“Eh nih kuncinya”.
“Oh iya, thanks ya bro”, Rino langsung tersadar dari kilasan birahi yg tadi memenuhi otaknya.
“Ada lagi?”, Reza bertanya karena melihat Rino masih belum juga beranjak keluar.
“U… udah bro, i… ini aja”, Rino agak tergagap setelah sekejap tadi sempat melirik kembali ke arah Vina. “Lu nggak ikut nih?”.
“Nggak ah lu ama Yudi aja, ntar gue ikut gabung waktu check sound, gue nungguin Vina dulu balik ke sekolah”.
“Ok deh, kalo gitu gue cabut dulu ya bro”.

Reza hanya mengangguk.
Sebelum beranjak Roni kembali menyempatkan diri melirik ke arah Vina.
“Deam… you’re so lucky Rez, I wish I can taste your girlfriend just once, I’ll be the happiest man in the world!”, teriak kata hati Roni.
Setelah mengantarkan Roni menuruni tangga dan memastikan kalau sahabatnya itu telah benar-benar pergi, Reza kembali masuk ke dalam kamar. Ia menutup pintu dan menguncinya, kemudian berjalan pelan mendekati ranjang.
“Vin, Roni udah pergi tuh”, Reza menggoyg-goyg tubuh kekasihnya.
Vina pun kemudian membalikkan tubuhnya. “Jam berapa sih ni Rez?”.
“Jam setengah tiga kurang, kenapa?”.
Vina bangun dan duduk di atas ranjang. “Aku balik ke sekolah aja ya…”.
“Jangan dong, lanjut dulu yg tadi yuk”.
“Nggak ah, ntar temenmu dateng lagi, aku kan malu telanjang gini”.
“Bentar aja ya, janji nggak lama kok”, Reza memeluk tubuh Vina dan mengelus-elus rambut kekasihnya itu dengan lembut.

Kembali Vina tdk bisa menolak ketika Reza kemudian mengangkat dagunya dan mencium bibirnya. Semula Vina hanya pasif menerima pagutan bibir Reza, namun lama-lama gairah birahi gadis cantik itu pun kembali bangkit. Kini kedua remaja itu kembali saling berpagutan panas sambil memainkan lidah mereka.
“Vin, tolong ya…”, usai berciuman Reza melirik ke arah selangkangan yg kini sedang ia raba-raba. Dengan kata-kata lembut ia rupanya meminta kekasihnya untuk melakukan oral.
Vina yg mengerti maksud kekasihnya itu hanya mengangguk. Reza kemudian turun dari ranjang dan membuka kaos serta celana pendeknya. Tak lama laki-laki itu sudah berdiri dalam keadaan telanjang sambil mengacungkan batang k0ntolnya. Vina membuka selimut yg tadi menutup tubuhnya dan mengambil posisi duduk bersimpuh di atas ranjang. Gadis cantik itu kemudian memegang batang k0ntol kekasihnya yg nampak belum cukup tegang. Dikocok-kocoknya batang itu dengan menggunakan jari-jarinya yg lentik. Reza tersenyum ke arah Vina yg juga dibalas oleh senyuman olehnya. Lalu dengan berlahan Vina memasukkan batang k0ntol Reza ke dalam mulutnya.
“Ooohh…”, Reza melenguh panjang ketika Vina mulai mengoral k0ntolnya.
Sambil sedikit memejamkan matanya, Reza membelai rambut panjang kekasihnya yg sedang memberikannya pelayanan oral. Gesekan permukaan bibir lembut Vina yg bersentuhan dengan permukaan urat-urat batang k0ntolnya menimbulkan sensasi penuh kenikmatan dalam diri Reza.
“Enak?”, tanya Vina yg sejenak menghentikan kulumannya guna mengambil nafas.
“Terus say… terus… eenaak banget…”, Reza kembali tersenyum.

Vina pun kemudian melanjutkan kembali pelayanannya. Tanpa disadari gadis cantik itu, tangan kanannya mulai merabai sendiri permukaan memeknya. Batang k0ntol Reza yg mulai terasa samakin membesar dan menegang di dalam mulutnya menimbulkan gejolak bagi simpul-simpul syaraf dalam memeknya. Cairan kenikmatan kembali mengalir keluar dari lubang kenikmatan miliknya. Memeknya mulai terasa berdenyut-denyut hebat menantikan saat-saat sang kekasih memberikannya hidangan utama dari permainan cinta mereka ini.
“Cukup Vin, cukup…”.
Berlahan Reza menarik kepala Vina dari selangkangannya. Kemudian laki-laki muda itu membaringkan tubuh kekasihnya di ranjang. Setelah kembali naik ke atas ranjang, berlahan Reza mengangkat kedua kaki gadis cantik itu dan menekuknya untuk kemudian membukanya lebar. Kini kembalilah terpampang memek indah dan basah milik sang kekasih.
“Masukin ya?”.
“Nggak ada kondom Rez?”.
“Nggak ada nih, nggak usah make aja ya?”, Reza memelas.

Setelah membisu beberapa detik, Vina akhirnya menganggukan kepalanya. “Tapi hati-hati ya…”. Kemudian ia memejamkan matanya. Inilah saat-saat yg sudah dinantikannya. Agaknya nafsu yg kian membumbung tinggi membuat Vina berani mengambil resiko untuk bercinta tanpa pelindung. Gadis cantik itu pun kini bisa merasakan ujung k0ntol Reza mulai mengusap-usap permukaan memeknya.
“Aaakkh…”, Vina mendesah panjang ketika batang k0ntol itu akhirnya menghujam ke dalam lubang kenikmatan miliknya.
Cukup lama juga k0ntol itu berada di dalam memek Vina. Nampaknya si pemilik batang ingin menikmati dulu sensasi kuatnya jepitan dinding memek sang gadis. Akhirnya setelah beberapa saat k0ntol itu pun mulai mengocok memek sang gadis cantik.
“Aaaah… oooh… aaaahh…”, desahan demi desahan mulai keluar dari mulut kedua remaja itu, seiring semakin intensnya genjotan yg dilakukan oleh Reza.
Beberapa hari berpuasa akibat jarangnya waktu pertemuan membuat sensasi percintaan mereka kali ini terasa begitu nikmat. Vina merasakan kembali sensasi nikmat ketika ia diperawani beberapa bulan lalu di tempat yg sama, sedangkan Reza merasakan jepitan luar biasa dari sebuah lubang kenikmatan yg sudah lama tdk dimasukinya ini. Vina semakin memperlebar jarak kedua kakinya agar Reza dapat semakin dalam menghujamkan k0ntolnya.
“Aaaah… oooh… aaaahh…”.
“Aaaah… oooh… aaaahh…”.

Suara desahan terus terdengar berbarengan dengan suara penyiar yg terdengar dari radio tape diatas meja. Keduanya terlihat dilanda birahi yg luar biasa. Kedua remaja itu begitu menikmati percintaan mereka dan terlihat sangat ingin memuaskan pasangan mereka masing-masing. Baik Vina maupun Reza terlihat begitu bernafsu untuk merengkuh kenikmatan setinggi-tingginya semampunya. Mereka sadar waktu terus berjalan dan semakin mepet sehingga setiap momen harus mereka nikmati betul, sehingga di ujung nanti semuanya akan berakhir sempurna.
Merasa kocokan k0ntolnya belum cukup dalam, Reza mengambil bantal dan menjadikannya sandaran untuk pantat Vina. Dengan ganjalan bantal tersebut, pantat Vina menjadi terangkat sehingga akses masuk ke dalam memeknya menjadi lebih luas. Apalagi kemudian Reza mengangkat kedua kaki kekasihnya tersebut ke atas bahunya dan menekan dadanya sehingga menempel di paha gadis cantik tersebut, membuat kocokan k0ntolnya menjadi semakin dalam.
“Oooohh… Rez…!!”.
“Kenapa sayang? Sakit?”.
“Nggak, terus aja… terusin…”, Vina merancau karena kocokan k0ntol Reza semakin lama terasa semakin nikmat.

Ia seakan lupa kalau sebentar lagi ia harus kembali ke sekolah. Nafsu birahi yg meninggi membuat gadis cantik itu lupa diri dan melayg-layg penuh kenikmatan. Di awal tadi ia begitu takut dengan waktu yg sedemikian mepet, namun kini Vina begitu menikmati persetubuhan mereka ini sehingga tdk ingin semuanya berakhir dengan cepat.
Sambil menggenjoti kekasihnya, Reza terus menerus meremas-remas payudara Vina yg terlihat semakin menegang dengan puting yg mengacung tegak. Tubuh keduanya terguncang-guncang hebat, begitu pula dengan ranjang yg menopang tubuh telanjang mereka.
Cukup lama berada dalam posisi seperti itu, Reza akhirnya merubah posisi tubuh sang kekasih dan menggenjotinya dengan posisi doggie. Wajah Vina menempel di ranjang dengan mata terpejam. Kedua tangannya mencengkram sprei dengan kuat. Sedangkan Reza nampak semakin gencar melancarkan genjotannya. Kedua bongkahan pantat montot Vina langsung menjadi santapan kedua tangan Reza.
“Aaaah… oooh… aaaahh…”.
“Aaaah… oooh… aaaahh…”.

Desahan kembali terdengar dan semakin kencang. Kedua tubuh telanjang tersebut terlihat sudah bersimbah peluh. Memang kondisi kamar yg serba tertutup membuat suasana menjadi sedikit pengap. Ditambah lagi dengan gairah birani kedua remaja tersebut yg sedemikian panas sehingga membuat apa yg telah panas menjadi semakin panas.
“Oooh… nikmat banget Vin… enak banget…”, rancau Reza.
“Rez… aku mau dapet nih!”.
“Iya sayang, aku puasin kamu hari ini!”.

Reza semakin mengencangkan genjotan k0ntolnya.
“Jleep… Jleeep… Jlleep…!!”, suara decakan akibat pergesekan k0ntol Reza dengan memek Vina yg semakin membanjir menambah sensual suasana di kamar tersebut.
“Rez… aku keluar!!”.
“Tahan sayang, tahan bentar lagi…”.

Mendengar itu Reza mencengkram kuat pantat Vina dan semakin mempercepat genjotannya. Reza tahu kalau sebentar lagi ia juga akan mencapai puncak. K0ntolnya sudah mulai berkedut-kedut hebat di dalam memek Vina, namun ia mencoba menahannya karena masih ingin merasakan jepitan memek kekasihnya itu untuk beberapa saat lagi.
“Aaaah… Vina…”, Reza langsung mencabut batang k0ntolnya.
Begitu k0ntol itu tercabut, terdengar juga teriakan keluar dari mulut sang gadis.
“Aaakkkh…!!!”.
Suara teriakan keduanya terpantul di seluruh ruangan kamar. Tubuh Vina yg semula menungging langsung ambruk di atas ranjang dalam keadaan posisi tertelungkup. Sedangkan Reza mengocok- ngocok k0ntolnya dan beberapa detik kemudian cairan putih kental langsung menyembur hebat mengenai pantat dan punggung Vina. Setelah beberapa kali semburan, tubuh Reza pun ikut ambruk di samping tubuh kekasihnya. Tubuh keduanya nampak menegang dan nafas mereka terdengar menderu kencang.
Beberapa menit kemudian, setelah kedua remaja itu mulai terlihat tenang Reza menggulingkan tubuhnya dan memeluk sang kekasih. Sebuah ciuman mendarat di rambut dan pundak Vina.
“Makasi ya sayang…”.
“Iya…”, suara Vina terdengar lemah. Agaknya ia masih terbelenggu di dalam birahi yg mungkin masih sedikit tersisa.

Reza kemudian membalikkan tubuh Vina sehingga mereka dapat saling berhadapan. Ciuman lalu mendarat di bibir mungil gadis cantik tersebut. Untuk beberapa saat mereka berdua saling berpagutan dan diakhiri dengan sebuah pelukan yg hangat. Hangatnya gelora cinta sepasang remaja begitu terpancar dari diri keduanya saat ini.
“Ooh… Rez aku harus balik ke sekolah”, teriakan Vina memecah kebisuan antara mereka.
Gadis cantik itu langsung beranjak turun dari atas ranjang dan berlari menuju kamar mandi. Tanpa menutup pintu kamar mandi, karena memang merasa tdk perlu, Vina mulai membersihkan tubuhnya dari ceceran sperma Reza dengan shower. Selain itu ia juga menggosok memeknya dan juga kedua payudaranya dengan sabun, sebelum ia membasuhnya. Setelah selesai membasuh sekujur tubuhnya serta wajah cantiknya, Vina baru menyadari kalau Reza berdiri di depan pintu kamar mandi. Entah berapa lama ia telah berdiri disana.
“Rez kamu ngapain?”, Vina sedikit heran melihat Reza yg berdiri dan masih dalam keadaan telanjang sambil memegang ponselnya.
“Buat kenang-kenangan nih hehehe…”.
“Aduh… jangan direkam dong!”, Vina berusaha menutupi tubuh telanjangnya dengan tangan.

Namun karena ia hanya bisa menggunakan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya sedang memegangi gagang shower, usahanya itu pun nampak sia-sia belaka.
Dengan usilnya Reza tetap merekam tubuh telanjang kekasihnya itu, walaupun Vina sudah memintanya untuk menghentikan perbuatannya. “Dikit lagi say”.
“Udah ah Rez, aku nggak suka tau, matiin…!”, Vina berlari ke arah Reza dan berusaha merebut ponsel itu dari tangan kekasihnya.
“Iya iya, nih aku matiin…”, Reza berusaha berkelit agar ponselnya itu tdk sampai berpindah tangan.
“Hapus…!!”, gadis cantik itu merengek.
“Iya ntar aku hapus deh, udah lanjutin mandinya gih…”, Reza tersenyum.

Dengan wajah cemberut menahan kesal, Vina pun kembali masuk kembali ke dalam kamar mandi. Kali ini ia menutup pintu dan menguncinya. Tak lama kemudian pintu itu kembali terbuka dan wajah cantiknya muncul dari balik pintu.
“Rez, pinjem handuk dong!”, teriak Vina.
Tak lama Reza muncul sambil menyodorkan handuk miliknya.
“Udah dihapus belum?”, rupanya Vina masih kesal dengan ulah usil kekasihnya yg merekam tubuh telanjangnya menggunakan ponsel.
“Udah kok sayang, jangan cemberut gitu dong hehehe”.
“Ambilin seragam ama dalemanku dong sekalian”.
“Lo kok nggak dipake diluar aja?”.
“Nggak, ntar kamu usil lagi main rekam-rekam”, wajah Vina masih memancarkan kekesalan.
“Hehehe masih marah nih ceritanya? Iya deh tuan puteri, hamba akan mengambilkan pakaian tuan puteri”.

Reza beranjak dan menuju kursi tempat ia meletakkan pakaian seragam dan juga daleman kekasihnya. Kemudian ia menyerahkan pakaian-pakaian tersebut kepada Vina. Setelah mengambil seluruh pakaiannya, gadis cantik itu langsung melengos dan menutup pintu. Reza kembali hanya bisa menggeleng-geleng melihat tingkah kekasihnya.
Beberapa menit berlalu, Reza yg sudah kembali mengenakan celana pendek dan kaosnya kini nampak duduk bersandar di ujung ranjang. Suara radio tape yg tadi memenuhi ruangan, kini sudah tdk terdengar lagi. Tak lama pintu kamar mandi terbuka dan keluarlah Vina yg sudah lengkap mengenakan pakaian seragamnya. Gadis cantik itu lalu mengambil sisir milik Reza dan merapikan rambutnya di depan kaca. Tiba-tiba sebuah pelukan mendekap tubuhnya dari belakang dan disambung dengan sebuah ciuman di pipinya.
“Masih kesel?”, tanya Reza.
Vina hanya menggelengkan kepalanya. Keduanya nampak saling berpandangan melalui pantulan cermin.
“Kalo udah nggak kesel, senyum dong”.
Vina tersenyum kecil.
“Kok gitu senyumnya? Yg manis dong”, sebuah ciuman kembali mendarat di pipi Vina.
Kali ini Vina tersenyum agak lebar. Senyuman kali ini memang terlihat lebih manis daripada senyumannya semula.
“Nah gitu dong kan cantik hehehe…”.
“Aku balik dulu ya”.
“Iya deh, aku anterin sampai depan ya?”.

Selesai mengenakan kembali sepatunya, Vina dan Reza berjalan keluar dari kamar dan mulai menuruni tangga. Kini suasana kos-kosan terlihat begitu lengang. Mungkin beberapa dari anak-anak kos sedang berada di dalam kamar atau mungkin sedang keluar.
“Tas kamu mana?”, keduanya kini nampak berdiri di samping mobil milik Vina.
“Tuh di dalem mobil”.
“O gitu, ya udah kalo gitu hati-hati ya sayang”, Reza memeluk tubuh Vina dan kembali mendaratkan sebuah ciuman di bibir sang kekasih.
“Iya, by the way ntar mandi lagi ya bau tuh hehehe”.
“Baik tuan puteri”, Reza tersenyum simpul.

Vina pun kemudian masuk ke dalam mobil. Beberapa saat setelah memutar mobilnya, Vina melambai ke arah sang kekasih dan mobil hitam itu pun langsung melaju keluar dari areal kos-kosan tersebut.
“Eh ngapain aja lu Vin? Lama bener nyampenya?”, Rika langsung menyemprot ketika sahabatnya tersebut telah berdiri dihadapannya sambil ngos-ngosan.
Saat itu Rika terlihat sedang duduk disamping seorang gadis dan seorang pemuda di depan kelas mereka.
“Aduh takut banget nih gue, kirain kelas udah mulai”, nafas Vina masih terlihat terengah-engah. Gadis cantik itu sampai harus menarik nafas panjang sebelum ia bisa mengeluarkan suara.
“Udah anterin gue pipis yuk, kasihan nih mereka berdua sedeng pacaran gue gangguin dari tadi hehehe”, Rika langsung menarik tangan Vina dan meninggalkan sepasang remaja tadi.
Belum sempat menaruh tasnya di dalam kelas, Vina dengan terpaksa mengikuti Rika yg menariknya. Sambil berjalan, Rika mengendus-ngendus ke arah Vina.
“Ngapain lu?”.
“Nggak apa-apa, abis kok tiba-tiba gue nyium bau pejuh ya? Hahaha”.

Vina langsung memukul pundak sahabatnya tersebut.
“Apaan sih lu? Basi tau nggak?”.
Rika hanya cengengesan mendengar protes sahabatnya tersebut.
Ketika hampir sampai di depan toilet tiba-tiba terdengar suara ringtone ponsel. Rika langsung menarik ponselnya dari dalam saku roknya. Sejenak ia melihat nomor yg tertera di layar ponselnya. Ekspresi wajah Rika langsung terlihat berubah. Walau ia tdk mendaftarkan nomor tersebut di dalam memori ponselnya, namun ia tahu kalau nomor itu adalah milik Om Herdi.
“Tunggu bentar ya Vin”, Rika langsung beranjak menjauh dari sahabatnya itu.
Vina hanya bisa memandang heran ke arah Rika.
“Halo…”.
“Halo… dengan Rika ya?”, terdengar suara laki-laki dari seberang telepon.
“Iya…”, Rika menyahut ragu.
“Ini Om Herdi Rik, masih inget kan? Hehehe”.
“Oh Om Herdi, ada apa ya Om?”, Rika pura-pura tdk tahu.
“Gini Rik, Om mau ketemu kamu lagi nih besok, kamu ada waktu?”.
“Besok ya Om?”.
“Iya besok sore atau malam, pulang kamu dari sekolah, bagaimana?”.
“Hhhmm… gimana ya Om?”, Rika nampak ragu memberikan jawaban.

Sebenarnya gadis cantik itu tdk ingin lagi bertemu dengan Om Herdi, laki-laki yg pernah mem-booking-nya beberapa hari yg lalu. Namun sisi liarnya, seakan-akan terus mendorong dirinya untuk menerima ajakan Om Herdi tersebut.
“Bagaimana, bisa?”
Rika masih belum bisa memberikan jawaban. Berbagai perasaan langsung bergejolak dalam dirinya saat ini.
“Rik? Kamu masih disana?”, kembali terdengar suara dari Om Herdi.
“Eh, masih… masih Om”.
“Ayo dong dijawab, kamu bisa apa nggak?”.
“Hhhmm… liat besok aja deh ya Om, soalnya Rika nggak tau juga apa bakal dapet pelajaran tambahan lagi apa nggak besok sore”.
“O gitu ya? Ok deh kalau gitu besok siang Om hubungi kamu lagi ya?”.
“I… Iya deh Om”.

Percakapan pun berakhir. Rika kemudian terlihat terpaku dengan pandangan kosong untuk beberapa menit. Ia seakan masih tdk percaya kalau Om Herdi benar-benar menghubunginya lagi, padahal ia berharap kalau kejadian kemarin tdklah sampai berlanjut.
“Eh, kenapa lu? Kok jadi bengong?”.
Tepukan Vina di pundak Rika, langsung menyadarkan gadis cantik itu dari lamunannya.
“Oh, nggak apa-apa kok”.
“Sapa tuh yg nelpon?”.
“Nggak tau, salah sambung tuh”, Rika berbohong.

Vina mengerutkan dahinya melihat tingkah aneh dari sahabatnya ini.
“Masuk ke kelas yuk!”.
“Loh? Lu nggak jadi pipis?”.
“Nggak ah, udah nggak pengen lagi”.

Vina pun dengan terpaksa harus kembali berjalan mengikuti Rika yg menarik tangannya menuju ke kelas. Jelas sekali masih tersimpan tanda tanya di dalam hati Vina melihat tingkah sahabatnya. Namun hati yg paling bergejolak saat ini jelas-lah hati Rika. Hampir sepanjang jam pelajaran ia tdk berkonsentrasi mengikuti apa yg disampaikan oleh Pak Santoso, guru matematikanya.
Pikirannya terus melayg membaygkan percakapannya dengan Om Herdi tadi. Sungguh sebuah perasaan yg jelas tdk menyenangkan. Namun sampai dengan esok hari, ia tentu masih memiliki waktu banyak untuk memikirkan masak-masak jawaban apa yg akan diberikannya untuk Om Herdi. Ia hanya berharap semoga besok ia memiliki kekuatan menolak bisikan jahat dari sisi liarnya yg terus menerus mendorongnya untuk kembali menjual diri. 

No comments:

Post a Comment